Extra Part - Anthony 2

11.4K 640 7
                                        

Ardan sedang di ruangan rapat saat Jim datang dan memberikan sebuah amplop padanya.

"Dari siapa?"

"Saya tidak tahu, tuan. Itu hanya dititipkan pada satpam tadi,"

Ardan mengangguk. Dia membuka amplop itu dan membaca selembar kertas yang ada di dalamnya. Ardan terbelalak. Dia langsung memanggil Jim dan membuat teman-temannya heran.

"Ada apa tuan?"

"Anak-anak dimana?"

"Farrel mengantar mereka pulang seperti yang anda minta tuan,"

"Kapan?"

"Sekitar dua jam yang lalu,"

"Kita pulang sekarang Jim!"

Jim langsung mengangguk. Ardan mengambil jasnya dan segera keluar tanpa berpamitan pada teman-temannya.

"Ada apa?" Tanya Davian.

"Seseorang mengincar anak-anakku. Dia mengatakan akan membunuh mereka,"

"Biar aku hubungi polisi," ujar Davian.

Ardan berjalan dengan cepat diikuti oleh teman-temannya. Arka dan Adinata memilih pulang karena, mereka takut terjadu sesuatu pada anak mereka. Ardan bahkan meminta Jim melajukan mobilnya dengan lebih cepat. Tiga puluh menit menempuh jalan yang cukup lengang itu, mereka sampai di pintu komplek. Kening Ardan berkerut saat melihat rumahnya gelap.

Ardan dan Jim segera turun dari mobil. Mereka masuk bersama dengan polisi yang dihubungi oleh Davian tadi. Mata Ardan menangkap siluet Farrel terbaring di dekat pintu utama.

"Farrel," Ardan memanggil pria itu. Tidak ada pergerakan, dia memeriksa Farrel dan ternyata pria itu terluka di pinggang kanannya.

Polisi yang ada disana langsung mengevakuasi Farrel ke rumah sakit. Sisanya tetap berada di lokasi. Ardan mencoba membuka pintu dan pintu itu terkunci dari dalam. Jim menyalakan lampu yang sengaja di padamkan itu. Ardan mendobrak pintu utama rumahnya. Bersamaan dengan pintu yang terbuka, lampu di rumah itu kembali menyala.

"ANTHONY!!!!" Ardan berteriak saat dia melihat putranya terjatuh dari lantai dua.

Ardan segera berlari. Berharap dia bisa menangkap badan putranya. Nyatanya, badan Tony lebih dulu menyentuh tanah. Darah muncrat keluar dari mulut Tony. Kepala anak itu mengarah ke arah Ardan. Ardan langsung berlutut dan menangkup pipi putranya. Ardan bisa melihat darah mulai mengalir dari bagian bawah kepala putranya.

"Tony..." Ardan memanggil dengan lirih.

Ardan bisa melihat kalau putranya merasakan sakit yang teramat. Dia melihat badan Tony bergerak sedikit lalu, anak itu menangis. Ardan mengusap airmata putranya yang bercampur darah.

"Tony. Bertahan Tony. Bertahan sebentar. Jangan tertidur, okey!?"

Ardan mendengar kegaduhan di belakangnya. Dia masih terpaku pada Tony. Ardan menerka luka apa saja yang mungkin akan putranya alami. Kemungkinan terburuk melintas di kepalanya. Lumpuh. Kalau putranya sampai lumpuh permanent, ini akan menjadi dosa besarnya pada putranya. Ardan menangis. Dia benar-benar merasa bersalah pada putranya.

Suara ambulance dan tepukan di bahunya membuat Ardan mengangkat kepalanya. Adiknya disana. Arsen sedang berdiri di sebelahnya dan mengangguk kecil padanya. Ardan menggeser badannya memberi ruang pada Arsen dan beberapa dokter lain untuk menangani putranya yang sudah terpejam itu. Arsen memasangkan penyangga leher pada putranya. Dia juga meletakan handuk di bawah kepala putranya. Selain itu, dokter-dokter yang lain memasang penyangga di kaki dan tangan Tony.

[DS #1] His PossessionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang