"Kami akan coba memberikan suntikan pematangan paru dan organ lainnya, sebagai persiapan jika rahim ibunya tidak mampu lagi menahannya di dalam rahim."
"Tapi kita tetap harus berdoa agar si bayi bertahan di dalam rahim untuk waktu yg lebih lama"
............
"Ada....apa....dok?" Lirih mama Wendy mencoba menebak raut wajah gusar seorang dokter yg datang menemuinya.
Beberapa kali dokter itu menghela nafas berat sebelum pada akhirnya mulai berbicara.
"Jantung janin melemah" lirih sang dokter sontak membuat hati mama Wendy mencelos.
"Aku dokter jantung, tapi saat jantung cucuku melemah aku bahkan tidak bisa melakukan apapun untuknya"
"Operasi caesar...secepatnya" ucap sang dokter
"Lakukan dok, lakukan segera yg terbaik untuk mereka berdua!"
"Tapi kita butuh persetujuan keluarganya untuk melakukan operasi ini"
"Aku...aku yg akan menandatangani nya" tegas mama Wendy.
"Tidak bisa, hubunganmu dengan pasien tidak kuat secara hukum" ucap sang dokter yg juga rekan kerja mama Wendy yg sedikit banyak tau tentang cerita mama Wendy dengan Lisa.
"Jika sampai terjadi sesuatu dengan pasien, kita semua bisa dituntut secara hukum"
"Kalau aku bilang janin di perut pasien adalah cucuku, apa itu kuat secara hukum?" Lirih mama Wendy.
"Kalau begitu suruh ayahnya menandatangani surat peryataan ini!"
Bersamaan dengan langkah kaki mama Wendy keluar ruangan untuk menemui Jisung, saat itu pula team medis mempersiapkan Lisa untuk operasi Caesarnya.
Lisa sudah sadar, sudah bisa sedikit berbicara tapi dokter melarangnya untuk bergerak ataupun berbicara karna bisa merangsang janin luruh dari rahimnya.
"Apa ini....ma?" Lirih Jisung menatap beberapa lembar kertas di hadapannya yg disodorkan oleh mama Wendy.
"Caesar....Lisa harus segera melakukan operasi Caesar" jelas mama Wendy dengan suara yg nyaris tidak terdengar karna tenggorokannya tercekat.
Jisung bungkam menatap raut wajah mamanya, segera membubuhkan tanda tangannya di lembar kertas itu agar segera dilakukan tindakan.
Meski terlalu banyak pertanyaan berputar di kepalanya saat ini tentang apa yg sebenernya terjadi? Bagaimana keadaan Lisa saat ini? Bagaimana dengan bayinya?
Ah...persetan semua pertanyaan itu,
Aku yakin mama jauh lebih menyayangi Lisa dan bayiku daripada dirinya sendiri jadi apapun itu yg dilakukan mama, aku hanya bisa mengiyakan.
Beberapa saat setelah mama Wendy kembali masuk ke ruangan dengan membawa surat pernyataan ijin melakukan operasi terhadap pasien, team medis keluar dengan membawa Lisa yg tertidur di ranjang pasien ke arah ruang operasi.
Jisung bergegas mendekat ke arah Lisa yg menatapnya dengan berlinang air mata.
Jemari tangan kanan Lisa yg tadinya mengepal kuat, kini terbuka saat Jisung berdiri tepat di sampingnya.
Mengerti dengan maksud Lisa, Jisung menggenggam erat jemari tangan Lisa.
"Aku......takut" lirih Lisa
"Ya Tuhan.....rasanya jantung ini ikut luruh bersama dengan derai air mata Lisa"
"Kenapa aku bisa sejahat ini padanya"
"Seharusnya yg berada di tangan Lisa saat ini cincin berlian tandan pernikahan kami berdua bukan malah tangan kurus yg terpasang infus dengan memar di sekujur tubuhnya"
"Seharusnya Lisa memakai gaun pengantin indah dan berdiri di depan Altar bersamaku bukan malah memakai pakaian operasi dan berada di ruang operasi seperti saat ini" umpat Jisung pada dirinya sendiri dalam hati.
"All is well Li, semuanya akan baik-baik saja" lirih Jisung berusaha menguatkan Lisa.
........
"Anda yakin untuk ikut ke dalam?"
"Yakin...dok"
"Anda hanya diperbolehkan di area sini, sampai sebatas menggenggam tangan pasien, anda tidak diperbolehkan berada di area melebihi batas ini"
"Baik....dokter"
...........
Team dokter memulai operasi, mulai dari dokter anestesi yg mendudukkan Lisa perlahan dan meminta pasien relaks agar mempermudah menyuntikkan obat bius spinal yang disuntikkan ke area tulang belakang, sehingga pasien tidak akan merasakan nyeri dari bagian pinggang hingga kaki.
Jangan ditanya rasanya seperti apa, seperti...
Terasa akan berubah menjadi mutan saat sesuatu yg perih dan sakit menjalar perlahan mulai dari tulang belakang hingga ke ujung kaki kita dan berakhir dengan kita tidak bisa menggerakkan bagian bawah tubuh kita sama sekali meski team dokter membolak balikkan tubuh kita, tapi...ini bukan mati rasa hanya...
Mengurangi rasa sakit.
Karna pada kenyataannya, Lisa masih bisa merasakan betapa dinginnya pisau bedah perlahan menggores perutnya.
Bius spinal, bukan bius total.
Sang ibu masih terjaga, masih bisa manyaksikan semuanya, hanya tidak bisa melakukan apapun dan sedikit mengurangi rasa sakit.
Kalau orang bilang Caesar tidak sesakit melahirkan secara normal itu omong kosong.
Tuhan menciptakan rahim seorang ibu untuk melahirkan secara normal, jadi sesakit apapun persalinan secara normal setidaknya organ tubuhnya sudah diciptakan oleh Tuhan untun pulih, tapi Caesar? Rasanya saat obat bius spinal itu menjalar di tubuh kita saja membuat kita trauma seumur hidup, saat jarum suntik itu menusuk diantara tulang punggungmu dengan sedikit pergerakan dari tubuhmu bisa mengggagalkan reaksi biusnya dimana harus diulang lagi.
Dan Jisung?
Menyaksikan itu semua,
Saat Lisa terduduk dengan seorang dokter menyuntikkan tepat di tulang punggung Lisa, Lisa yg menggigit bantal di hadapannya dan meremat erat jemari Jisung yg ada di genggamannya.
Semua kesakitan itu, terpampang nyata di hadapan Jisung.
"Ya Tuhan, bisakah semua kesakitan itu untukku saja? Jangan Lisaku" lirih Jisung dalam hati dengan derai air mata.
"Kamu kuat Li......" bisik Jisung dengan derai air mata tak terbendung saat dokter bilang detak jantung Lisa mulai melemah dan jemari tangan Lisa yg tadinya menggenggam erat tangan Jisung kini mengendur.
.........
Tanganku dingin, bukan karna AC di ruangan ini tapi...aku merasa jauh lebih dingin dari itu
Aku.....sudah tidak sanggup lagi
Aku....ingin beristirahat
Penglihatan ku mulai meremang dan perlahan mataku terpejam
Kalau mama tidak bertahan saat itu, tidak akan ada bocah tengil menyebalkan tapi sangat baik bernama Park Jisung terlahir ke dunia ini
Sayup sayup aku mendengar seseorang berbisik padaku
"Kamu kuat Li......"
"Bertahan sedikit lagi ya...."
"Tolong jangan tinggalkan aku sendiri lagi..."
🐹🐹🐹
Siapa yg nangis tunjuk tangan 👆
KAMU SEDANG MEMBACA
Snow (Lalisa-Park Jisung)
FanfictionJatuh cinta itu nggak salah, tapi kalau jatuh cintanya sama istri orang?
