Bab 83

746 20 0
                                        

Saat ini Alexsa telah sampai dihotel yang baru saja diresmikan di kota saat ini dia tempati. Memasuki bagian ruang pendaftaran kariawan baru, mulai dari OB hingga ke profesi lainnya dihotel itu. Banyak orang yang saat ini mengantri dikurai yang telah tersedia. Bahkan ada juga yang berdiri. Mereka semua berpakaian rapi tentu saja Alexsa paham mereka melamar pekerjaan untuk apa. Berbeda dengan Alexsa, bermodalkan ijazah SMA dia sadar diri melamar dalam bidang apa. Selain klening servis tentu tak ada jabatan lain baginya.

Tempat iya tuju bukan lah dimana saat ini dia berpijak, ternyata bagian yang dia tuju berada di ruang lainnya, hingga dia di tuntun menuju ruangan itu.

Dengan segala proses, akhirnya Alexsa pun dapat giliran, disini dia pelamar pekerjaan yang ketiga. Memasuki ruang interview seakan menjadi ruang panas baginya. Seketika badannya berkeringat dingin melirik pintu ruangan itu.

Dengan modal bismilah Alexsa melangkahkan kaki menuju ruangan yang ada dihadapannya itu.

Mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian meraih tuas pintu sembari mengucapkan salam. Dan dijawab salam juga oleh pegawai yang ada didalam.

" Silahkan masuk.." ucap Kariawan itu sopan.

Alexsa pun memberanikan diri memasuki ruangan panas itu, walau ruangan itu memiliki pendingin ruangan, tetap Alexsa merasa tempat itu panas, hingga membuat keringat terus mengalir.

"Santai saja Alexsa Ratna Dewi.. ucap staf yang ada dihadapannya itu dengan sopan.

Mendehem sekedar menetral kan suasana. Walau berusaha tetap wanita itu masih tegang.

"Tenang saja, siapapun yang mendaftar sebagai OB hari ini pasti diterima. Karna disini butuh banyak OB." Ucapnya lagi.

Saat ini Alexsa baru merasa sedikit lega dia menyerahkan sebuah map yang berisi lengkap disana, dari mulai surat lamaran dan juga antek-antek nya.

Staf memeriksa dengan seksama. Hingga akhirnya mengeluarkan suara.

Dia menyimpan map yang ada ditangannya. Karna tidak ada kesalahan dalam map itu. Dan mefokuskan diri pada Alexsa.

"Dengar Alex..."

"Panggil saya Ratna Bu, Karna itu nama panggilan saya" potong Alexsa seketika, ntah kenapa nama Alexsa harus dia kubur bersama masalalu nya.

"Baiklah Ratna.. kamu pelamar yang ketiga hari ini, dan dua yang mendahului kamu menolak menjadi kebersihan diruang  dan juga tempat istirahat pak Presdir. Padahal gajinya lebih besar, malah mereka lebih memilih menjadi kebersihan biasa yang bergaji standar."

"Berapakah gaji untuk menjadi kebersihan pak Presdir buk?" Tanya Alexsa penasaran.

"Gaji yang ditawarkan untuk para kebersihan sekitar tiga jutaan, tapi jika mereka mau menjadi kebersihan pak Presdir, gaji mereka jadi lima juta. Bahkan mungkin lebih... Pak Presdir sangat royal  akan uang."

Alexsa terlihat terdiam sejenak, dan tanpa fikir panjang dia mengiyakan ucapan Staf yang ada dihadapannya itu.

"Baik buu.. saya terima. Saya akan menjadi kebersihan Presdir, baik itu diruang kerja maupun dikamar pribadinya."

Mendengar ucapan itu Staf itupun langsung memberikan selamat, dan berkata.

"Selamat Ratna, mulai hari ini kamu sudah bisa mulai bekerja. Dan nanti kamu ada staf lainnya yang akan mengantar kamu keruangan dan kamar pak Presdir."

"Secepat itukah Bu?" Tanya Alexsa bingung. Seharusnya dia kan bekerja beberapa hari lagi disana, Karna sesuai syarat yang dia baca, jika diterima  Alexsa akan mulai bekerja tiga hari setelahnya. Mengingat hotel yang baru saja resmi masih banyak yang harus ditata.

"Iya.. ngapain lama-lama. Bahkan saat ini kamu juga harus menandatangani kontrak, dimana disana tertera..kamu tidak boleh meninggalkan pekerjaan ini sebelum masa kontrak habis, Karna kan ada sangsi untuk hal itu."

"Tapi buu.." Alexsa masih ragu, dia merasa semua terlalu terburu-buru dia takut akan salah nantinya jika dia Slam keadaan buru-buru begini.

"Tidak usah ada kata tapi, Saya janji akan bayar dimuka, jika kamu mulai bekerja dan menandatangani kontrak ini hari ini juga.." 

Alexsa masih membisu. Masih bingung mau jawab apa. Disatu sisi dia takut mengambil keputusan dalam terburu-buru, tapi disisi lain. Dia juga butuh uang untuk pendaftaran keenam anak kembarnya ditaman kanak-kanak.

"Tidak perlu difikirkan lagi Ratna. Saya langsung bayar dimuka satu bulan penuh!" Lagi staf itu berbicara dengan mayakinkan.

Kali ini Alexsa tak punya pilihan selain meiyakan ucapan orang yang ada dihadapannya itu.

"Baiklah... Saya akan terima Bu, dan akan bekerja hari ini juga. Benarkan, ibu akan bayar dimuka?" Ucapannya lagi memastikan.

Staf itu pun tersenyum puas. "Tentu Ratna. Bahkan saya akan bayar cash. Setelah kamu menandatangani kontrak ini" Staf itu menyodorkan sebuah kertas padanya, dan tanpa membaca isi didalamnya Alexsa pun menandatangani kontrak kerja itu.

"Baiklah Ini gaji pertama kamu, dan sebentar lagi ada seseorang yang akan datang membawa kamu keruangan dan kamar Presdir."

Alexsa hanya membalas dengan anggukan dia hanya mersyukur dalam hati, uang lima juta sudah ditangan.

"Alhamdulillah.. paling tidak uang ini bisa untuk membayar uang muka pendaftaran sikembar." Ucapnya dalam hati.

Tak lama berselang, seseorang datang seketika Staf langsungmenyruh orang itu membawa Alexsa ketempat yang dituju.

"Permisi buk, " pamit Alexsa sopan. Gadis itu menuju pintu mengikuti pegawai yang ada didepannya itu. Ketika pintu ruangan tertutup staf yang satunya bertanya. Kepada staf sebelumnya.

"Kamu yakin, memberikan kontrak terlalu dini pada gadis itu? Apakah tak akan ribet urusannya nanti?" Ucapnya khuatir.

"Aku tidak peduli, aku yakin dia tidak bisa melakukan apapun, Karna telah tanda tangan kontrak." Jawab staf sebelumnya.

"Tapi.."

"Emangnya kamu mau menjadi kebersihan diruang Presdir dan juga kamarnya? Aku lelah.. selalu aku yang ditunjuk untuk tugas itu.. memang pria itu tampan. Tapi dia angkuh, sombong dan dingin. Berhadapan dengannya selalu membuat ku membeku Karna terkena aura kulkasnya"

"Mana gue mau jadi kebersihan di ruangan si kulkas itu, mending gue jadi TKI dari pada harus berhadapan dengan pria ituu.."

"Nah.. itu kamu paham, aku yakin.. Ratna pasti bisa bertanggung jawab dengan tugasnya. Aku melihat jelas dia sangat membutuhkan uang. Biasanya orang seperti itu pasti menghargai pekerjaannya."

"Semoga saja..."

Dan mereka pun kembali dengan tugasnya .

Alexsa saat ini telah sampai ditempat yang dituju. Saat ini dia berada dikamar sang Presdir. Dia sengaja diarahkan kesana, Karna saat ini ruang kerja Presdir sedang dipakai karna pemilik ruangan itu sedang berada disana.

Dengan telaten Alexsa merapikan kamar yang luman besar itu. Kamar itu seperti sebuah rumah, ada ruang tamu dapur dan dua kamar tidur, juga lengkap dengan teras yang ada dibalkon.

Butuh waktu satu jam, baginya untuk membereskan semua, dari mulai mencuci pakaian dan juga memasak makan siang, Karna itu juga termasuk dalam kontrak, Alexsa harus bersedia memasak makan siang untuk sang Presdir.

Setelah merasa semua beres, Alexsa kembali meninggalkan kamar itu, dia pun menuju ruang kerja Presdir. Kali ini sang pemilik tidak lagi berada disana. Tidak butuh waktu lama baginya untuk merapikan ruangan itu. Hingga dalam sekejap tempat itupun telah rapi.

Tepat pukul 12 siang, Alexsa pun telah menyelesaikan pekerjaannya. Seperti yang tertera dalam kontrak, Alexsa bisa pulang. Dan kembali lagi sore hari ketika memasak makan malam untuk sang Presdir.

Alexsa pun menyempatkan diri pulang kerumah untuk mengurus sikembar.

I'm crazy about you, Uncle DudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang