Aku terus berjalan cepat menyusuri lorong-lorong yang ada di Rumah Sakit ini sambil menahan mati-matian agar air mataku tidak jatuh. Namun sesampaiku di pintu keluar bagian belakang Rumah Sakit, aku bertemu dengan mama mertuaku, beliau menahan lenganku ketika aku berpamitan setelah bersalaman mencium tangannya.
"Ada apa?"
Tanya mama dengan tegas sambil menelisik jauh didalam mataku. Sebagai jawaban aku hanya menggeleng.
"Ma... maaf, Erin harus pergi sekarang"
Ucapmu sambil menunduk namun terburu-buru. Takut jika air mataku sampai tumpah di depan umum.
"Nak.. kenapa?"
Tanya mertuaku, maaf maksudku mantan mertuaku lagi sambil menahan lengan tanganku.
"Mas Narve di dalam nak, dia sudah sadar. Kamu ndak ingin ketemu? Gak kangen suamimu nak?"
Mama Elanie menatapku kecewa, mimik wajahnya berubah sedih, sambil terus bertanya padaku. Ya Tuhan, tolong hambamu ini, hamba harus bagaimana menjelaskan pada perempuan yang sangat baik di depanku ini. Kenapa wajahnya belum apa-apa sudah sedih begini? Maaf ma, kalau sikapku menyakiti mama.
"Ma..."
Hanya itu kata-kata yang bisa aku ucapkan pada perempuan baik didepanku ini. Tenggorokanku lagi-lagi terasa sakit untuk berbicara.
"Kenapa sayang?"
"Kamu kenapa nak? Kita minggur dulu yu"
"Kita cari tempat yang nyaman buat cerita"
Ucapnya kembali sambil menuntunku ke sebuah taman di lantai dua yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga. Mama terus berjalan sambil mengenggam tanganku hingga kita sampai di kursi besi yang ada di ujung taman. Kita duduk di kursi itu, lama aku terdiam mengamati kolam di depanku, hingga ada sebuah tangan yang membelai kepalaku lembut.
"Mau cerita ke mama nak?"
"Kalau kamu mau cerita ke mama, mama siap buat dengerin kamu. Tapi kalau belum siap, mama gak akan maksa kamu."
Aku mengangguk mendengar suara lembut dari mama Elanie, suaranya yang lembut dan usapan tangannya yang bikin tenang membuatku teringat pada mamaku. Mamaku mungkin bukan orang yang lembut seperti mantan mama mertuaku ini, tapi usapan tangan dan pelukan beliau selalu membuatku tenang dan merasa nyaman.
"Mama"
Panggilku pada mama Elanie yang masih membelai kepalaku dengan lembut.
"Mama... maaf, Erine masih banyak kurang dan salahnya. Maaf Erine sering ngecewain mama sama papa. Maaf karna belum bisa jadi menantu yang baik. Terimakasih banyak buat mama dan papa yang sudah begitu baik dan peduli sama Erine disaat Erine benar-benar sedang terpuruk"
"Terimakasih mama dan papa selalu ada dan siap membantu Erine. Erine selalu ngeropotin mama dan papa ya? Maaf ya ma"
"Ma..."
"Mama maaf, Erine sudah gagal jadi istri mas Narve, Erin gak bisa nerusin permintaan mama buat terus ada di samping mas Narve. Mas baru saja menceraikan Erine ma"
Aku terisak, air mataku yang dari tadi aku tahan-tahan kini mulai mengalir dengan derasnya dari bendungannya. Tangan mama mertuaku yang dari tadi mengelus lembut kepalaku, kini langsung berhenti. Pandangan mata mama yang tadi teduh melihatku kini berubah jadi menatapku kaget.
"Apa?"
Tanyanya padaku dengan nada ragu.
"Kamu gak salah ngomong kan?"
Aku menggeleng pelan, sedangkan air mataku yang dari tadi aku tahan-tahan kini mulai meluap dari bendungannya. Bahkan, dadaku kini terasa berat sekali untuk bernapas, rasanya seperti ada tumpukan benda beberapa kilogram di atas dadaku. Hatiku...? jangan ditanya, saat ini mungkin dia sedang terluka lebar karna rasanya perih sekali.
"Erine ndak salah ngomong ma, ini beneran terjadi"
Kataku pelan diselingi isakan, aku melepas cincin emas putih dengan berlian sebesar biji kedelai di jari manisku. Aku serahkan cincin kebanggaan yang pernah mas Narve pasangkan beberapa bulan lalu di jari manisku itu ke mama. Namun mama menolak menerima cincin itu, dipasangkannya lagi cincin itu di jari manisku sambil menangis.
"Ini pasti hanya salah paham, ini semua pasti hanya bercnda. Gak mungkin Narve seperti itu ke perempuan yang dicintainya."
"Nak, kamu tetap anak mama, kamu tetap menantu mama. Tunggu sebentar lagi ya... sabar dulu, jangan gegabah seperti ini."
"Mama yakin ini hanya ujian yang datang dari Allah. Mama yakin, Allah gak akan memisahkan dua insan yang mempunyai niat yang sama. Percaya sama mama"
"Sabar lagi ya nduk..."
"Mungkin Narve cuma bercanda, atau Narve cuma lupa. Dia bakal ingat kamu dan nyari kamu. Mama yakin itu"
"Mah... tapi menikah dan cerai bukan untuk bercanda."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SATU CIRCLE
Genç KurguCircle cenderung mengarah pada lingkaran atau kelompok pertemanan. Sama halnya dengan seorang gadis yang bernama Erine Rose Defiana, dia mempunyai sahabat bernama Whily yang selalu ada untuknya. Persahabatan itu semakin hari tumbuh menjadi cinta. Na...
