Sore pun datang, saat nya Alexsa kembali ke hotel, untuk menyiapkan makan malam.
Masih aman. Karna si pemilik kamar tak ada ditempat, hingga dia leluasa kesan kemari bekerja, hal yang pertama dia lihat yaitu, makanan yang ditata diatas menjadi makan. Masih rapi tanpa disentuh.
"Dasar orang kaya. Suka buang-buang makanan. Tidak tau apa? Jika di luaran sana masih banyak orang yang kelaparan. " Oceh gadis itu ngedumel. Tangannya bergerak cepat memindahkan benda itu kedapur.
"Apakah benda ini harus dibuang? Atau dipanaskan saja?" Kebingungan melanda dihati Alexsa, Karna dia ingat akan kata staf yang mengantar dirinya keruang itu tadi, berkata
" Presdir tidak suka makanan dipanaskan, setiap makan dia harus dimasakin lauk baru" begitulah Bunyinya tadi.
"Huuuahh!" Alexsa melenguh sembari melihat menu yang saat ini di meja yang digunakan untuk memasak.
"Apa boleh buat, dari pada aku harus berurusan sama sipresdir yang katanya pria angkuh, sombong,dan dingin itu, lebih baik mulai memasak dari pada harus kena tegur." Dan gadis itu langsung memulai kegiatan nya, mengingat hari sudah hampir magrib. Jadi dia harus melakukan pekerjaan agar tidak ke magriban dijalan.
Waktu menjukkan pukul 18:00 saat ini dia telah menyelesaikan pekerjaannya. Ketika hendak melangkah keluar mau pulang, ternyata azan magrib berkumandang. Tentunya sebagai umat muslim, Alexsa mengurungkan niat untuk pergi. Dia memilih menunggu sebentar.
Tapi apa yang terjadi,sungguh diluar dugaan. Sang Presdir telah berdiri tegak di Mushola tempat penginapan itu. Walau Alexsa melihat pria itu hanya punggungnya saja, tapi berhasil membuat darahnya berdesir. Bahkan jantungnya berdebar tak karuan. Sehingga dia membeku ditempat.
Mata tak lepas dari pria yang ada dihadapannya itu, ntah rasa penasaran atau apalah, membuat gadis itu berdiri tegak dengan jantung bergemuruh menunggu sang Presdir selesai dengan ibadahnya. Rasa ingin tau siapa pemilik wajah dari pria ini saat ini sangat besar baginya.
Tidak dipungkirinya, perasaan ini seperti merasa jika dia mengenali orang yang ada dihadapannya itu. Hingga matanya melotot bahkan terkesan keluar dari porosnya. Dia saat dia melihat ketika pria itu menoleh kekiri dan kanan sambil mengucap salam ketika ibadah sholat usai .
"Mass Hanss..." Lirihnya dengan nada sepelan mungkin. Seketika Air matapun mengalir.
Gadis itupun melangkah kan kaki dengan senyum yang merekah, rasa rindu yang dia pendam selama ini sungguh membuatnya ingin memeluk sang suami.
Sementara Hans tak menyadari jika ada seseorang dikamarnya dan memperhatikan dia sejak tadi, dia masih larut dalam doanya.
Alexsa masih berjalan mendekati orang yang sampai saat ini masih dicintainya itu, bahkan tidak berkurang sedikitpun.
Hingga saat ini dia berada tepat dibelakang Hans, hanya berjarak beberapa inci saja. Ketika dia hendak meraih pundak sang suami. Bayangan masalalu pun seketika muncul. Dimana bayangan Anita dan Hans yang saling menguatkan. Juga ketika sang suami lebih memilih pergi menemui wanita itu dibanding tinggal bersamanya disaat dia butuh.
Perlahan gadis itu kembali menarik tangannya kemudian menyeka Airmata, walau berat di hanya bisa memutar arah dan memilih pergi dari sana.
Lagi-lagi gadis itu dilanda kesedihan, 6 tahun lamanya dia berusaha melupakan masalalu walau itu sungguh berat baginya. Kembali menerpa. Bayangan kebahagiaan dengan sang suami, bahkan ketika mereka ber cumbu pun dia mengingatnya.
Berjalan dalam hujan yang lebat, tanpa arah dan tujuan langkah yang gontai, dan tatapan yang kosong. Begitulah kondisinya saat ini. Bahkan suara petir pun yang biasanya membuat dia takut, saat ini bahkan tak dihiraukan olehnya. Sampai pada akhirnya gadis itu terhuyung dan jatuh ketanah kemudian tak sadarkan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm crazy about you, Uncle Duda
RomanceAlexsa seorang gadis remaja seperti gadis lainnya. dia juga menyukai lawan jenis. tapii.. ntah mengapa hatinya tertambat duda tampan. usia pria itu kisaran 45 tahun karna ketampanannya usia tua tidak terpancar diwajahnya, karna diliat dari wajahnya...
