Ketika Alexsa keluar dari kamar mandi dan hendak melintasi Hans, saat itu juga Hans meraih tangan mungil gadis itu dengan lembut.
Ditatapnya sang istri dengan dalam, walau Alexsa tak beralih arah padanya. Tapi gadis itu menghentikan langkah dan mematung disana.
"Tidak adakah? Pintu maaf bagi mas sayang?" Lirih Pria itu dengan sangat dalam. Tapi Alexsa diam tanpa adanya niatan untuk menjawab.
" Mas tau sayang.. kamu masih marah sama mas, dan mas juga tau.. pintu maaf itu juga kamu tutup dengan rapat. Mas mohon sayang berikanlah sedikit ruang pintu maaf buat mas..." Lagi Alexsa hanya diam, berusaha menganggap ucapan Hans hanyalah dongengan. Agar hati dan dirinya tidak terpengaruh.
Gadis itu Tak akan membuat kesalahan yang sama, dengan berkali-kali memaafkan sang suami. Tapi apa yang dia dapat? Hanyalah sebuah penghianatan.
"Maaf tuan, biarkan saya pergi dari sini.. saya akan memulai pekerjaan saya, kemudian pulang! Anak-anak saya telah menunggu dirumah, saya yakin mereka pasti khuatir Karna ibu mereka tidak dirumah semalaman!" Balas nya dingin. Alexsa menarik tangannya dengan paksa hingga terlepas dari genggaman sang suami hingga pegangan Hans terlepas.
Alexsa mulai melangkahkan kaki keluar kamar menuju dapur. Sampai disana gadis itu tersandar lemah di meja yang saat ini dijadikannya tempat tumpuan tubuh, agar tidak jatuh. Tanpa disadari airmata pun keluar sendiri tanpa dikomando. Bayangan ketika Hans lebih memilih Wanita lain dibanding dirinya, kembali terlintas.
Alexsa tidak bisa pungkiri, seperti biasa dia pasti akan terpengaruh dengan ucapan Hans, tapi dia berusaha setegar mungkin Karna tak ingin kejadian masalalu yang berulang kali menimpanya lagi.
Sekarang sudah cukup, toh selama enam tahun dia sudah bahagia dengan enam anak kembarnya tanpa Hans.
Menarik nafas dalam kemudian Alexsa menghempasnya, " Jangan hiraukan apapun Alexsa, ayo kerjaa! Biar cepat pulang. Anak-anakmu pasti menantikan kepulanganmu.." gadis itu bergegas memulai pekerjaannya.
Sementara Hans masih duduk termenung ditempat yang sama, saat ini yang ada dipikirannya bukan lah cara meminta maaf pada Alexsa, ada sesuatu yang menarik telah diucapkan Alexsa tadi. Ya, anak. Anak siapkan itu? Apakah Alexsa telah memiliki pasangan lagi, atau?.
Hans bergegas bangkit dan menyusul sang istri ketempat saat ini dia menyibukkan diri. Ternyata saat ini Alexsa tengah asik dengan kompor dan juga wajan diatasnya.
Tanpa tanpa basa-basi dia langsung bertanya, posisi mereka saat ini. Alexsa memunggungi Hans.
"Maksud kamu anak-anak?" Ucap Hans seakan terputus sepertinya pria itu enggan akan menanyakan hal yang sangat pribadi bagi Alexsa menurutnya itu.
Alexsa yang terdiam sejenak dengan pertanyaan Hans, kemudian memilih abai dan melanjutkan kegiatannya.
"A.. apakah? Kamu menikah lagi? Atau?" Hans masih bertanya dalam keraguan.
Kali ini Alexsa mulai tidak sabar, dia berbalik badan dengan wajah marah.
"Maksud kamu apa mas!? Apa maksud kamu selama enam tahun ini aku jual diri! Dan mendapat anak-anakmu dari hasil hubungan ituu!?" Alexsa menyengir, sedangkan Hans menelan kerongkongannya.
"Aku tidak menyangka sifat mu sejak dahulu tidak berubah. Hanya bisa menuduhkuu!" Ucapnya lagi penuh penekanan.
"Maksudnya, mereka anakku?" Tanya Hans dengan wajah tegang dan nada terbata.
" Kelamaan bersama wanita perawan tua itu membuat kamu melupakan. Ketika aku pergi, juga bersama anak-anak muu!" Lantam Alexsa.
"Pe,perawan.. tuaa?" Hans seperti telah melupakan seorang Anita, Karna sejak Alexsa meninggalkannya sejak itu juga Anita meninggalkan dunia ini.
"Aku muakkk! Aku akan pergi dari sinii!!" Sarkas Alexsa sembari melangkah keluar.
"Tunggu.. mas belum selesai bertanya sayang.. maksud mas bukan begituu." Kembali Hans meraih lembut tangan Alexsa. Lagi-lagi wajahnya diliputi dengan penyesalan.
Alexsa ingat ketika dia meminta Hans tinggal bersamanya dari pada menyusul Anita, gadis itu tersenyum tipis dengan menahan air mata yang saat ini kan keluar.
"Aku pernah memintanya waktu itu, tapi kamu tidak peduli mas, kamu malah memilih wanita lain dari pada aku dan Salena yang saat itu lebih membutuhkan muu." Lirihnya.
Hans lagi-lagi terdiam, dan mematung sejenak. " Maafkan mas sayang.." ucap Hans penuh penyesalan.
"Lepas!!" Bentak gadis itu sembari menarik tangannya. Tapi Hans enggan akan melepas, malah pria itu semakin mempererat pegangannya.
"Ngak, aku ngak mau kamu akan pergi lagi dari sini.. kamu harus menjelaskan Alexsa. Ucapan anak-anak dari bibir muu.. tentunya membuat hati ku bertanya, bukankah kamu hanya hamil yang pertama ketika kamu meninggalkan ku dulu? Lalu..? Kenapa ada kata Anak-anak?"
Alexsa tersenyum tipis." Jika bukan kamu menikah lagi? Tidak mungkin ada kata Anak-anak ku?" Lanjut Hans lagi.
"Aku memang hamil sekali, dan melahirkan juga sekali. Tapi anak yang ku lahirkan. Enam orang." Balas Alexsa dengan nada menelan, seketika gadis itu ingat ketika beratnya dia mengandung dan juga melahirkan enam orang anak, tanpa adanya sosok suami. Untung ada seorang ibu yang dianggapnya ibu sendiri. Dia lah menemani perjuangan Alexsa sampai saat ini.
Seperti disambar petir, Hans sangat terkejut mendengar pernyataan Alexsa tangan yang tadinya Kokoh menggenggam sang istri perlahan melemah dan terlepas. Dan tubuh pria itu terhuyung jatuh kesofa yang ada disana. Betapa tak berguna ya dirinya saat ini, bahkan dia tidak tau jika gadisnya berjuang sendirian menghidupi enam orang anak.
"Lima diantaranya adalah perempuan. Dimana mereka sangat mirip dengan Salena, dan anak tertua ku adalah laki-laki, dimana sifat dan juga wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Hehehe.. aku hanya mengandung, tapi tak ada satupun diantara mereka yang mirip dengan kuu." Kali ini Alexsa berkata dengan nada bengkak Karna menahan tangis.
Hans hanya terpaku dengan linangan air mata. Dia seperti sangat patuh pada Alexsa saat ini dan mendengarkan semua ucapan Alexsa dengan khusyuk hingga selesai.
"Aku bukanlah seorang ibu seperti didrama dna novel. Dimana mereka akan menyembunyikan identitas ang ayah pada anak mereka." Kembali Alexsa tersenyum, tapi tetap dengan mode yang sama. Tak ada niatan baginya untuk berbalik badan melihat kondisi Hans saat ini.
"Mereka punya hak. Mengetahui siapa ayah kandung dari mereka semua, dan juga kerabat dekatnya. Tapi mereka bukanlah anak yang rapuh, dimana akan menangis ketika ingin bertemu sang ayah. Mereka masih bersabar menunggu kehadiran mu sampai saat ini. Karna mereka hanya mengetahui satu hal. Ayah mereka saat ini sedang bekerja diluar kota.. hingga susah untuk pulang menemui mereka." Papar Alexsa sejelas-jelasnya.
"Tapii? Kenapa kamu tidak menghubungiku? Walau bagaimanapun. Aku ayah mereka. Aku punya hak mengetahui keadaan mereka dan juga ibunya Alexsa.." Isak tangis Hans.
"Kamu membuatku seperti pria pendosa, Alexsa.. menelantarkan anak-anakku sementara aku masih bisa menghirup nafas dengan tenang."
Alexsa pun berbalik badan, dengan gemuruh didada. " Aku membenci muu mass!! Maka dari itu, aku tidak ingin kamu mengetahui apapun tentang diriku dan juga anak-anak ku! Mereka milikku! Aku yang memiliki hak penuh untuk mereka!!"
"Apa maksudmu Alexsa? Aku juga memiliki hak." Ucap Hans ngak mau kalah.
"Hak?" Ucap Alexsa semakin kesal.
Suasana yang tadi Melo drama menjadi sangat tegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm crazy about you, Uncle Duda
RomanceAlexsa seorang gadis remaja seperti gadis lainnya. dia juga menyukai lawan jenis. tapii.. ntah mengapa hatinya tertambat duda tampan. usia pria itu kisaran 45 tahun karna ketampanannya usia tua tidak terpancar diwajahnya, karna diliat dari wajahnya...
