Asing

245 22 4
                                        

Tubuhku membeku melihat pemandangan di depan wastafel kamar operasi. Bagaimana tidak... disana aku melihat mas Narve yang sedang mencuci tangan di peluk seseorang dari belakang. Jujur aku sakit, aku cemburu, tapi nyatanya aku hanya bisa diam. Cemburu memang hal yang wajar bukan? Tapi cemburu kepada orang yang sudah bukan siapa-siapa kita lagi itu sangan menyesakan.

Lagi-lagi, beban pikiran dan emosiku hari ini bertambah lagi karna mas Narve. Hatiku bergejolak karna tidak bisa mengungkapkan perasaanku kepadanya. Tetapi, lagi-lagi aku tersadar, mas Narve sekarang bukan siapa-siapaku, tentu saja dia tidak perlu bertanggung jawab dengan rasa cemburu yang aku rasakan.

"Kalian ngapain pelukan disini"
Ucap seorang pria yang ada dibelakangku dengan suara dinginnya. Pria itu adalah dokter Reza, setelah mengucapkan hal tersebut dengan santainya dia maju lalu mencuci tangannya di wastafel.

"Ini tempat kerja, bukan ajang pamer keromantisan"
Katanya lagi.

"Gak tau malu ya kalian"

"Er, kamu mau sampai kapan diam terus disitu? Sini cepat cuci tanganmu. Pasiennya sudah menunggu didalam."

"Kamu bukannya dokter IGD? Ngapain sampai sini?"

"Maaf dok, saya hanya ada keperluan sebentar disini. Jadi saya kesini."

"Perlu apa? Peluk dokter Narve yang lagi cuci tangan itu maksudmu? Kamu tau gak ada pasien dan tim yang lagi nunggu dia di dalam OK?"

"Kamu shift apa hari ini?"

"Siang dokter"

"Siang? IGD kamu tinggal kosong sekarang?"

Tanpa menjawab pertanyaan beliau, aku langsung maju ke wastafel untuk mencuci tanganku. Tenggorokanku rasanya udah sakit dan kering hanya untuk menjawab "baik" atau "iya". Setelah selesai mencuci tangan, aku langsung mengikuti mba Ika masuk OK 2 meninggalkan dokter Reza, mas Narve, dan dokter Desy yang berada di depan wastafel, karna aku tidak mau mencampuri urusan mereka.

"Dokter Reza kalau marah ngeri ya?"
Kata mba Ika berbisik padaku yang aku angguki.

"Tapi wajar sih beliau marah, dokter Desy itu akhir-akhir ini ngebet terus deketin dokter Narve. Gak tau malu, gak tau tempat juga. Kaya hewan kebelet kawin."

"Astagfirullah mba... kebelet kawin wkwk"

"Emang iya lo, memanfaatkan situasi itu betina. Disaat dokter Narve baru sadar dari koma dulu, dia ngaku-ngaku kalau dia itu istrinya dokter Narve dan mereka sudah nikah siri."

"Apa? Seeius mba?"

"Iya, aku taunya juga pas mamanya dokter Narve itu ribut di ruang perawatannya dokter Narve. Waktu itu beliau kayanya benar-benar marah."

"Ha..."

"Baru tau ya? Yang ngerusak hubungan kalian itu betina itu?"

"Mba... kamu tau?"

"Tau... pake logika aja, dokter Reza itu memang baik. Tapi gak pernah repot-repot ngasih perhatian lebih ke pegawainya. Apa lagi masih magang kaya kamu. Beliau terkesan cuek, bahkan jarang hapal nama pegawainya. Tapi ke kamu beda, bahkan waktu itu minta sama dosenmu ada namamu yang magang di Rumah Sakit ini. Kalau gak bisa menerima syarat itu beliau bilang gak menerima anak magang."

"Hah"

"Udah-udah, dokter Reza sudah masuk"
Ucapnya mengakhiri obrolan kita di pojok ruang operasi.

SATU CIRCLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang