Mungkin memang harus seperti ini, agar tidak ada yang menyakiti dan tersakiti.
***
"Apa!!!"
Risa seketika menutup kedua telinganya, saat mendengar pekikan yang membahana itu.
"Hah?? Serius lu??" Sahut suara yang lain.
"Iya, emang kenapa sih?" Tanya Risa.
"Iya emang kenapa sih. Itu bagus dong," ujar Ananda bingung.
"Ya gimana ya, lu daftar Osis?" tanya Tiar yang masih tidak percaya.
"Lah iya. Apa salahnya?" Tanya Risa yang masih gregetan karena kedua sahabatnya malah tidak percaya.
"Ya ga salah Ris. Tapi ini kan lu Ris??" Ujar Dinda sambil menggelengkan kepalanya.
"Lu kan geser Ris!! Astaghfirullah!! Kagak ada wibawanya," heboh Tiar.
"Wahh Tiar gitu dong, kalau kaget ucap istighar. Alhamdulillah," syukur Risa sambil menengadah kedua tangannya.
Tiar sedikit mendengus mendengar ucapan Risa, bukannya si Risa nangkep maksud ucapannya, tapi malah nangkep kata yang lain. Terus juga apa katanya tadi, kaget? Udah jelas Tiar greget bukan kaget.
"Ck.. Ris lu mah malah nangepin yang lain," decak Dinda.
"Ihh kenapa jadi bawa - bawa wibawa sih, Risa itu mau daftar jadi ANGGOTA Osis bukan ketua Osis," keki Ananda.
"Noh dengerin tuh, kasian si wibawa dibawa - bawa," sahut Risa makin ngaco.
Sedangkan Tiar dan Dinda yang memang sudah tidak tahan dengan tingkat Risa yang makin absurd, hanya bisa memijit dahi masing - masing.
"Lu jangan main - main deh, Osis itu berpengaruh buat perkembangan sekolah kita ya," ujar Dinda.
"Siapa yang main - main. Gua serius dah," balas Risa.
"Ananda dukung Risa!! Semangat!!". Ananda menyemangati sahabatnya itu dengan mengepalkan tangan kanannya ke udara.
Merasa ada yang menyemangati walau hanya Ananda, Risa membalas dengan mengepalkan tangannya ke udara. "SEMANGAT!!"
Tiar dan Dinda hanya saling lirik, hingga kemudia ikut mengepalkan tangannya ke udara, "semangat Risa!!"
Mendengar dukungan dari semua sahabatnya Risa segera mengembangkan senyumnya dan bangkit dari kursinya.
"Ehh mau kemana Ris??" Tanya Ananda
"Mau ngasih formulir ini," ujarnya sambil mengacungkan sebuah kertas yang berlogo Osis itu.
Dengan langkah kakinya yang semangat Risa segera menyusuri koridor yang lumayan rame itu, hingga saat dia ingin menaiki tangga menuju ruang osis di lantai dua, langkah Risa seketika memelan, hingga lama kelamaan Risa hanya bisa berdiri kaku menatap tangga itu.
Di sana tepat beberapa meter darinya, berkumpul segerombolan siswa yang asik bersenda gurau di sana sambil memainkan gitarnya. Mereka asik duduk - duduk di gundukan tangga itu sambil sesekali melempar kulit kacang ke sana dan kemari. Risa merasa kasihan kepada bapak tua yang membersihkan sekolah ini.
Entah kenapa Risa masih merasa takut jika bertemu dengan gerombolan lawan jenis, sungguh Risa lelah harus merasa takut seperti ini. Risa yang memang sedaritadi hanya menundukkan pandangannya pada lantai marmer itu seketika mengalihkan pandangannya kepada kerumunan itu yang mulai bubar yang sepertinya menuju kantin sekolah.
Dengan napas lega, Risa segera menaiki tangga yang penuh kulit kacang itu satu persatu. Dia sedikit bingung kenapa kerumunan itu bubar seketika.
Dan tepat saat Risa sudah berbelok menuju ruang osis seorang cowok muncul dari balik tembok dekat tangga. Pandangannya terus memperhatikan Risa yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Past and Future
SpiritualAdrisa Resyafa atau kalian bisa saja memanggilnya Risa. Hanya seorang gadis dengan tubuh kecil untuk ukuran anak SMA, kulit kuning langsat dan mata yang sipit. Di masa putih abu-abunya, gadis tersebut mengalami berbagai macam hal. Dimulai dengan per...
