Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bonus Part #2

4.2K 274 41
                                        

"Opa!"

Teriakan kecil yang menandakan kesenangan dari si pemilik suara terdengar nyaring di ruangan itu. Bahkan Ardan yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu sampai tersenyum saat mendengar cucunya memanggil dia dengan keras.

Ardan menghampiri cucunya. Keningnya berkerut tidak suka saat melihat perban di sudut kening cucunya.

"Apa masih sakit?" Tanya Ardan.

Ardan mendecak kecil saat melihat anggukkan kepala cucunya.

"Sakit opa," Jelas sang cucu.

Ardan duduk di ranjang rawat cucunya. Memang saat ini Ardan ada di salah satu rumah sakit milik keluarganya. Ardan baru mendapat kabar dari Davin menantunya, kalau cucu kecilnya terluka dan dirawat di rumah sakit ini.

"Ansel mau opa pangku?" Tawar Ardan.

Bocah kecil itu mengangguk. Ardan memindahkan cucunya ke pangkuannya. Dia mengusap sayang puncak kepala cucunya.

"Ansel... Mau beritahu opa kenapa kening Ansel terluka begini?"

Ansel mengangkat kepalanya menatap sang kakek. Ansel mengerjap kecil sebelum dia memeluk kakeknya.

"Ada om jahat yang mau membawa Ansel dari mama dan papa, opa," Adu Ansel

"Om jahat?"

Ansel mengangguk.

"Siapa?"

Ansel menggeleng. "Tidak tahu," Jawabnya.

"Apa Ansel ingat apa yang orang jahat itu katakan?"

Ansel terdiam. Dilihat dari raut wajahnya, dia sedang mencoba mengingat sesuatu. Ardan tersenyum saat melihat raut wajah menggemaskan itu keluar dari wajah cucunya. Akan tetapi, raut itu berubah dengan cepat menjadi murung. Jelas saja, Ardan penasaran dengan apa yang cucunya ingat.

"Opa..." Panggil Ansel sambil mendongakkan kepalamya lagi untuk menatap kakeknya.

"Ya?"

"Apa Ansel bukan anak papa? Bukan cucu opa dan oma juga?"

Pertanyaan itu membuat Ardan menarik satu kesimpulan. Siapa om jahat yang dimaksud oleh Ansel dan bagaimana Ansel berada dalam kondisi seperti sekarang, sedikit banyak Ardan mulai memahaminya.

"Siapa yang bilang begitu?" Tanya Ardan.

Ardan mencium kening cucunya dengan sayang.

"Ansel cucu opa dan oma. Ansel anak papa dan mama. Jangan percaya pada om jahat itu, ya!?"

"Tapi, opa... Om itu terus bilang Ansel anaknya. Dia juga bilang kalau papa bukan papanya Ansel. Ansel takut opa... Ansel takut tidak bisa bertemu papa lagi..." Ujar Ansel dengan sedikit isakan yang mulai keluar.

"Ssshhh... Cucu opa jangan menangis!" Ujar Ardan dengan lembut.

Ardan menghapus kedua air mata Ansel. Ansel masih saja menangis. Jelas sekali anak itu ketakutan.

"Ansel... Dengarkan opa!" Ujar Ardan.

"Ansel akan tetap menjadi anak dari papa dan mama sampai kapan pun itu. Ansel juga akan tetap menjadi cucu opa dan oma, sepupu dari Lita dan Stella, keponakan tante Nia, om David, tante Ella dan om Davin. Ansel selamanya akan menjadi bagian dari keluarga Dimitra," Ujar Ardan menegaskan.

"Siapapun yang berani mengusik Ansel seperti om jahat itu, opa, kedua opa yang lain dan para om juga papa-mu akan menghukumnya. Opa janji!"

Ansel mengangguk. Dia memeluk kakeknya lagi.

[DS #1] His PossessionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang