"Permisi!" Seru seseorang yang masuk kedalam ruang rawat Noza.
Noza yang saat itu tengah berkemas untuk pulang langsung menoleh ke sumber suara. Seorang perempuan cantik yang tak lain adalah kekasih suaminya. Begitupun bu Maryam yang tidak asing dengan muka gadis yang tiba-tiba datang keruangan itu lantaran pernah melihat video viral mereka.
"Hai, Za, bagaimana keadaanmu?" Sapa Anzel menatap keduanya.
Menit berikutnya, disusul Lintang yang masuk tanpa permisi. Membuat diantara orang-orang disana saling kaget dalam diam. Tamu tak diundang siang hari yang cukup mengejutkan.
"Anzel? Sedang apa kamu disini?" Tanya Lintang penuh selidik.
Tentu saja, kedatangan dua manusia tak terduga itu membuat ibu baru itu menatap curiga. Apakah benar suaminya itu akan mengambil Gafi?
"Jenguk Noza lah... kamu nggak lihat aku berbaik hati kesini?" Jawab Anzel datar.
"Hai Za, senang mendengar kabar kelahiran anakmu, selamat ya." Ucap ANzel tersenyum ramah.
"Terimakasih Zal." Jawab Noza seadanya.
"Ya ampun... anak ini lucu sekali. Siapa namanya? Eh, Gafi ya, iya tadi Lintang sudah kasih tahu." Ucap perempuan itu antusias sendiri.
"Ehem!" Bu Maryam langsung menyela pembahasan satu manusia yang terlihat menghebohkan ruangan itu.
"Terimakasih kedatangannya, nak Anzel, kebetulan kami sudah mau pulang." Jawab bu Maryam yang kurang nyaman dengan kedatangan kekasih menantunya itu.
"Kebetulah bu, kalau Noza dan byinya sudah boleh pulang. Itu artinya Gafi sehat-sehat saja kan? Sudah tidak sabar mengajaknya main." Kata perempuan itu seolah sesuatu yang biasa saja.
Noza semakin waspada menatapnya, sumpah demi apapun Noza tidak akan pernah memberikan Gafi diasuh orang lain sekalipun itu calon istrinya Lintang. Dia akan merawatnya sendiri.
"Maksud kamu apa? Jangan membuat statment yang bisa bikin aku marah." Ujar Lintang tak tenang.
"Sayang, sepertinya aku berubah pikiran, dia snagat lucu, aku langsung jatuh cinta dengan bayi itu. Ide kamu harus aku apresiasi, tolong secepatnya urus pengesahannya, bukankah kita akan mengurusnya bersama?" Ucap Anzel sinis, menatap seolah-olah itu benar-benar rencana mereka berdua.
"Maksud kamu apa, Tang? Jadi benar ide gila kamu, yang mau memisahkan Noza dengan anaknya? Ibu nggak nyangka kamu sejahat ini." Sela bu Maryam menatap kecewa.
"Tidak bu, Lintang tidak mungkin memisahkan Gafi yang masih kecil dengan ibunya." Sanggah Lintang cepat. Ia kelimpungan sendiri dengan perkataan Anzel.
Sementara Noza hanya diam sembari menggendong Gafi erat-erat. Netranya mengembun tangis menatap Lintang tak percaya. Dia tak mampu berkata apa-apa lagi selain rasa kecewa yang dalam.
"Kalian tidak berhak mengambilnya dariku, dia anakku, sapapun tidak ada yang bisa memisahkan kami." Seru Noza dengan suara bergetar.
"Zel, mending kamu pulang sekarang, kamu benar-benar sudah tidak terkontrol." Usir Lintang mencoba tenang.
"Sudah, jangan pikirkan apapun tentang mereka, ayo pulang!" Kata bu Maryam tak mau ikut campur urusan mereka.
"Iya buk." Jawab Noza mengangguk sembari menggendong Gafi lalu keluar dari ruangan.
Sementara Lintang langsung menarik Anzel agar tidak membuat keributan disana. Terlihat jelas mertuanya tidak suka dengan kehadiran Anzel.
"Lepasin Tang! Lepas!" Anzel meronta kesal.
"Kamu sduah tidak waras? Aku sudah bilang, tidak akan memisahkan Noza dengan Gafi. Mikir gak sih semua orang salah paham!" Sentak Lintang marah.
"Iya, aku memang setengah gila gara-gara kamu! Kenapa, sepertinya kamu takut sekali kalau itu benar-benar aku lakukan. Bukankah kalau aku mau menerima Gafi kamu mau memilih cinta kita. Aku udah berkorban sejauh ini masih kamu salahkan?" Anzel benar-benar mahir memutar balikan fakta.
"Anzel, aku minta maaf, ini bukan salah kamu, ini juga bukan salah Noza, dia hanya kor-" Lintang tak sanggup meneruskan aib dirinya yang bahkan rapat disembunyikan sampai sekarang.
Setelah menepi dan memberikan pengertia pada Anzel. Lintang langsung menyusul Noza yang saat ini hendak pulang. Pria itu berlari mengejarnya.
***
Sementara Lintang langsung bergegas mengejar Noza dan bu Maryam yang terus melangkah.
"Za, tunggu Za, kamu salah paham. Ayo aku antar pulang!" Seru Lintang menahan istrinya.
"Terimakasih mas, urus saja perempuanmu, tapi tolong jangan ambil Gafi. Mari kita urus perpisahan ini secara baik-baik. Aku tidak akan menjadi penghalang lagi diantara hubungan kalian," Ucap Noza tenang.
"Za, tadi tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bahkan akan mengurus Gafi bersamamu. Tolong dengerin dulu, kita harus bicara."
Lintang mendadak kacau. Rencananya memang sudah berubah, ia akan memantapkan hatinya semenjak Gafi lahir. Lintang semakin yakin Gafi dan ibunya lebih penting dan patut untuk diperjuangkan.
"Maaf nak Lintang, biarkan Noza pulang dulu. Kasihan dia berdiri terlalu lama." Tegur bu Maryam melihat Lintang menahan putrinya.
Lintang tecenung ditempat saat taksi yang membawa Gafi melaju. Perasaan bersalah langsung mendera hatinya. Untuk pertama kalinya Lintang begitu khawatir dengan perkataan Noza. Perpisahan? Tentu saja itu bukan yang Lintang harapkan saat ini.
"Kejar Tang, masih banyak kesempatan untuk meraih maafnya. Kalau kamu memang sungguh-sungguh, perjuangkan itu. Tapi kalau kamu setengah hati, apalagi hanya demi Gafi saja, semoga Noza masih bisa memaafkanmu." Ucap Raga tiba-tiba. Pria itu menepuk bahu Lintang pelan, lalu beranjak.
Lintang terdiam sendu beberapa detik, sebelum akhirnya seperti ada dorongan kecil untuk menyongsong kehidupannya nanti. Dia langsung menuju mobilnya, berusaha mengikuti taksi yang membawa anak dan istrinya. Dia semakin takut kalau benar perpisahan itu terjadi. Bayangan tidak bisa lagi dekat dengan Gafi seperti mimpi buruk baginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hanya sembilan bulan
General FictionAku bernama Nozafitri Utami yang sering di panggil Noza. Kehidupan Normal yang aku jalani harus menjadi jungkir balik karena mendapatkan pelecehan dari seorang pria yang aku segani dan hormati. Banyak mimpi dan tujuan yang aku layangkan tinggi seaka...
