"Jangan pergi..." lirih Lisa dengan suara parau
"Jangan ingin pergi atau berharap Tuhan membawamu pergi dari dunia ini"
"Aku....karna aku nggak akan sanggup" Lisa masih menunduk dengan jemari tangan kanannya yg perlahan menggenggam ujung jemari tangan Jisung.
"Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan kamu..."
🐹🐹🐹
"Jangan tertawa!!!" Lisa merajuk
"Mau diem aja tapi kamu lucuk, sumpah" Jisung terus tersenyum.
"Berhenti menertawakanku Park Jisung menyebalkan!"
"Ini bukan menertawakan, tapi...apa ya..."
"Perasaan sangat bahagia yg tidak bisa disembunyikan" Jisung berusaha menahan senyumannya tapi justru terlihat semakin menyebalkan bagi Lisa.
"Ku bilang berhenti menertawakanku" kesal Lisa berusaha membungkam bibir Jisung dengan telapak tangannya.
"Oke oke aku berhenti tertawa, aku janji" ucap Jisung baru Lisa melepaskan telapak tangannya dari bibir Jisung.
"Tapi aku masih tidak menyangkanya" lirih Jisung menopang kepalanya dengan dagu menatap lekat kedua mata Lisa.
"Apa?" Lisa berusaha menghindari kontak mata dengan seseorang yg kini duduk tepat di hadapannya di sebuah cafe di area kota Seoul
"Selama ini aku benar berfikir kamu sangat membenciku"
"Dulu sempat benci, tapi sebentar" celetuk Lisa
"Setelah itu?" Jisung mengangkat sebelah alisnya
"Setelah itu nggak benci lagi, nggak pernah bisa benci malah, nggak tau...sepertinya otakku sedikit bermasalah" cerocos Lisa yg nyari membuat Jisung terbang ke angkasa.
"Harusnya kamu bilang Li...."
"Nggak mau....siapa suruh kamu terlalu pabo" kesal Lisa
"Aku bukan cenayang....darimana aku bisa menebak isi hatimu coba?"
"Nggak perlu menebak isi hati sebenarnya, cukup hanya menambah sedikit kecerdasanmu" elak Lisa.
"Jadi benar aku the one and only?" Jisung mencoba meyakinkan sekali lagi
"Heem..." Lisa mengangguk kecil meski kini pipinya merona merah.
"Kamu sendiri....pernah jatuh cinta lagi?" Pertanyaan random Lisa yg entah kenapa sangat ingin Lisa tanyakan meski butuh keberanian ekstra untuk mengatakannya.
"Pernah...."
"Maaf aku harus mengatakannya padamu aku hanya...tidak ingin ada yg aku sembunyikan lagi padamu"
Seketika hati Lisa mencelos
Sungguh bukan jawaban ini yg Lisa harapkan
Tapi...Lisa masih berusaha mempertahankan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat...sakit
"Lalu?" Tanya Lisa sedikit penasaran, tapi sebenarnya juga tidak ingin mendengar jawabannya
"Lalu aku mengingatmu, segala sesuatu harus ada yg lebih prioritas kan?"
"Dan aku rasa aku harus lebih mengejarmu"
"Kenapa?"
"Karna aku pernah menyakitimu, aku ingin menebus semua dosa-dosaku padamu Li"
KAMU SEDANG MEMBACA
Snow (Lalisa-Park Jisung)
FanfictionJatuh cinta itu nggak salah, tapi kalau jatuh cintanya sama istri orang?
