Bab 78

841 23 0
                                        

Enam tahun berlalu..

Salena masih diambang keraguan, di tambah lagi waktu pernikahan mulai dekat. Tapi sifat Justin semakin berubah, pria tampan itu terlihat sangat sibuk, bahkan seakan lupa dengan dirinya.

Waktu wisuda mereka setahun yang lalu Justin pun terlihat terburu-buru hendak meninggalkan acara sakral itu. Tapi tetap gadis itu tidak bertanya dia memilih percaya pada sang tunangan dan mengabaikan kecurigaannya.

Sementara sang ayah terlihat sangat sibuk, mengurus hotel yang sudah rampung di Bali. Membuat pria itu jarang dirumah. Dan sudah diresmikan beberapa bulan lalu. Disana juga rencananya acara pernikahan Salena digelar.

Semakin hari gadis itu seakan tak dianggap ada, bagkan untuk pergi membeli kebutuhan pernikahan pun hanya ditemani sang calon ibu mertua. Sementara Justin tak tau rimbanya.

Menghela nafas panjang, hingga gadis itu meraih benda pipih dihadapannya. Saat ini dia berada disebuah kafe dimana mereka janjian ketemuan untuk membahas pernikahan. Lagi-lagi Justin tak datang, hingga gadis itu pun memilih pergi dari sana.

Dengan kurang bersemangat gadis itu meraih gagang pintu mobil, hendak memasuki. Detik itu juga ponselnya berdering. Gadis cantik itupun meraih benda itu didalam tas brandednya. Dilihatnya dilayar ponsel bertuliskan nama sang kekasih. Terlihat gadis itu abai, kembali memasukan benda itu kedalam tas. Dan melanjutkan niatnya untuk pulang.

Sesampai dirumah gadis itu tak memilih memasuki kamar, dia menuju ruang keluarga. Dan duduk disofa yang ada disana. Menyalakan televisi dan menekan tombol di remote tanpa aturan. Fikuran gadis itu saat ini sangat berat, dirinya semakin mantap ingin membatalkan segalanya.

Sementara ponsel sejak tadi berdering selalu diabaikan. Dia hanya melamun dengan tatapan kosong kelayar televisi. Hingga lamunannya buyar ketika Seorang pelayang mendekatinya dengan sebuah jus yang menyegarkan kan ditangan.

"Ini jusnya non.." ucap pelayan itu sopan.

Salena terlihat bingung, perasaan tak minta dibuatkan jus.

"Siapa yang minta mbok? Sya ngak minta.."

Pelayan itupun tersenyum. "Ini kebiasaan nona.. ketika pulang dari luar harus disuguhkan jus.. masa nona lupa?" Lagi pelayan itu berucap dengan sopan.

Salena pun m ngalah." Yaudah, taro diatas meja aja dulu mbok.." titahnya.

Pelayan itupun meletakkan tanpa berkata, kemudian dia memutar arah hendak menuju dapur.

"Papa udah pulang mbok?" Tanya yang hampir setiap hari dia tanyakan pada sang pelayan.

"Belum non, tuan belum pulang sejak satu Minggu yang lalu.."

Terlihat gadis itu menghela nafas berat. Tak ada lagi kehangatan yang diabrasakan sejak perginya Alexsa. Sang ayah bahkan tidak pernah menelfon sekedar bertanya apa yang dilakukan sang anak saat ini. Dia hanya akan menghubungi ketika uang bulanan Salena telah di transfer.

"Baiklah mbok, ngak usah masak untuk saya malam ini, saya sudah makan diluar.." kerja sang pelayang pun serasa berkurang, Karna tak ada meja makan yang berantakan dan juga piring yang harus dicuci. Mereka bahkan bisa merasakan perubahan rumah ini selam enam tahun ini.

" Iya non.." jawab pelayan itu dengan nada lesu. Walau bagaimanapun dia juga rindu di rekues masakan setiap hari,  dan sibuk dengan kompor yang saat ini jarang menyala.

Pelayan itu pun menghilang dari pandangan. Ponsel Salena masih saja berdering, dan sipemanggil pun masih sama. Kali ini Salena pun memilih menggesel simbol hijau. Pertanda panggilan diterima.

"Hallo sayang.. kok baru diangkat sih yang? Padahal dari tadi aku telfonin." Ucap pria tampan itu dari sebarang sana.

Tapi tak ada jawaban dari bibir Salena.

"Ko diam sayang?" Tanya pria itu

Masih saja tak ada jawaban dari Salena.

Justin pun memutar otak, pasti gadis itu kesal Karna tadi dia tak datang kejanjian mereka, diaman mereka telah mengatur rencana di cafe.

"Maaf ya sayang, aku ada urusan mendadak.." ucap pria itu merasa bersalah.

Masih tak ada jawaban dari Salena. Justin kembali mengecek layar ponsel, kali aja Salena memutuskan panggilan. Ternyata tidak, gadis itu masih betah mendengarnya sejak tadi.

"Maaf sayangg.." kali ini pria itu berucap dengan nada memelas.

"Justin, kamu telah berubah!" Sebanyak itu ucapan Justin, hanya itu balasan dari Salena.

Tentunya pria itu terkejut, "Maksud kamu sayang?"

"Iya.. kamu telah berubah Justin. Aku lelah.. aku butuh kamu Justin. Kamu tunangan kuu. Ketika bunda pergi, dan papa sibuk dengan kegiatannya.. aku kesepian. Apakah menurut kamu pernikahan ini layak untuk diteruskan kan? Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dari kuu, tapi aku ngak tauu.. itu apaa?" Kali ini gadis itu berucap dengan suara berat seperti menahan tangis.

"Sayang kamu menangis?"

"Jangan sok perhatian, apa peduli kamu? Pernikahan tinggal diujung mata.. aku hanya sendiri yang mempersiapkan. Kamu mau menikah ngak sih sama akuu!?" Ucap gadis itu dengan nada kesal.

"Kamu kok ngomong gitu yank? Tentu aku mau menikah dengan kamu."

"Bohong!" Ucap gadis itu spontan.

"Bohong gimana sayang?"

"Aku ngak tau, Justin. Aku seakan merasa.. kamu tidak menginginkan pernikahan ini dan. A-ku.."

"Ngak sayang, aku ngak pernah berfikir seperti itu."

Salena seakan tak perduli dengan ucapan Justin, dia hanya ingin meluapkan keluh kesahnya saat ini.

"Apakah ada orang lain, selain diriku? Atau kamu hatimu telah beralih arah?" Tuduh Salena sungguh membuat Justin tersinggung.

"Salena!!" Teriaknya dari sebarang sana.

Salena terkekeh " Aku sudah dapat jawabannya. Banyak yang mengatakan ketika seorang pria dipertanyakan kesetiannya.. maka dia akan marah, itu pertanda dia telah mendua. Berarti kamu dalam status mendua saat ini... Aku telah katakan Justin, aku bukanlah bunda.. yang selalu bersabar mengahadapi sifat aneh Papa.." selesai berucap, gadis itu memilih memutuskan panggilan sebelah pihak.

"Kamu salah sa.." ucapan terputus ketika Justin mendengar nada.

Tut..Tut..Tut..

Pertanda panggilan telah diputuskan sebelah pihak. Tapi pria itu melakukan panggilan sekali lagi, tapi tak ada jawaban dari sang kekasih, bahkan gadis itu menonaktifkan ponselnya.

"Kamu telah salah paham sayang, andai kamu tau apa yang aku lakukan selama ini, pasti kamu tidak akan memiliki pikiran lain tentang ku, aku bersumpah..apa yang aku lakukan demi masa depan kita sayang.."

Pria itu meraup wajah kasar, dia paham apa yang dirasakan Salena saat ini, ketika dia butuh seseorang, orang yang diharap malah abai.

"Bagaimana mungkin kamu dengan mudahnya mengatakan akan menggagalkan pernikahan ini, sementara ini impian ku, dan juga dirimu.. aku tak akan biarkan ini terjadi.. kita harus bicara sayang.." ucap pria itu sembari menyambar konci mobil diatas narkas.

Pria itupun melangkah keluar rumah. Ponselpun berdering, Justin pun segera menggesek simbol hijau.

"Ada apa?" Ucap.pria itu dingin.

"Ibu Rebecca ingin pertemuan digantikan hari ini bos, Karna lusa dia akan bertolak ke Swiss." Ucap seorang wanita dari sebrang sana.

"Tidak bisakah kamu melakukan penolakan untuk itu? Saya saat ini ada urusan yang lebih penting, katakan pada besok. Jika dia masih bersikeras, ya sudah batalkan saja sekgala kerja sama kita padanya."

"Tapii, bagaimana mungkin bos, buk Rebecca adalah infestor terbesar diperusahaan kita bos.." ucap yang lebih dikenal asisten itu mengingatkan.

"Aku tidak peduli! Urusan ku sekarang lebih penting dari ini.. jika kamu tidak bisa mengananinya, makan bersiaplah mengundurkan dirii!!" Seketika pria itupun memutuskan panggilan sebelah pihak.

"Masalah sepele pun harus melibatkanku, dasar kariawan ngak becus!" Kesal pria itu, hp ditangpun dibanting kedalam mobil. Baru dia memasuki dan mulai melajukan mobil, menuju rumah sang kekasih.





I'm crazy about you, Uncle DudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang