TIga minggu berjalan dinamis setelah musyawarah panjang waktu itu. Noza kembali ke pesantren, tetapi dengan banyak pikiran. Sampai perempuan itu dinyatakan tidak sehat dan dilarikan ke rumah sakit.
Kabar itu lansung terdengar oleh bu Maryam. Cukup kaget dengan pemberitahuan pihak pesantren yang mengatakan Noza dirawat dirumah sakit.
"Darah kamu tinggi, Hb rendah, jaga kesehatan Noza, kelola stress dengan baik. Kamu harus kuat demi janinmu." Jelas Raga yang siang itu menjenguknya ditempat ia bertugas.
"Aku sudah berusaha, tapi yang namanya manusia pasti kepikiran." Jawab Noza mencoba tenang.
Akhir-akhir ini Noza sering melihat Lintang berkeliaran di pondok. Walaupun tidak jelas alasannya disana, Noza merasa malah tak tenang dan seakan merasa pria itu mengikuti dirinya.
Kedatangan bu Lisa dan juga bu Maryam seperti obat bagi Noza. Dia langsung terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Sebaiknya setelah dari rumah sakit, kamu tinggal di rumah dulu saja, nak, kamu butuh perhatian lebih." Bujuk bu Lisa.
Dirumah itu Noza lebih tidak nyaman. Entahlah, dia dihantui sosok suaminya yang membuatnya semakin tidak betah.
Pelukan hangat bu Maryam menawarkan sesak batin Noza yang selama ini dipendam.
"Ada apa, nak? Katakan pada ibu, aoa yang kamu pikirkan sampai kondisimu drop begini?"
"Bu, Noza ingin pulang, bisa nggak ibu bawa Noza pulang. Noza capek bu." Pinta Noza merasa lelah.
"Iya, kita akan pulang nanti, tenangkan dirimu, kasihan bayi kamu, nak." Ucap bu Maryam menenangkan.
"Mama pulang dulu Za, semoga lekas sehat." Ucap bu Lisa mengusap perut menantunya dengan lembut.
"Iya, terimakasih ma sudah datang." Jawab Noza.
"Kamu istirahat saja, ibu disini." Bu Maryam mendampingi.
Moza mengangguk, tidur dalam genggaman tangan ibunya. Melihat Noza yang lelap, bu Maryam pun beranjak sejenak untuk mengisi perutnya.
Tak terduga sore itu Noza kedatangan Lintang yang sama sekali tidak Noza harapkan kehadirannya. Terlihat diruangan itu sedang tidak ada yang menemani. Sepertinya bu Maryam sedang keluar.
"Bagaimana keadaanmu, Za? Kenapa bisa sampai sakit begini? Kubilang juga apa, lebih nyaman dirumah." Tanya Lintang setengah protes.
"Lebih baik saat tidak melihatmu sama sekali." Jawab Noza dingin.
"Jangan seperti itu, maaf jika kehadiranku membuat kamu tidak nyaman." Ucap Lintang semabari menaruh buah yang dibawanya.
Ibu kemana ya, kenapa lama sekali keluarnya.
Noza merasa tidak tenang sepanjang pria itu ada diruangannya. Noza meraih ponselnya di nakas untuk menghubungi ibunya agar cepat kembali.
"Aku mengkhawatirkan kesehatanmu, apakah anak itu akan baik-baik saja?" Tanya Lintang serius berdiri tepat di samping ranjang.
"Dia akan selalu baik-baik saja, bisa tidak kalau kamu pulang sekarang." Usir Noza tidak nayman akan kehadiran Lintang.
"Aku hanya sebentar, aku juga berhak tahu kondisi dan kesehatan calon anakku. Aku juga membawa banyak buah-buahan kesukaanmu."
"Berhenti berbuat baik padaku Lintang, aku tahu yang kamu inginkan." Ucap Noza menatap marah.
Noza mendadak turun dari ranjang, memilih untuk keluar karena Lintang tidak ingin keluar sama sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hanya sembilan bulan
General FictionAku bernama Nozafitri Utami yang sering di panggil Noza. Kehidupan Normal yang aku jalani harus menjadi jungkir balik karena mendapatkan pelecehan dari seorang pria yang aku segani dan hormati. Banyak mimpi dan tujuan yang aku layangkan tinggi seaka...
