Hening. Keadaan lorong di sebuah rumah sakit menangkap beberapa insan yang tengah termenung dengan ekspresi yang beragam. Akan tetapi, berbeda dengan Risa yang masih terisak sesekali. Dia benar-benar tidak menyangka musibah ini menimpa temannya. Rana Athila. Gadis cantik keturunan Indonesia dan Arab itu baru saja menjalani operasi. Walau dokter mengatakan bahwa operasi berjalan lancar, tetap saja Risa belum tenang karena Rana belum siuman juga sejak beberapa jam yang lalu.
"Ris... udah dong. Dari air mata lu yang seluas samudra sampai sekering dompet Dinda, masa lu masih nangis juga," ujar Rio.
"Kalau lagi nggak di rumah sakit udah gua bantai dah,"gumam Dinda sambil melirik sinis pada Rio yang malah cengegesan nggak jelas. Dinda rasa, cowok itu udah hilang akalnya.
"Kalian temannya Rana ya?" tanya seorang wanita dewasa yang umurnya kisaran 40 tahunan.
"Iya tante, saya temannya Rana semasa tes untuk seleksi beasiswa," ujar Risa dengan nada yang teramat rendah karena suaranya mulai habis kelamaan terisak.
Risa masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Rana di gedung tes keduanya waktu itu. Gadis itu sangat baik karena sempat meminjamkan pensil saat tempat pensil Risa tertinggal di rumah. Semenjak itu, Risa dan Rana berteman walau tidak terlalu dekat, setidaknya mereka saling menyemangati setiap akan melakukan tes.
"Terima kasih ya sudah datang. Tante izin cek keadaan Rana lagi," ujarnya sambil tersenyum tipis.
"Btw... gua heran kenapa pas kecelakaan yang pertama kali ditelpon si Risa," ujar Tiar.
Risa sedikit mengernyitkan dahi sambil berpikir. Risa juga tidak terlalu mengingatnya, dia segera membuka resleting tas untuk mencari telponnya. "Ponsel aku mana ya?" tanya Risa.
"Nih, tadi lu tinggalin di jok mobil." Tiar segera memberikan ponsel Risa yang daritadi disimpannya.
Risa segera membuka menu telpon dan benar saja. Setengah jam sebelum kecelakaan ternyata ada panggilan masuk dari Rana. Risa rasa ia tidak sadar ada panggilan itu karena hanya masuk 2 dering panggilan. Seketika muncul pertanyaan dibenaknya terkait, mengapa Rana menelponnya sebelum kecelakaan terjadi?
"Rana kenapa ya nelpon aku?" Tanya Risa sambil menatap kawannya satu-persatu. Walau dia tahu, bahwa temannya mungkin lebih bingung darinya karena kenal saja tidak, apalagi tahu alasan Rana menelpon. Setidaknya Risa cuma mau menyampaikan kebingunganya juga yang mungkin tidak ada titik temunya, kecuali Rana sudah siuman.
"Sebenarnya Rana–" Rio tiba-tiba saja buka suara di antara kebingungan yang menyelimuti setiap pasang mata di Koridor itu.
"Udah deh mending lu diam. Lu mah gabisa diharepin, paling asal ngomong nggak jelas," Potong Dinda sekenanya.
"Gapapa dengerin dulu aja," ujar Ananda.
"Yaudah, jadi apa?" tanya Tiar malas.
Azzam yang awalnya sempat termenung, seketika memfokuskan pikirannya ke sahabatnya satu ini. Walau ucapan Dinda benar juga kalau Rio suka asal bicara, tetapi tetap saja Azzam paham bagaimana karakter Rio sebenarnya. Untuk urusan serius seperti ini, dia tidak mungkin bercanda.
"Sebenarnya dia mau minta maaf sama lu, Ris." Rio sempat menelan salivanya dalam-dalam. Seperti ragu atau berat mengatakan hal itu. Intinya cowo ini benar-benar memasang tampang serius.
"Minta maaf kenapa?" tanya Azzam dengan dahi yang mengkerut.
"Loh kamu kenal Rana? Kamu kenapa bisa tahu? Tunggu, kamu nggak lagi asal ceplos aja kan? Serius ini nggak lucu loh–" cerocosan Risa tiba-tiba saja terhenti karena bekapan Dinda. Sungguh Risa benar-benar shock sekaligus antara percaya tidak percaya dengan ungkapan Rio barusan. Kenapa Rio bilang seperti itu? Rio kenal Rana?
"Bisa dengerin dulu nggak Ris, kita juga penasaran. Lu malah nyerocos," ucap Dinda sambil melepaskan bekapannya itu. Udah jelas Dinda juga lebih penasaran kenapa Rio kenal Rana. Tiba-tiba saja dia cemburu, padahal dia sendiri belum tahu juga detailnya. Memang ya kalau orang yang kita suka udah kenal atau sebutin perempuan lain, rasanya beda di hati.
"Semalam ada nomor yang nggak dikenal WA gua," Ujar Rio.
"Terus itu Rana?" Tanya Dinda penasaran.
"Duh ceritanya nggak usah dipotong-potong," gemas Tiar tidak sabaran.
"Terus gimana?" tanya Risa dengan keadaan yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Iya, ternyata si Rana. Gua nggak penasaran sih dia dapat nomor gua darimana. Gua cuma heran dia WA gua gini." Rio segera menunjukkan ponselnya yang sudah menampilkan room chat dia dengan Rana.
From:
+62812********
Assalamu'alaikum yo. Ini aku Rana, temennya Risa. Harusnya aku sampein ini langsung ke Risa. Tapi, aku nggak ada keberanian, Yo. Aku nitip permintaan maaf aku buat Risa ya.
"Nah tadinya pas ketemu Risa hari ini gua mau nanya nih siapa Rana. Gua aja nggak kenal. Tapi, kalian tau sendiri gua pelupa. Baru ngeh sama pesannya ya pas gua tau dia kecelakaan hari ini," Ucap Rio merasa tidak enak karena informasi sepenting ini dia malah lupa memberitahu.
"Kenapa dari awal sampai sini lu nggak cerita, malah diem aja, " Keki Tiar.
"Duh gimana gua mau cerita, lihat noh Risa aja sibuk nangis daritadi. Gua nunggu waktu yang pas lah," Ujar Rio tidak mau disalahkan.
"Ris, lu yakin hubungan lu sama dia baik?" tanya Dinda.
"Baik banget kok. Dia suka bantu aku malah. Aneh rasanya dia minta maaf sama aku, padahal dia lebih sering bantu aku. Aku yang harusnya banyak terima kasih sama dia," jelas Risa.
Risa Berusaha mengingat bagimana hubungan dia dengan Rana selama ini. Seberapa keras dia mengingat, tidak ada satu memori pun di mana tindakan atau perkataan Rana yang membuatnya harus sampai meminta maaf kepada Risa. Dia juga cuma beberapa kali bertemu Rana, di luar dari tes dia tidak pernah bertemu Rana. Intinya mereka kenal, tetapi tidak sedekat itu.
Sekarang netranya menatap dalam pintu ruangan Rana dirawat. Banyak hal yang menggangu pikirannya saat ini. Dia berharap Rana cepat siuman. Semoga saja.
Bogor, 02 Februari 2025
.
.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jujur bulan kemarin kaget banget ternyata masih ada yang nunggu cerita aku. Mau ucapin banyak Terima kasih sama zzzzzaaammmm karena berkat komen kamu, aku jadi kepikiran buat lanjutin cerita ini lagi. Terima kasih ya atas support dan semangatnya!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Past and Future
EspiritualAdrisa Resyafa atau kalian bisa saja memanggilnya Risa. Hanya seorang gadis dengan tubuh kecil untuk ukuran anak SMA, kulit kuning langsat dan mata yang sipit. Di masa putih abu-abunya, gadis tersebut mengalami berbagai macam hal. Dimulai dengan per...
