Anneke Nerve

265 22 2
                                        

"Mba Erin, mba... ada yang nyari di depan"
Ucap salah satu perawat bernama Lidya, anak PKL semester empat itu berbicara padaku saat berada di ambang pintu.

"Gak punya sopan kamu? Ada orang masih ngobrol main sela aja."
Kata mas Narve marah dengan tatapan mata yang tajam dan menyala seperti ada percikan api di dalam sana.

"Maaf dokter, tadi saya disuruh cepat, saya panik soalnya anaknya mba Erin masuk IGD di depan."

"Anak?"
Ucap mas Narve tak percaya dengan apa yang dia dengar. Sedangkan aku sudah berlari ke depan untuk memastikan informasi dari Lidya.

**

"Bude"
Pangilku lirih pada perempuan yang kini sedang memandangi bayi yang tertidur di bed pasien IGD itu sambil menahan tangis.

"Rin"
Bude langsung memelukku ketika aku mendekati beliau.

"Maafkan bude, bude lalai, belum bisa menjaga Anne dengan baik."

"Kemarin dia panas, bude gak hubungi kamu dulu karna katanya kamu hari ini ujian. Kalau bude hubungi kamu, takutnya kamu pulang dan gak jadi ujian. Tapi ini tadi kata mba Sri Anne kejang. Jadi bude bawa kesini. Maafin bude ya Rin."

"Erin yang minta maaf sama bude, selalu merepotkan bude. Maaf bude."

"Anak siapa Er?"

"Mas Narve ngapain ke sini?"
Ucapku terbata-bata karna terkejut ada mas Narve sudah di belakangku.

"Anak siapa Er?"

"Anak kita kan?"
Tanyanya seperti menuntut jawabanku ketika aku diam saja tak ingin menjawabnya.

"Er... jawab, bayi ini anak kita kan?"

"Mas... bukan"
Jawabku kemudian setelah aku lama terdiam. Aku memelankan suaraku karna tak enak jika jadi tontonan dan bahan gosib para perawat di sini.

"Lalu?"

"Anakku dengan laki-laki lain"
Ucapku pelan membuat bude mencubit lenganku keras.

"Gak mungkin, aku tau kamu Er. Kamu bukan perempuan yang gampang tidur dengan laki-laki lain. Dia anak aku kan?"
Tanyanya masih ngotot menuntut jawabanku.

"Bukan"
Jawabku frustasi.

"Kalau bukan ya bukan. Dia gak punya bapak, bapaknya udah lama mati."
Jawabku lagi tersulut emosi sambil menangis, memeluk anakku yang kini terbangun dan menangis. Aku dekap anakku erat karna aku takut mas Narve akan mengambil anakku jika dia tau yang sebenarnya terjadi.

"Nduk Rin, kenapa harus bohong? Sampai kapan kamu mau menutupi semua cerita ini? Dia juga bapaknya Anne, dia punya hak untuk tahu Rin."

"Gak bude, ini anak aku"
Ucapku lirih dengan tangisan tertahan.

"Dia gak punya bapak sejak lahir"

"Nduk..."

"Mba Erin"
Seorang perawat menbuka gorden bed pemisah antar pasien di IGD ini dan memanggilku lembut. Namun ucapannya terhenti saat matanya bertemu dengan mata mas Narve.

"Mohon maaf dokter, saya mengganggu lagi. Saya diperintahkan mba-mba perawat disana buat antar pasien ke kamar rawat inapnya."

Mas Narve kali ini tak menjawab ucapan Lidya, dia hanya mengangguk dan memberi ruang untuk Lidya lewat kearahku. Lidya mendorong kursi roda yang telah dia bawa melewati mas Narve dan berhenti di depanku. Kemudian mengambil kantong infus yang tergantung di tiangnya dan mematikan tetesan infusnya.

"Mba Erin, saya bantu pindahkan adek Anne ke ruang rawatnya ya? Mba duduk sini sambil pangku adeknya."

"Dapat kamar apa?"
Tanya mas Narve pada Lidya.

SATU CIRCLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang