Test

438 70 17
                                        

"Pucat, tidak nafsu makan, dehidrasi dan....
poli obyn?" Jisung terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
"Apa Tuhan sedang bercanda denganku huh?"






.........

"Selamat sore....nyonya Lalisa Lee, saya Dokter Jung, ada yg bisa saya bantu?"

"Begini dok...." Lirih Lisa memulai pembicaraan, gugup dan...tidak mengerti kalimat apa yg harus Lisa katakan untuk mengungkapkan apa yg Lisa rasakan saat ini.

Sadar Lisa gemetaran, dokter Krystal Jung menggenggam tangan Lisa.

"It's okey, pelan-pelan ceritanya" lirih dokter Jung menenangkan Lisa.

"Saya...sudah sepuluh tahun ini menikah dok" Lisa menjeda kalimatnya karna harus mengambil nafas panjang.
"Tapi saya belum dikaruniai anak, meski sudah mencoba banyak cara" lirih Lisa bernafas lega

"Sudah pernah cek?" Tanya dokter Jung, Lisa yg mengerti maksud ucapan dokter Jung, hanya menggeleng lemah.
"Mau coba dicek?" Lirih pelan dokter Jung

"Saya takut dok...." Lisa menggenggam erat tangan dokter Jung.

"Semakin awal dicek, akan semakin cepat pengobatannya" lirih dokter Jung.

"Saya takut dok....saya....takut melihat kenyataan" lirih Lisa dengan mata berkaca-kaca.

"Begini....coba kita berbicara sebagai teman untuk saat ini, jadi Lisa...kamu punya Tuhan?"

"Ya..."

"Kamu percaya Tuhan itu ada?"

"Ya....dokter" lirih Lisa.

"Jadi kamu juga harus percaya kalau ketetapan Tuhan yg terjadi pada hidupmu semuanya karna Tuhan menyayangimu"

Lisa kembali gemetaran, dan genggaman tangannya pada dokter Jung semakin kuat.

"Jangan pernah tinggalkan Tuhan Li...karna Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita"

"Ya...dokter" lirih Lisa

"Siap untuk dicek Lisa?" Tanya dokter Jung menatap lekat kedua mata Lisa yg terlihat ragu-ragu kemudian Lisa mengangguk.













🐹🐹🐹

"Puas mempermainkanku?" Suara bariton Jisung mengagetkan Lisa saat Lisa berjalan di koridor rumah sakit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Puas mempermainkanku?" Suara bariton Jisung mengagetkan Lisa saat Lisa berjalan di koridor rumah sakit.

"Ngomong apa sih? Nggak jelas!" Lisa yg sedang tidak mood untuk bertengkarpun lebih memilih untuk berjalan meninggalkan Jisung begitu saja.

Sadar penuh ini di rumah sakit, Jisung tidak ingin menjadi pusat perhatian atau bahkan hingga diusir security jika membuat keributan di sini karna rasa kesal yg dia rasakan saat ini

Memendam semuanya tapi tetap berjalan mengikuti langkah kaki Lisa yg berjalan keluar dari rumah sakit.

"Aku tanya sekali lagi....nuna puas mempermainkanku huh?"

Lisa masih acuh dan melanjutkan langkahnya.

"Jawab aku, aku bukan makhluk tak kasat mata yg tak terlihat olehmu" Jisung menahan lengan Lisa.

"Apa? Kamu itu kenapa?"
"Dan...mempermainkan apa?" Lisa ikut tersulut emosi.

"Nuna tidak merasa sedang mempermainkanku? Woah....aktingmu bagus sekali, aku sangat terkecoh...nuna tau itu?" Ucap Jisung penuh penekanan.

"Ngelantur!!!" Umpat Lisa dan hendak pergi tapi lengannya masih berada di genggaman tangan Jisung.

"Nuna aku menyukaimu, aku...sungguh....
menyukaimu, apa aku terlihat sedang main-main? Cukup katakan pergi jika nuna tidak menyukaiku dan aku akan pergi, selamanya"
"Jangan sorenya menciumku lalu malamnya nuna bercinta dengan suami nuna, dan setelah nuna hamil, nuna menganggapku tidak ada"
"Itu membuatku terluka"

"Hah? Ngomong apa sih?" Kesal Lisa

"Nuna nggak ada rasa bersalah sedikitpun ke aku gitu?"

"Rasa bersalah karna apa?"
"Siapa yg lagi hamil huh? Aneh kamu..."

"Nuna...bukan lagi hamil?"

"Siapa yg bilang aku lagi hamil?"

"Barusan aku lihat nuna masuk ke poli obgyn"

"Kalau masuk poli obgyn harus hamil gitu?"

"Ya kan obgyn artinya kandungan...ya berarti cek kandungan dong"

"Sok tau kamu....kayak pernah aja!"
"Udah ah, sedang tidak mood untuk berdebat"

"Jelasin dulu...." Jisung masih menahan lengan Lisa.

"Apa? Mau di jelasin apanya?"

"Nuna tadi pagi pucat, nggak doyan makan dan dehidrasi, trus tiba-tiba ke poli obyn, jelasin dulu apa yg terjadi!!"

"Nggak ada alasan kenapa aku harus jelasin ke kamu...." Celetuk Lisa yg niat awalnya hanya untuk menggoda Jisung tapi begitu melihat raut wajah Jisung berubah muram, Lisa malah panik.
"Begini....aku pucat dan dehidrasi karna kelelahan dan kurang makan, dua hari kemarin aku ke Ansan...full PP aku menyetir sendiri dan disana...." Lisa menghentikan kalimatnya

"Kenapa? Disana kenapa? Apa yg terjadi?" Jisung panik.

"Aku jauh-jauh ke Ansan hanya untuk dibilang aku mandul oleh keluarga suamiku" lirih Lisa tersenyum getir

"Siapa? Siapa yg berani berkata seperti itu? Aku cabut nyawanya sekalian!!!"

"Bibi suamiku, katanya mama mertuaku sakit karna kepikiran aku hingga saat ini belum bisa memberikan cucu untuk mereka"

"Ada manusia bisa berbicara semenyakitkan itu pada sesama manusianya?" Marah Jisung

"Tadinya aku tersinggung, dan menangis"
"Aku terus kepikiran makanya aku mual dan tidak nafsu makan"
"Aku sempat berfikir ada yg salah di diriku, aku yg tidak sempurna dan...aku tidak pantas untuk dihargai, benar-benar membuatku drop" lirih Lisa tersenyum miris

"Lalu nuna datang kesini untuk mengeceknya?" Tanya Jisung dan Lisa mengangguk penuh percaya diri.
"Dan bukan nuna yg salah?"

"Big no...." Ucap lantang Lisa menunjukkan hasil pemeriksaan dari rumah sakit.
"Semuanya normal, aku...normal" ucap Lisa sangat percaya diri.

"Good...." Jisung menahan senyum.

"Udah kan? Lepasin dulu ini...aku mau pulang" ucap Lisa berusaha melepaskan genggaman tangan Jisung

"Katanya males pulang?" Jisung melepaskan genggaman tangannya pada lengan Lisa tapi berjalan mengikuti langkah Lisa.

"Aku berubah fikiran" celetuk Lisa

"Jangan dong....jangan berubah fikiran.." Jisung menyamakan langkahnya dengan Lisa

"Berhenti mengikutiku, aku mau pulang!"

"Nggak usah pulang....!!!"

"Lalu harus kemana?" Tanya Lisa menatap lekat kedua mata Jisung.

"Maybe...membuktikan kalau hasil test itu tidak salah" bisik Jisung menahan senyum.











🐹🐹🐹

Hayo yg fikirannya traveling 🤭🫣

Snow (Lalisa-Park Jisung)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang