Pagi ini Noza tengah menikmati sarapannya di warung makan dekat kampusnya. Perutnya butuh diisi, apalagi ada bayi yang butuh asupan juga.
"Geser kak, boleh duduk disini kan?" Tanya seorang pria sembari meneteng piring berisi makanan.
Noza mengangguk, lalu menggeser tubuhnya. Ia tetap fokus menghabiskan isi piringnya tanpa mempedulikan orang sekitarnya.
"Aku lihat kakak sering makan disini? Kost disekitar sini ya?" Tanya pria itu berbasa-basi.
Noza mulai tidak nyaman ketika pria tidak dikenalnya itu mulai terus mengajaknya bicara. Terlebih menanyakan banyak hal random yang menurutnya tidak penting.
"Kak, boleh minta nomor WAnya nggak?" Pinta pria itu tiba-tiba.
"Maaf, saya sudah selesai, duluan, mas." Pamit Noza bangkit dari kursi.
Saat hendak melakukan pembayaran, Noza kaget kalau sarapannya sudah dibayar oleh seseorang.
"Siapa buk?" Tanya Noza bingung.
"Mas yang duduk disamping mbaknya itu loh." Tunjuk ibu penjaga warung.
Noza tertegun, dia siapa? Tanpa sadar netra keduanya saling bersua. Pria itu mengangguk ramah. Noza balas tersenyum lalu terpaksa mendekat.
"Terimakasih mas, berapa? Biar saya ganti." Tanya Noza bukannya tidak menghargai.
"Hanya sekedar sarapan mbak, kupikir tidak masalah. Ibumu orang baik, jadi kalau hari ini aku balas sedikit tidak ada apa-apanya." Jawab pria itu menyebut ibunya.
Mungkin bu Maryam mengenalnya dan telah berbuat baik pada pemuda itu. Sepanjang berjalan kaki ke kampus. Noza kepikiran pria baik tadi. Mungkin ia akan menanyakan langsung nanti pada ibunya setelah sampai dirumah.
Noza langsung menuju kelasnya yang nampak sudah ramai penghuni. Menunggu dosen memasuki ruangan.
"Pagi Ga!" Sapa Noza menyapa sahabatnya.
"Pagi ukhti cantik." Sahut Mega tersenyum lebar.
"Za, nanti pulang ngampus nemenin gue ya?" Pinta Mega menghampiri Noza.
"Kemana Ga?" Tanya perempuan itu belum mengiyakan.
"Gue mau nyari kado buat seseorang, anterin ya." Ujar perempuan itu penuh harap.
"Harus nanti ya Ga? Masalahnya aku ada acara habis ini." Kata Noza bingung.
"Acara apaan beb, duh... nggak bisa ya?"
"Gimana kalau besok? InsyaAllah bisa nganter."
"Mau dipakai besok sayang. yaudah nggak apa-apa sendiri saja." Jawab Mega tak semangat.
"Sorry Ga, maaf banget ya. Beneran ada kepentingan setelah ini." Noza merasa tidak enak, karena hari ini jadwal check up kandungannya.
"Nggak apa-apa, nanti biar gue sendiri aja. Santai Za." Sahut Mega tak masalah.
***
Kelas berlalu, Noza dan Mega berjalan satu arah keluar dari gedung. Peremuan itu memang tidak membawa kendaraan jadi memutuskan menunggu angkot.
"Kamu nggak bawa motor?" Tanya Noza melihat Mega berjalan sampai gerbang.
"Nggak, ini nunggu angkot aja. Lo mau kemana? Sekalian bareng aja." Ujar Mega.
"Iya, bisa." Jawab Noza tak masalah.
Noza tengah membenahi sepatunya tapi seketika handphone didalam tasnya berdering. Membuat Mega yang didekatnya refleks membantu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hanya sembilan bulan
General FictionAku bernama Nozafitri Utami yang sering di panggil Noza. Kehidupan Normal yang aku jalani harus menjadi jungkir balik karena mendapatkan pelecehan dari seorang pria yang aku segani dan hormati. Banyak mimpi dan tujuan yang aku layangkan tinggi seaka...
