Kehangatan Keluarga

17.3K 951 52
                                        

Several years later,

Plak!!

Suara keras nan menggelegar itu menyambut kepulangan Ardan setelah dia pergi mengurus hotel yang ayahnya berikan padanya. Dia cukup terkejut. Bukan. Bukan di pipinya tangan lentik itu mendarat. Akan tetapi, rasanya Ardan merasakan sesuatu sama sakitnya dengan rasa tamparan itu.

"Mara..." Ardan menghampiri istrinya dan menahan tangan sang istru yang sudah terangkat kembali ke atas.

"Ada apa ini?" Tanya Ardan.

Ardan melihat pipi anaknya memerah akibat tamparan Maura. Ardan juga melihat anaknya memilih naik ke atas, berlari ke kamarnya. Ardan langsung melepaskan tangannya dari tangan Maura dan meminta penjelasan dari istrinya tercinta itu.

"Anak kesayanganmu itu membuat masalah lagi!" Ujar Maura dengan emosi yang masih belum surut.

"Sayang, pertama, Ella anak kita dan aku menyayanginya seperti aku menyayangi twins. Kedua, kesalahan apa yang Ella lakukan sampai kamu menamparnya seperti itu?"

Maura menghela berat. Mencoba meredakan emosinya.

"Sayang, aku tidak melarang kamu untuk memarahai anak-anak. Kalau mereka memang salah dan nakal, kamu berhak menegur dan memarahi mereka. Tapi, memukul? Sayang, tidakkah ada cara lin untuk mendidiknya?"

"Aku kehabisan kesabaran jika menghadapi Ella. Dia benar-benar membuat malu keluarga,"

"Ada apa?"

"Tanyakan sajalah pada anakmu itu,"

"Sayang,"

"Aku tahu, Ardan. Aku tahu. Kamu tidak ingin Ella sepertimu,"

Ardan tersenyum kecil saat dia tahu istrinya mengetahui kekhawatirannya.

"Hn. Kamu benar. Aku takut dia sepertiku. Ella sedang dalam masa dimana dia ingin dibebaskan tapi, ingin dimanja di saat yang bersamaan. Aku takut, jika kita terlalu keras padanya, dia akan berpikir kita tidak menyayanginya atau lebih parah kalau dia berpikir kita tidak menginginkannya. Padahal, kita sangat amat menyayanginya,"

"Kamu lebih sabar dalam menghadapi Ella. Kamu saja yang bicara padanya, Ardan,"

Ardan mengangguk. Dia mencium puncak kepala Maura dan segera beranjak naik menuju ke kamar kedua putrinya. Memang rumah Ardan hanya memiliki 3 kamar tidur, satu kamar pembantu, dan 4 kamar mandi. Karena itulah, Ella dan si bungsu di satukan dalam satu kamar di lantai dua. Di sebelahnya ada kamar di pangeran satu-satunya dalam keluarga Ardan. Kamar Ardan dan Maura ada di bawah.

"Ella," panggil Ardan sambil mengetuk pintu kamar putrinya.

"Ella, papa boleh masuk?" Tanya Ardan.

Tidak ada jawaban apapun.

"Baby Elle, papa ingin bicara denganmu, sayang,"

Pintu kamar itu terbuka. Ardan melihat putrinya menunduk dengan bahu yang sesekali bergetar. Ardan tahu putrinya menangis. Ardan mengusap puncak kepala putrinya. Dia juga memeluk Ella dan mengusapi punggung Ella dengan sayang.

"Ssstt... jangan menangis lagi, sayang!" Ujar Ardan.

Ella mengangguk. Dia melepaskan pelukannya dan membiarkan ayahnya masuk ke dalam kamar. Ella duduk di atas kasur dan Ardan memilih bersimpuh di depan putrinya. Tangannya menangkup pipi Ella dan mengusap airmata putrinya dengan sayang.

"Ella,"

Ella mengangkat kepalanya.

"Ada apa?" Tanya Ardan.

[DS #1] His PossessionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang