Narve Pov

194 18 3
                                        

🌵Narve Pov

"Maaf, aku memang gagal jadi suami. Aku gagal jadi pria yang baik buat kamu. Aku gagal jadi apa yang kamu mau. Maafkan aku."
Ucapku pada wanita yang kini sedang aku peluk.

Wanita itu kini tidak menolak seperti biasanya saat kontak langsung denganku. Dia hanya terdiam menatap nanar hujan dari balik jendela. Matanya terlihat lelah, sekali-kali dia menatap anak kami yang sedang tertidur lelap di bed berwarna putih samping kami. Aku hirup wangi rambutnya dalam-dalam yang kini sudah tidak tertutup hijab, masih sama wangi rambutnya seperti beberapa tahun lalu saat dia masih praktek kerja lapangan di BPM mamaku.

🪵Flash Back On

Aku memencet bel rumah praktek mama secara tidak sabaran. Aku lelah hari ini ingin segera tidur, kerja dari pagi sampai pagi buta seperti ini terus-menerus selama beberapa hari ini membuat moodku jadi kacau. Tapi setelah melihat perempuan yang sedang berjalan kearahku dan membukakan pagar untukku dengan wajah yang menurutku lucu membuat moodku kembali.

Aku membantunya membuka pagar, wangi rambutya yang menurutku enak seperti bau madu itu membuatku candu. Aku ingat betul perempuan ini yang selalu aku perhatikan saat aku masih mengajar beberapa bulan di kampusnya. Dia tidak seperti mahasiswa lain yang selalu menggodaku dan mendekatiku dengan suara yang dimanja-manjakan saat berbicara denganku.

Dia perempuan yang terkesan cuek, dan menjaga jarak kepadaku. Dia tidak terlalu tinggi, badannya juga tidak bagus seperti gitar spayol, namun dia mempunyai tubuh yang proposional. Rambutnya lurus berwarna coklat kemerahan, dan kulitnya puti sedikit kemerahan. Dia wanita yang sederhana, namun cantik menurutku.

Aku sempat mencari informasi tentang perempuan bernama Erine itu dari teman dekatnya, dan hasilnya aku kecewa dengan informasi yang aku dapat. Perempuan itu sudah mempunyai teman dekat yang sedang menuntut ilmu Leiden Law School, atau Universitas Leiden Fakultas Hukum. Salah satu Universitas bergengsi yang ada di Nederland. Hebat sekali pacarnya batinku, seperti apa wajahnya?

Diam-diam aku search akun instagram Erine, dan ketemu. Disana memang ada satu foto saat dia wisuda bersama pria yang menurutku ganteng, wajah khas chinese sambil membawa bunga angrek. Setelah aku telusuri lagi, ternyata namanya Whillyam. Nama yang bagus, dan aku lihat di beberapa foto instagramnya ternyata dia lulusan SMA 3 Malang, ada beberapa foto juga yang memperlihatkan dia mendapat penghargaan di olimpiade. Wow bukan kaleng-kaleng berati cwonya, batinku lagi.

Suatu hari, aku dapat informasi dari mama bahwa ada anak praktek dari kampus tempat mama mengajar, dan aku terkejut salah satu mahasiswa itu adalah Erine. Rasa yang aku pendam dalam-dalam selama ini terhadapnya bahkan rasa itu sudah hampir hilang, kini muncul kembali. Semakin hari, aku semakin ingin mendekatinya.

Suatu malam saat dia menerima pasien sendirian, aku mendekatinya. Dia terlihat ragu untuk memberi tindakan hecting atau menjahit luka. Mungkin ini pengalaman pertamanya karna dia baru semester tiga, aku mencoba mendorongnya agar dia mencoba dan berani. Dan akhirnya dia berhasil menyelesaikan tindakan medis tersebut. Dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya tersenyum. Cantik, selalu itu yang ada dipikiranku tentang dia.

Takdir seolah menuntun kita lebih dekat setelah kita terkena COVID-19 dan harus menjalani isolasi berdua dirumahku. Dan dari situ, rasa ingin memilikinya semakin besar karna kami beberapa hari bersama. Aku nyaman ketika berada didekatnya, dan dia sosok wanita yang keibuan. Pintar memasak, pintar bikin kue, dan pintar mengurus rumah.

"Chain kamu kok ada logonya Vereenigde Oostindische Compagnie Er?"
Tanyaku memecah keheningan saat kita sedang berjemur di balkon.

"Chain apa dokter?"
Tanyanya dengan suara pelan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 21, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SATU CIRCLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang