"Lisa..."
"Ya oppa?"
"Temanku menawari ku sebuah pekerjaan, hari ini aku akan kesana"
"Pekerjaan apa itu oppa?"
"Menjahit....."
"Menjahit?" Lisa mengangkat sebelah alisnya
"Iya....temanku memiliki konveksi, dan dia sedang banyak pesanan"
"Lagipula dengan cidera ku karna terjatuh kemarin, aku tidak bisa bekerja yg terlalu berat, tapi lumayan sih Li dibayarnya per hari jadi aku tidak perlu meminta uang rokok lagi darimu"
"Oh baiklah oppa, semoga berkah ya...aku berangkat kerja dulu"
"Itu bukan dia percaya nuna bisa menjaga diri, tapi memang dia tidak peduli jika terjadi sesuatu buruk tentangmu"
Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Lisa semalaman ini dan meski kini sudah menjelang pagi, nyatanya Lisa belum bisa memejamkan matanya padahal dia harus kembali bekerja, dan......
Apa yg harus Lisa lakukan jika nanti bertemu Jisung?
Mati-matian Lisa memikirkan apa yg harus dia lakukan jika bertemu Jisung nanti, setidaknya Jisung pasti muncul dalam satu hari rutinitas Lisa entah dimanapun itu.
Tapi pagi ini Jisung tidak nampak di stasiun ataupun di gerbong kereta.
"Apa peduli ku? Kenapa aku harus memikirkannya? Dia yg salah karna terlalu ikut campur urusan pribadiku dan aku tidak bersalah dengan menamparnya" Lisa terus bergelut dengan fikirannya sendiri.
"Lisa kamu kenapa?"
"Uh? Aku?"
"Kamu sering melamun hari ini, dan kamu melakukan beberapa kali kesalahan, kamu sakit Li? Lebih baik istirahat dulu, jangan dipaksakan bekerja...." Ucap salah satu teman yg satu divisi tempat kerja dengannya.
Tau kalimat kadang otak dan tubuh kita tidak sinkron dalam bekerja? Itulah Lisa sekarang.
Otaknya berkata dia lelah dan harus segera pulang sekarang, tapi nyatanya....saat ini pukul 19.00 dan Lisa malah menekan tombol angka 7 di lift yg dia tumpangi.
Meski harus kembali dengan tangan kosong saat security berkata orang yg dia cari hari ini tidak datang ke kantor.
Ketidak sinkronan otak dan tubuh Lisa tidak berhenti sampai disana, masih berlanjut hingga mengantar Lisa berdiri di depan sebuah kamar apartemen yg meski Lisa sudah mengetuk pintunya sejak 15 menit yg lalu, tidak juga muncul tanda-tanda sang pemilik kamar akan keluar. Atau mungkin justru dia tidak sedang berada di dalam.
"Ada apa denganku?"
"Aku merasa sangat bersalah?"
"Oh...baiklah....iya aku mengaku aku merasa bersalah, dan dia benar....apapun yg dia katakan kemarin itu benar"
"Jadi seharusnya aku tidak perlu marah padanya"
"Tapi apa aku harus mencarinya? Sepenting apa dirinya?"
Hari kedua, sejak pertengkaran Lisa dengan Jisung malam itu. Masih sama....Jisung tidak ada di stasiun ataupun di gerbong kereta saat pagi hari, tapi kali ini Lisa tidak hanya diam menunggu hingga pulang kerja.
Lisa berkata pada supervisornya ada keperluan yg mengharuskannya meninggalkan kantor pada jam makan siang.
Dan disini lah Lisa sekarang......
Di depan Universitas Hongik, meski Lisa dulu juga alumni disana, tapi itu sudah sangat lama...sudah hampir 10taun yg lalu, dan keadaan kampus sudah banyak yg berubah.
Tapi untungnya tata letak gedungnya tidak terlalu banyak yg berubah, termasuk letak dimana gedung fakultas seni.
KAMU SEDANG MEMBACA
Snow (Lalisa-Park Jisung)
FanfictionJatuh cinta itu nggak salah, tapi kalau jatuh cintanya sama istri orang?
