"Erine... Ya Allah, beneran kamu?"
Aku mendongak menatap laki-laki yang memanggilku di ujung pintu masuk ruangan ini. Mataku tiba-tiba buram karna air mataku mau tumpah karna melihatnya, aku benar-benar kesal sekaligus marah kepadanya. Tapi disisi lain aku juga ingin mengadu dan memeluknya. Karna laki-laki inilah aku jadi bahan bullying dokter IGD bernama dokter Dessy tersebut.
#Flasback On
Siang itu disaat IGD penuh dengan pasien, aku diminta salah satu perawat disana yang bernama mbak Yetti melakukan tindakan skintest. Skin test adalah prosedur pemeriksaan pada kulit pasien yang dilakukan untuk mengidentifikasi reaksi hipersensitivitas terhadap alergen tertentu dan faktor pencetus pada penyakit yang berhubungan dengan alergi. Pada uji alergi antibiotik, tenaga kesehatan akan menyuntikkan sedikit antibiotik yang bersangkutan ke bawah kulit pasien.
Tujuannya untuk memastikan apakah pasien tersebut punya alergi terhadap obat tertentu seperti antibiotik jenis penicilin. Penicilin termasuk jenis obat yang paling sering memicu reaksi alergi. Setiap pasien yang datang dan rawat inap, akan dilakukan skintest itu untuk mengetahui pasien tersebut alergi terhadap obat yang akan diberikan atau tidak. Karena, reaksi alergi terhadap obat tertentu dapat menimbulkan gejala-gejala yang parah hingga mengancam nyawa. Misalnya seperti anafilaksis dan Stevens-Johnson syndrome.
Setelah melakukan skintest, seperti biasa aku membuang spuit yang sudah digunakan ke box berwarna kuning yang kita sebut safety box. Safety Box adalah wadah penampung limbah medis infeksius berbahaya seperti tabung suntik, jarum suntik, jarum infus, selang infus dan limbah infeksius lainnya. Yang kemudian akan dimusnahkan ke dalam tempat pembakaran.
Namun karna hal itulah masalah timbul, dokter Dessy marah-marah padaku dan mencari-cari kesalahan padaku di akhir shift pagiku ini. Aku dibentak dan dimarahi habis-habisan karna membuang spuit yang telah aku gunakan skintest tersebut ke safety box dengan alasalan spuit tersebut masih bisa digunakan.
"Spuit yang kamu gunakan tadi kemana?"
"Spuit yang mana dokter?"
Tanyaku bingung karna aku tindakan menggunakan banyak spuit hari ini.
"Ya yang kamu gunakan tadi, kamu kemanain?"
"Maaf dokter, spuit yang mana? Karna saya menggunakan banyak spuit hari ini."
"Spuit yang kamu gunakan terakhir kali. Kamu yang melakukan skintest ke pak Suyono kan?"
"Iya dokter"
"Nah... terus spuitnya kamu kemanain?"
"Sudah dibuang dokter"
"Apa? Kamu buang? Kemana?"
"Safety box"
"Gila ya kamu, enteng banget bilang sudah di buang. Itu tuh masih bisa digunakan lagi. Kalau kaya gini siapa yang dirugikan? Pasien Er, dia harus beli lagi spuit untuk masukin obat yang akan digunakan lewat selang infusnya."
Katanya sambil membentak dan marah-marah.
"Maaf dok, tapi bukannya biasanya gitu ya? Lagian ini spuit 1 cc dokter. Obat yang akan dimasukan lewat selang infus biasanya memakai spuit ukuran paling kecil 3 cc."
"Kamu mau ngajarin saya?"
"Maaf dokter, bukan maksud ingin menggurui. Tapi memang biasanya untuk terapi obat yang dimasukan secara Intra Vena kita memakai spuit 5 cc. Karna obatnya terkadang kita oplos dengan aquabides, khususnya antibiotik dok, biar gak perih waktu di suntikan."
"Sok tau kamu ya... berani-beraninya ngasih tau saya masalah gituan."
"Mentang-mentang ada tamengnya di Rumah Sakit ini. Sekarang saya gak mau tau kamu harus cari spuit itu. Bawa ke saya sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
SATU CIRCLE
Roman pour AdolescentsCircle cenderung mengarah pada lingkaran atau kelompok pertemanan. Sama halnya dengan seorang gadis yang bernama Erine Rose Defiana, dia mempunyai sahabat bernama Whily yang selalu ada untuknya. Persahabatan itu semakin hari tumbuh menjadi cinta. Na...
