Saat ini, Risa tengah termenung di bangku taman sekolah sambil sesekali mencoret-coret asal notebook nya. Awalnya, dia hanya ingin mencari ide untuk tugas membuat cerita pendek pelajaran bahasa Indonesia, tetapi pikirannya benar-benar tidak bisa diajak kerja sama sekarang. Sampai saat ini Rana belum juga siuman, tidak ada tanda-tanda kemajuan dari gadis itu.
Risa menutup matanya sejenak sambil merasakan semilir angin yang menyapu wajah mungilnya. Sejuk. Mungkin karena cuaca di Bogor yang kerap sekali mendung, sehingga walau sudah pukul 11 siang tidak begitu terasa panas. Wajar juga, saat berangkat sekolah tadi saja gerimis.
"Ehh." Risa tersentak saat merasakan bulir-bulir air mengenai wajahnya. Ia sedikit mengusap wajahnya yang terkena gerimis saat ini. Padahal baru saja reda, tetapi sudah hujan lagi saja. Pantas saja dijuluki sebagai kota hujan, baru reda sebentar saja sudah hujan lagi.
Risa bergegas meninggalkan bangku taman untuk mencari tempat yang aman agar tidak terkena hujan. Kakinya segera melangkah menuju tempat yang amat sering ia kunjungi. Di mana lagi kalau bukan perpustakaan. Sebenarnya KBM sudah di mulai sejak 10 menit yang lalu, tetapi Risa tidak mengikuti. Bukannya dia bolos, tetapi dia diberi reward oleh Bu Wiwi, guru bahasa Indonesia kelas XII. Hal ini dikarenakan nilai Ulangan Harian Risa di atas KKM. Jadi, saat ini hampir 90% temannya sedang remedial secara lisan. Memang bu Wiwi kasih target KKM UH bab kali ini agak tinggi yaitu 85.
Mungkin bagi sebagian orang pelajaran bahasa Indonesia dianggap sepele. Bahkan ada yang bilang "ngapain sih ada pelajaran bahasa Indonesia, toh kita udah bisa bahasa Indonesia." Sebenernya pikiran seperti itu amat salah sekali. Dulu guru bahasa Indonesia SMP nya pernah mengatakan bahwa kalau pelajaran bahasa Indonesia nggak ada, bagaimana manusia bisa menjalani hidupnya? Sebab, dari kita masih kecil pelajaran yang dipelajari di sekolah paling awal pasti membaca dan menulis, tentu saja itu berkaitan dengan bidang bahasa. Dari hal dasar itu saja masih banyak orang yang tidak menyadari.
Padahal kalau mau ditelaah lagi, hidup kita ini dikelilingi sama hal yang berkaitan dengan bidang bahasa. Contohnya materi teks prosedur di bahasa Indonesia. Jika materi seperti itu tidak ada, bagaimana orang-orang menjalani hidup jika mereka tidak diberi prosedur atau petunjuk untuk melakukan suatu hal yang baru atau bagaimana mereka bisa mengerjakan suatu hal baru tanpa ada tata caranya. Kalau dijelaskan tentang "kenapa sih bahasa Indonesia penting?" Mungkin bisa butuh waktu lama untuk menjelaskannya.
Saking asiknya berspekulasi dengan isi kepala sendiri, Risa tidak menyadari bahwa langkahnya sekarang malah membawanya menuju UKS. Sepertinya fokusnya mudah hilang beberapa hari ini. Padahal niat awalnya mau ke perpustakaan, entah kenapa malah sampai di UKS. Risa sendiri juga bingung.
Risa yang awalnya mau memutar balik arah menuju perpustakaan, seketika terhenti karena terdengar decitan pintu UKS yang terbuka dan disusul munculnya seorang pria yang amat ia kenal.
"Ris, mau kemana?" tanyanya.
"Eh, Azzam. Mau ke perpustakaan," balas Risa.
"Ohhh, bareng aja. Ana juga mau ke perpus," ajak Azzam sembari berjalan duluan.
Risa yang sempat terdiam segera menyusul langkah Azzam di belakangnya. Risa sedikit kesulitan menyusul langkah Azzam yang lumayan cepat. Akan tetapi, ia segera menghentikan langkahnya.
"Loh kenapa aku harus ikut jalan cepet," gumamnya sambil jalan normal seperti biasa. Ia suka heran kenapa jalan cowo bisa lebih cepat daripada cewe. Apa karena kaki mereka lebih panjang dari cewe, sehingga jalannya cepat? Atau stamina mereka lebih kuat dari cewe? Entahlah yang jelas sekarang Azzam sudah jauh di depannya. Risa jadi heran, cowo itu yang ajak barengan ke perpustakaan, tetapi dia juga yang ninggalin.
Hingga akhirnya, Risa sampai juga di perpustakaan. Aneh, padahal cuma ke perpustakaan, tetapi Risa jadi merasa lelah sekarang. Mungkin efek muter-muter dulu karena dia malah nyasar ke UKS. Ia segera meletakkan sepatunya ke rak dan membuka pintu perpustakaan.
Tanpa ba-bi-bu karena sudah terbiasa datang ke perpustakaan, Risa segera mengisi daftar pengunjung yang terletak di meja depan. Matanya meliar untuk mencari space yang aman untuk melanjutkan kegiatannya mencari ide untuk cerpen. Sepertinya meja ujung paling belakang cukup tepat.
"Akhirnya," ujanya lega saat berhasil menempati bangku nyaman itu. Ia segera meletakkan alat tulis dan buku di atas meja. Sekarang ia sedang memperhatikan coret-coretan asalnya saat di taman tadi. Ia segera meraih pulpen hitam dan menambah dengan coretan baru yang mungkin akan membantunya menyusun ide cerita.
Baru juga ingin fokus menyusun ide cerita, Risa seketika tersentak karena kedatangan Azzam yang tiba-tiba saja karena duduk di depannya, disusul beberapa tumpukan buku. Sepertinya cowo itu baru saja mengambil beberapa buku di perpustakaan.
"Lagi ngapain?" tanya Azzam penasaran.
"Hmm buat tugas," ujar Risa.
"Tugas apa?" tanya Azzam bingung. Masalahnya yang Azzam lihat, Risa tidak terlihat sedang mengerjakan tugas. Buku pelajaran saja tidak dia bawa. Dia hanya membawa buku kecil yang Azzam lihat hanya penuh coretan pulpen di sana sini.
"Kamu nggak dapat tugas dari bu Wiwi?" tanya Risa.
"Oh tugas yang buat cerpen itu kan?"
"Iya, aku lagi cari ide," jawab Risa. Sambil melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi..
"Padahal masih sebulan lagi deadline nya," ucap Azzam.
"Iya sih, tapi aku suka nulis juga kan. Makanya pas dapat tugas kayak gini excited aja," balas Risa.
Azzam hanya membalas dengan mengangguk paham. Dia sampai lupa bahwa Risa ini memang suka membaca buku daridulu, wajar saja dia juga suka menulis. Azzam juga suka membaca seperti Risa, tetapi untuk menulis belum ada kepikiran untuk memulainya. Seperti sekarang, dia sampai khilap membawa banyak sekali buku, padahal yang dia bisa baca mungkin hanya salah satunya saja. Efek terlalu banyak buku baru di perpustakaan saat ini.
Mungkin sekitar setengah jam, tidak ada lagi obrolan yang tercipta di antara kedua siswa yang sudah tenggelam dengan dunianya masing-masing. Hingga akhrinya, bel pertanda istirahat kedua berbunyi hingga menyadarkan mereka untuk menghentikan aktivitasnya.
"Yuk keluar," ajak Azzam.
Risa hanya mengembuskan napas lelah saat lagi-lagi Azzam pergi terlebih dahulu tanpa menunggunya. Ia segera merapikan barangnya dan menyusul Azzam yang ia lihat sudah berada di ambang pintu perpustakaan.
"Ris, maaf ya," ujar Azzam tiba-tiba saat Risa baru saja keluar dan hendak mengambil sepatunya di rak.
"Untuk apa?" tanya Risa bingung.
"Gapapa, mau minta maaf aja. Ana duluan ya. Assalamu'alaikum," pamit Azzam dan melangkah cepat meninggalkan Risa.
Risa hanya mengerutkan dahi bingung. "Kenapa sih dari kemarin semua orang minta maaf ke aku, tapi kasih tau alasannya aja enggak," gumamnya.
Bogor, 09 Februari 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Past and Future
EspiritualAdrisa Resyafa atau kalian bisa saja memanggilnya Risa. Hanya seorang gadis dengan tubuh kecil untuk ukuran anak SMA, kulit kuning langsat dan mata yang sipit. Di masa putih abu-abunya, gadis tersebut mengalami berbagai macam hal. Dimulai dengan per...
