Part 62

236 24 6
                                        

Perihal mencintai, tidak selamanya harus memiliki dan bersama. Sebab cinta yang tulus itu tidak menuntut apapun. Mengetahui yang dicintai bahagia, sudah lebih dari cukup.

***

"Rio, lu gila ya!!" pekik Tiar sambil meletakkan sekantong camilan yang baru saja ia beli di minimarket depan rumah sakit.

Dia menatap sengit Rio yang asik bermain ponsel, lalu dengan raut wajah cemas menghampiri Azzam yang bersandar di dekat tembok kamar mandi dengan wajah yang basah.

"Yaampun Zam, lu ngapain ke kamar mandi sendiri gini." Tiar langsung mengulurkan tangannya untuk membantu memapah Azzam. Baru saja tangannya ini menyentuh lengan Azzam, dia seketika terkaget saat Azzam menjauhi Tiar tiba-tiba

"Astaghfirullah Tiar, lu ngapain??" kagetnya, "wudhu gua batal, Ti. Lu ngagetin gua."

Tiar hanya meringis melihat Azzam yang sepertinya frustasi seperti itu. "Gua panik tadi, luka di perut lu belum kering banget, ngapain jalan-jalan sendiri gitu."

"Lebay lu," celetuk Rio, "si Azzam cuma ke kamar mandi nggak pergi kemana-mana. Lagipula emang lu mau anterin masuk ke kamar mandi? dasar mesum," ledek Rio.

Tiar seketika memelototkan matanya mendengar ucapan Rio yang seakan menjatuhkan harga dirinya. Dengan tergesa ia segera memiting tangan Rio.

"Woi sakit!!" pekik Rio. Dengan kasar ia segera melepaskan pitingan Tiar. Untung saja sekuat-kuatnya tenaga Tiar, masih kuat lagi tenaga Rio. Memang cewek ini gila sekali asal miting anak orang.

Tiar hanya mendengus sambil mengusap tangannya yang sedikit nyeri akibat Rio barusan. "Lu temen macam apa sih, bukannya bantu Azzam, seenggaknya jalan ke depan kamar mandi. Malah asik main ponsel."

Rio yang baru saja membuka mulutnya untuk membalas ucapan Tiar, seketika merapatkannya lagi saat Azzam angkat suara.

"Kalian kenapa jadi ribut gitu?" tanyanya, "Ti, gua baik-baik aja. Lagipula gua sendiri yang mau jalan. Makasih udah peduli," ujar Azzam, "buat lu Yo, tuh tanggungjawab tangannya si Tiar sakit gara-gara lu barusan." Setelah itu Azzam balik lagi ke kamar mandi dengan perlahan sambil memegang perutnya sesekali. Dia harus berwudhu lagi sebelum waktu shalat ashar abis.

Selepas kepergian Azzam untuk mengambil wudhu. Datanglah dua orang gadis dengan mukena yang mereka bawa masing-masing. Sepertinya baru selesai shalat ashar.

"Assalamualaikum," salam Risa dan Ananda yang memasuki ruangan.

"Wa'alaikumussalam," jawab Rio dan Tiar serempak sambil memalingkan muka satu smaa lain.

"Kalian kenapa?" tanya Risa yang peka dengan keadaan. Sepertinya habis terjadi suatu hal. Hal itu bisa dilihat dari raut wajah Tiar dan Rio yang tidak santai.

"Tuh sepupu lu nyakitin tangan gua," unar Tiar sambil mengusap lengannya.

"Dia duluan yang miting gua," ujar Rio.

Risa yang sudah terbiasa melihat pertengkaran biasa ini hanya menggeleng maklum. Pandangannya langsung tertuju kepada bankar rumah sakit yang kosong. Tunggu, kemana Azzam?

"Azzam kemana?" tanya Ananda yang mewakili pertanyaan Risa sedaritadi.

"Tuh Azzam," Rio segera menunjuk Azzam yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Sama seperti Tiar, Risa tidak kalah khawatirnya saat melihat Azzam yang baru keluar kamar mandi. Apa lukanya tidak sakit? Kenapa Azzam malah jalan-jalan? Kalau lukanya kebuka lagi gimana? Risa seketika meringis membayangkan hal-hal buruk yang dia pikirkan barusan. Ingin menghampiri dan membantu Azzam berjalan tapi tidak mungkin. Dia hanya bisa memperhatikan Azzam yang berjalan perlahan untuk kemudian terduduk di atas kasur rumah sakit.

Past and FutureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang