"Apa kabar?"
Tanya seseorang yang berada di belakangku. Aku kenal betul suara itu, suara yang sangat aku rindukan, suara yang dulu selalu membuatku tenang, suara yang tidak pernah meninggi walaupun dalam keadaan marah sekalipun, namun dengan mendengar suara itu lagi... hatiku yang semula sudah kokoh jadi runtuh lagi, dan terasa perih lagi.
Hari ini aku dinas dibagian rawat inap. Tidak seperti teman-temanku yang menjalankan Praktik Klinik di Rumah Sakit lain, mereka langsung ditempatkan di Kamar bersalin atau Poli Kandungan. Kami yang Praktik Klinik di Rumah Sakit ini dalam satu bulan pertama di tempatkan di berbagai tempat. 4 hari di IGD, 4 hari di rawat inap, 4 hari di poli, 4 hari di OK, dan seterusnya. Alasannya agar seorang bidan tidak melulu fokus menangani seputar kesehatan ibu, anak, dan kesehatan keluarga berencana.
"Bidan juga harus bisa pemeriksaan dan tindakan di IGD, seperti perawatan luka baru dan luka infeksi, pemasangan spalk, pemasangan NGT, ekstraksi kuku dan masih banyak tindakan lainnya."
"Selain itu, bidan juga harus tanggap dalam pelayanan obstetri dan neonatologi darurat 24 jam di rumah sakit sesuai standar PONEK. Bidan berperan sebagai asisten dokter, instrumen, dan memberikan asuhan pasien saat operasi sectio caesarea, kuretase, dan KB."
Begitulah kira-kira kata bidan Ika kemarin sebagai pedamping dan penanggung jawab kami selama Praktik Klinik di Rumah Sakit ini saat kita kemarin orientasi.
"Eh dokter Narve... sudah lama disini dok? Mau visite sekarang?"
Tanya nurse bernama Novi yang baru datang dari arah rawat inap kelas tiga ini.
Aku masih tak berani menoleh ke arah belakang, maka dari itu, aku putuskan untuk berpura-pura sibuk mengoplos beberapa obat yang akan di injeksi ke beberapa pasien disini. Tetapi mungkin Tuhan tak merestui rencanaku untuk terus mengabaikan mantan suamiku itu. Mba ika yang baru datang itu menyenggol lenganku dan memperkenalkan aku pada mantan suamiku.
"Oh iya dokter, ada mba PKL baru nih. Er kenalin, ini dokter Narve, dokter bedah disini. Kamu nanti bakal sering ketemu waktu nongkrong di OK."
Kata mba Novi padaku sambil senyum-senyum.
"Udah kenal"
Jawabnya santai sambil memainkan handphonenya.
"Oh sudah kenal toh dok? Hehe maaf saya kira belum. Mau visite sekarang dok? Sebentar saya ambil ipad"
Di Rumah sakit ini memang untuk rekam medis pasien sudah menggunakan aplikasi berbasis web. Dulu masih ingat hari-hari ketika dokumen digunakan untuk mengatur rumah sakit? Coretan tak berujung, bagan salah tempat? Hari-hari tersebut memudar dengan cepat, berkat munculnya penyelamat layanan kesehatan baru yaitu iPad.
Bayangkan tablet yang ramping dan intuitif menggantikan papan klip yang kikuk. Bayangkan pasien berinteraksi melalui registrasi di kios yang sistematis, dokter mengakses catatan penting dalam satu ketukan, dan perawat memperbarui rencana perawatan dengan cepat. Inilah kekuatan iPad dalam layanan kesehatan, yang mengubah cara kita merasakan, mengelola, dan memberikan layanan. Jauh lebih mudah bukan?
Mas Narve berjalan lebih dulu keluar ruang perawat saat mba Novi masih mengambil ipad di meja yang sedang di pakai Burhan, salah satu perawat juga di rawat inap kelas tiga ini. Setelah beberapa menit, mereka melakukan visite, mba Novi kembali bersama mas Narve. Tatapan mas Narve yang super tajam melihat kami sedang bercanda saat memasuki ruang perawat membuat tawa perawat disini menghilang seketika kecuali mba Galuh.
"Eh dokter... Sudah selesai visitenya dokter?"
Tanya mba Galuh di sela akhir tawanya.
"Memangnya kamu gak bisa lihat saya sudah kembali?"
Jawab mas Narve ketus sambil melihat Burhan. Membuat mba Galuh langsung menghentikan tawanya dan meminta maaf.
"Maaf dokter"
Kata mba Galuh lagi sambil menunduk. Mas Narve seperti tak peduli dengan permintaan maaf mba Galuh, dia hanya diam kemudian duduk di sampingku yang kebetulan kursinya sedang kosong. Auranya masih terasa jika dia sedang marah, namun mata dan jarinya saat ini fokus pada ipad yang tadi di pegang mba Novi.
"Udah gak keluar Er darahnya? Aku ambil plester dulu biar kamu gak megangin kasa terus gitu."
Kata mba Galuh pelan padaku, tapi mampu membuat mas Narve menoleh ke arah kami. FYI saat oplos obat tadi, aku terkena goresan kaca ampul, sehingga membuat kulit jariku robek dan mengeluarkan darah.
"Masih mba, makasih ya"
"Kenapa?"
Tanya mas Narve padaku.
"Apa?"
"Jarimu kenapa?"
"Kena kaca ampul"
"Kok bisa? Coba sini lihat"
Katanya, sambil berdiri dari duduknya dan mencuci tangannya di wastafel pojok ruangan. Lalu mengambil alih kasa yang aku deep di lukaku.
"Gak usah, ini gak papa kok"
"Jangan keras kepala"
"Nurut aja kenapa sih? Kamu gak capek memang kaya gitu terus?"
Katanya lagi. Aku memilih diam kali ini karna tak ingin mas Narve tambah mengomel. Sedangakan disisi lain, aku tak enak hati dengan semua perawat yang ada disini beserta adik mahasiswa PKL yang menatap interaksi kami.
Mas Narve memebuka kasa yang aku gunakan untuk deep lukaku tadi. Kemudian mengajakku ke wastafel dan menyiram tanganku dengan larutan NaCl. Setelahnya dia mengamati lukaku dan menutupnya dengan perban.
"Lukanya agak dalam ini, sakit gak?"
Aku hanya menggeleng sebagai jawabannya. Tapi demi Tuhan, aku mati-matian menahan air mataku dan sesak di dada. Bukan karna sakit, tapi karna perhatian mas Narve yang seperti ini mampu meluluh lantahkan lagi benteng di hatiku untuk menghalau dirinya yang sudah aku bangun beberapa bulan lalu. Sejujurnya hatiku berteriak ingin mengatakan i miss you.
"Perlu anti nyeri gak?"
"Terimakasih"
Lagi-lagi aku hanya mampu menggeleng menanggapi pertanyaannya. Pandangan kita bertemu beberapa detik, kemudian mas Narve melepaskan tanganku lalu pergi dari ruangan perawat.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SATU CIRCLE
Teen FictionCircle cenderung mengarah pada lingkaran atau kelompok pertemanan. Sama halnya dengan seorang gadis yang bernama Erine Rose Defiana, dia mempunyai sahabat bernama Whily yang selalu ada untuknya. Persahabatan itu semakin hari tumbuh menjadi cinta. Na...
