Teringat Masa Lalu

291 23 3
                                        

"Kamu ngapain cuma duduk disitu anak magang"
Teriaknya padaku dan Vero salah satu anak magang mahasiswa keperawatan yang sedang duduk di nurse station IGD bagian pojok sambil berkacak pinggang marah.

"Banyak kerjaan disini, kamu nulis apa itu? Disini itu bantuin, kerja, bukan cuma ambil data dibuat laporan."
Masih sambil teriak pada kami.

"Nulis laporan itu dirumah hei... bukan disini. Ngerti gak?"

"Sekali lagi aku tau kamu nulis laporan di sini aku sobek-sobek laporan kalian itu."

Semua pasang mata langsung tertuju pada dokter perempuan yang sedang teriak berpakaian warna biru langit yang sedang berdiri di ambang pintu IGD bagian belakang sambil menenteng tas jinjingnya. Pandanganku menelusuri sekitar IGD yang terlihat sepi, karna pasien sudah kami pindahkan ke rawat inap beberapa menit yang lalu.

"Bengong aja"

"Kamu tuli saya nyuruh kamu apa? Kerja woi"
Katanya sarkas masih sambil marah-marah.

"Kamu tuh kenapa sih teriak-teriak? Berisik tau"
Ucap dokter Fahmi pada dokter Desy yang sedang marah-marah seperti orang kesetanan.

"Anak magang kaya dia itu harus dikasih paham Fam, biar gak keenakan nganggur di jam kerja. Dasar malas."

"Lihat deh... kerjaan mereka cuma duduk-duduk aja. Kerjaan disini itu banyak. Apalagi dia, mentang-mentang bidan kalau bukan kasus kebidanan gak mau bantuin."

Kata dokter Desy masih tidak ingin dikalahkan sambil menunjukku angkuh. Aku yang ditunjuk kaget sekaligus heran karna aku merasa membantu pekerjaan disini dari kemarin malam. (Fyi aku sedang dinas malam saat ini). Bahkan karna IGD cukup ramai kemarin malam, aku belum sempat tidur hingga pagi ini. Dan satu lagi, kenapa dia bisa menilaiku malas? Padahal dia belum pernah shift barengan denganku.

"Hah... bukannya dia baru ya masuk IGD? Aku baru lihat dia"

"Udah Fam kamu gak usah belain dia, dan gak usah ikut campur, waktumu tugas di sini udah kelar jamnya, sudah waktunya operan, sekarang gantian aku yang penanggung jawab disini. Jadi biar aku yang kasih paham ke dia sekarang."

"Hah... apaan sih Des? Gak paham aku sama kamu. Aneh."

"Heh anak magang"

"Ya dokter"
Jawab Vero pelan namun masih bisa terdengar di ruangan ini.

"Bukan kamu... kamu yang bidan, bantuin pak Didit nyapu kek atau ngepel. Diam aja dari tadi, niat magang enggak sih."

"Heh, kamu gak tuli kan? Bengong aja kerjaannya."

"Dokter... dia bidan bukan OB"

"Diam kamu mba Ririn, kamu disini cuma Perawat. Aku yang dokter disini, punya tanggung jawab besar mendidik anak magang disini. Aku yang berkuasa."

"Dokter, tanggung jawab dokter disini itu untuk pasien. Bukan mendidik anak magang. Bidan magang itu tanggung jawab mba Ika, kalau di IGD ya tanggung jawab mba Anggri yang sesama bidan."

"Benar, lagian saya juga gak ada masalah kok dok sama bidan magang. Dari kemarin dia tidak mengecewakan kerjanya, malah kita kebantu adanya dia di sini."

"Kalian tau apa tentang mendidik? Udah itu tanggung jawab saya. Saya disini yang berkuasa."

"Heh ini nyapu, bantu pak Didit"
Katanya membentakku sambil melempar sapu padaku.

"Dokter"
Panggil mba Anggri seperti memperingatkan namun dokter bernama Desy itu tetap acuh dan memasang muka seperti menantang.

"Sudah gak papa mba"
Jawabku pada mba Anggri ketika aku mengambil sapu yang akan aku gunakan untuk menyapu.



SATU CIRCLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang