"Sudah bangun?"
Tanya mas Narve padaku yang baru saja membuka mata. Aku menoleh padanya yang sedang duduk disampingku.
"Ini dirumah mas Narve ya?"
"Rumah kita"
Aku memalingkan muka saat mendengar jawaban dia atas pertanyaanku. Dia ini amnesia atau pura-pura amnesia lagi sih? Rumah kita? Mabok kali ya dia. Jelas-jelas aku sudah di ceraikan, masih bilang ini rumah kita. Gak jelas banget sumapah pria ini, kayanya harus dijelaskan sejelas-jelasnya ini orang biar gak seenaknya sendiri memperlakukan wanita, batinku.
"Kenapa sih Er? Masih marah? Aku kan udah minta maaf."
Katanya mulai ngomel lagi.
"Marah? Mana berani saya marah sama manager rumah sakit tempat saya magang, maaf sudah merepotkan dokter. Terimakasih atas perhatian dan bantuannya. Saya harus pulang karna ini sudah sore dan gak enak kalau berduaan di rumah lelaki apalagi anda sudah punya pacar. Sekali lagi, terimakasih dokter."
Kataku kemudian beranjak bangun dari tempat tidur dan mengambil tasku yang ada di meja dekat tempat tidur. Namun tangan kananku ditahan oleh tangan besarnya. Matanya terlihat menyala sambil menatapku, itu artinya dia sedang marah. Namun kali ini aku tak takut dengan tatapannya, aku tak kalah menantang menatap matanya, aku jauh lebih marah kali ini.
"Kamu ngomong apa barusan?"
"Ngomong apa? Coba ulang"
"Anda tidak dengar saya bilang apa tadi?"
Mas Narve menarik pinggangku dan mengunci tubuhku diantara tembok dan badannya yang tinggi besar. Matanya masih tetap menyala menatapku. Lama kami saling menatap dalam dekat, hingga kami saling merasakan napas kami masing-masing. Aku yang sadar dan panik mencoba mendorong badannya, namun hasilnya nihil, tenagaku terlalu kecil dibanding mas Narve.
"Mas..."
"Mas mau ngapain?"
Tanyaku panik saat mas Narve semakin mendekatkan wajahnya.
"Mas, mas Narve mau ngapain? jangan gini ih"
Kataku panik, jantungku berdebar tak karuan saat ini, wajahku juga terasa panas. Tetapi wajah mas Narve semakin mendekat. Aku mencoba mendorong tubuhnya lebih kuat, tapi mas Narve malah seperti menantangku dengan senyuman nakalnya.
"Mas jangan gini"
Mohonku padanya sambil ingin menangis, tapi dia seakan tidak peduli dengan rengekanku.
"Kenapa? Kamu takut?"
Tanyanya sambil senyum mengejekku.
"Jangan kamu pikir kamu bisa lepas dariku"
"Setelah menarikku kembali"
"Kamu gila ya mas?"
"Mungkin"
Jawabnya sambil tersenyum lagi. Senyum yang menurutku samgan menyebalkan.
"Kenapa kamu harus menghindari aku? Bukannya kamu masih ada perasaan terhadapku?"
"Kata siapa?"
"Ini, kamu aritma sekarang"
"Kamu gak mungkin sudah gak ada rasa "
"Mas, kamu... itu aku"
"Aku apa? Kamu gugup?"
Dia tertawa mengejekku, dalam hati aku mengumpati diriku sendiri. Kenapa sih aku jadi gak berdaya gini? Ayolah jangan sampai dia tau aku selemah ini dihadapannya, mahal dikitlah.
"Cintamu besar kan ke aku?"
"Enggak... mas jangan gini. Lepasin aku."
"Enggak salah?"
Katanya lagi lalu mencium bibirku dengan lembut, sekali lagi aku mencoba mendorong dada bidangnya, dan memukulnya, namun mas Narve malah semakin kasar melumat bibirku. Tanganku dia tahan dengan tangan besarnya agar tidak bisa memukulinya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
SATU CIRCLE
Teen FictionCircle cenderung mengarah pada lingkaran atau kelompok pertemanan. Sama halnya dengan seorang gadis yang bernama Erine Rose Defiana, dia mempunyai sahabat bernama Whily yang selalu ada untuknya. Persahabatan itu semakin hari tumbuh menjadi cinta. Na...
