Anxiety Disorder

251 26 4
                                        

"Kamu kenapa?"
Aku membuka mataku dan menarik lenganku yang aku buat untuk menutupi wajahku. Di depanku mas Narve sedang berkacak pinggang sambil melihatku tak suka.

"Kenapa? Perutmu sakit?"

"Udah tau punya asam lambung, disuruh makan dulu gak mau. Kamu ngerti gak sih kalau asam lambung itu resikonya besar? Bisa sampai ke kematian"

"Luka dilambungmu itu sulit kering karna keadaan lambungmu yang asam. Kamu itu bidan, harus bisa jaga kesehatan. Jangan suka ngerepotin orang kaya gini."

"Sekarang kalau sakit gini gimana? Siapa yang mau ngurusin kamu? Kamu tadi berangkat sama siapa? Mana pacarmu yang tadi ngantarin kamu? Suruh jemput sekarang, telephone cepet"
Katanya sambil marah-marah di depanku dan Nita yang sedang duduk sambil menunduk kaku.

"Emm, maaf dokter... Erine biar sama saya saja. Kita satu kos kok dokter."

"Kita bisa pulang naik g**b car"

"Kamu yakin yang antar Erine tadi pagi pacarnya mas?

"Kamu kenapa sih mas?"

"Marah-marah mulu dari tadi. Kalau punya masalah itu diselesaikan, kalau penasaran di tanyakan. Biar gak salah paham."

"Siapa yang marah-marah pa... aku cuma..."

"Cuma apa? Cemburu liat Erin di antar lelaki lain?"

"Emang kamu tadi diantar siapa nduk?"

"Mas Vian pa"

"Vian siapa?"
Tanya mas Narve seperti menuntut.

"Alvian"

"Alvian siapa?"

"Ya Alvian, kamu gak bisa apa bicara tanpa membentak, gak capek apa ngegas mulu?"

"Vian siapa?"

"Alvian Ilham Danara"

"Shit"
Umpatnya pelan, tak lama kemudian dia duduk di kursi yang menghadapku.

"Vian sepupu kamu? Anaknya bude yang di Sawojajar?"
Katanya lebih lembut sambil memastikan lagi dengan bertanya lebih lanjut.

"Iya"

"Kenapa kamu gak bilang dari awal? Harusnya kamu bilang"

Aku menatapnya heran, menelisik disetiap sudut matanya. Ada tatapan penyesalan disana, namun aku heran dengan pertanyaannya yang terakhir. Apa maksudnya 'kenapa gak bilang dari awal?' Memangnya dia tanya kepadaku sehingga aku harus menjawab? Lalu apa katanya tadi? 'Harusnya kamu bilang?' Bukankah kita sudah tidak ada ikatan? Kita sekarang seperti dua orang asing kan? Kenapa aku harus bilang? Bukankah dia juga sudah tidak peduli denganku? Oh iya, jangan lupakan statusnya yang sekarang sudah mempunyai wanita lain.

"Kamu kenapa ngeliatin aku kaya gitu?"

"Kamu mau bicara apa?"
Tanyanya padaku dengan tatapan yang kini mulai melembut. Tidak seperti pertama tadi seperti elang yang sedang mengintimidasi mangsanya.

"Kenapa? Hmm"
Katanya lembut sambil mengelus pipiku lembut.

Sadar dengan perlakuannya yang tidak biasa itu setelah dia amnesia dan tatapan kaget dari Nita yang masih ada disampingku, aku segera menghindari tangannya. Aku menatap Nita yang kebetulan juga menatapku penuh tanda tanya, kemudian menatap mas Narve yang seakan kecewa dengan sikapku saat menghindarinya.

"Pa... bisa kasih waktu buat kita berdua?"

"Tentu, papa juga sudah capek berdiri disini cuma ngelihatin kalian"

Dokter kandungan yang sekarang juga jadi guru besar di salah satu Universitas Negri di Kota Malang yang dari tadi hanya berdiri sambil mengamati kami berdua itu kini sudah hilang dibalik tirai IGD berwarna coklat muda di susul dengan mba Ika. Namun Nita masih diam ditempatnya sejak awal ada disini sambil memandang ke arahku tak yakin.

SATU CIRCLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang