Dihempaskan ke dalam jurang lagi dan lagi oleh orang terdekat. Sera tidak percaya siapa pun lagi, baginya orang tulus itu tidak ada.
Luka lamanya kembali terbuka dan semakin parah, alasan demi alasan sang mama yang menganiaya dan mengusirnya membuatnya semakin terjatuh. Andai saat itu mama papanya masih bersama, mungkin mamanya akan tetap memaafkannya dan melindunginya beserta bayinya.
Korban perceraian orang tua, itu yang terjadi pada Sera. Dirinya menerima ajakan pacaran dari Jendra pun karena kurangnya perhatian orang tua—papanya yang entah ke mana, dan mamanya yang super sibuk bekerja, karena selain berjualan paginya, Windy juga bekerja di tempat lain.
Suara Sera mungkin sudah habis karena terus menjerit dan meraung tanpa henti. Meluapkan segala rasa sakit di hatinya yang benar-benar tidak berbentuk lagi.
Sera meringkuk di ruangan gelap dan memeluk dirinya sendiri, cegukan kecil mulai terdengar dan suaranya benar-benar habis. Belum lagi rasa pusing yang terus mendera.
Dalam kegelapan ini ia melihat bayangan Mama Farah menghampirinya dan memposisikan kepala Sera tertidur di pahanya. Bayangan Farah itu mengusap rambut Sera penuh sayang. Apakah ini mimpi? batin Sera yang memang setengah sadar itu. Dan itu begitu membuat Sera nyaman.
“Kamu punya Mama, Sayang. Jangan berpikir kamu sendirian,” bisik Farah dengan serak, tak biasanya suara Farah seperti ini.
Sera tersenyum kecil dan merasa terharu. Ia melupakan Mama Farah, ibunda dari Jendra. Wanita yang begitu tulus menyayanginya.
“Ma, Sera mau tidur ya di pangkuan Mama, kalo Joe udah pulang bangunin Sera,” lirihnya penuh harap. Ia peluk pinggang Farah erat dan sebelah wajahnya tenggelam di paha Farah, setelah itu matanya terpejam.
Ma, kenapa kita tidak ditakdirkan menjadi ibu dan anak kandung? Ibu seperti Mamalah ibu yang aku mau. Sera membatin dan setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Farah memang menyayanginya, namun kasih sayang dari Farah itu melukai hati Sera, semua itu membuatnya berandai ibu kandungnya adalah Farah bukan Windy.
Jendra yang sedari tadi berdiri di ambang pintu menatap nanar Sera, begitu pedih rasanya melihat kondisi perempuan itu sekarang. Karena pada kenyataannya tidak ada siapa pun yang memeluk Sera saat ini. Lantas siapa yang Sera panggil Mama? Ilusi yang diciptakan Sera kah? Atau sesuatu yang tak kasat mata?
Posisi Sera benar-benar meringkuk di lantai kotor di salah satu ruangan di gedung terbengkalai, kedua tangannya melingkar seperti memeluk sesuatu padahal kenyataannya tidak ada apa-apa, dan Jendra juga mendengar dengan jelas kalimat yang keluar dari mulut Sera barusan.
Sera pergi ke bangunan itu untuk menyendiri dan berteduh dari hujan, dan sialnya ia melupakan bahwa Alea dan Jendra bisa melacak dirinya lewat ponselnya.
Jendra berjalan menghampiri Sera dan berjongkok, tak tega rasanya untuk membangunkan. Tangannya perlahan mengusap kepala Sera, menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantiknya lalu mengusap wajahnya yang juga sembab itu. Di luar hujan, dan biarlah Sera tertidur, dia pasti begitu lelah.
Jendra kembali menangis dalam diam seiring usapannya di kepala Sera, ada Alea yang ikut bersama Jendra hanya berdiri di ambang pintu menatap dua insan itu dengan tatapan miris. Persahabatan Alea pada Sera benar-benar tulus, dan ia sungguh-sungguh sudah menganggap Sera sebagai adik sendiri, hanya awal perjumpaan mereka yang disayangkan.
Alea mundur dan memilih diam di luar, tidak mau mengganggu mereka, menatap air hujan yang terus berjatuhan membasahi tanah. Alea berdoa saat itu juga, semoga kebahagiaan secepatnya menjemput Sera.
Satu jam berlalu, hujan mulai mereda dan Sera mulai terbangun. Ia masih mengingat mimpinya bersama Mama Farah, anehnya kali ini terasa nyata, tubuhnya juga terasa hangat dan ada sesuatu yang menyelimuti. Begitu mengedip ke atas ia begitu terkejut ternyata bukan Mama Farah melainkan Jendra, pemuda itu juga tidur dengan punggung menyandar ke dinding, kepala Sera tidur di pangkuannya dan jaket Jendra menjadi selimut Sera.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fate and Pain
FanfictionHamil dan menjadi orang tua di bangku sekolah. 🔞 Menguras emosi ⚠️ *** Satu tahun menghilang, tidak ada yang tahu bahwa siswi yang kembali ke sekolah yang sama itu kenyataannya telah mengandung dan melahirkan anak dari Jendra Adisaka Bumi, pemuda p...
