Jangan Menangis!

20.7K 1K 13
                                        

"Habiskan makananmu, sayang," ujar Ardan.

Sontak saja Maura menatap Ardan penuh protes seolah Ardan baru saja mengatakan hal gila. Walaupun kenyataannya memang apa yang dikatakan Ardan agak gila bagi Maura.

"Kenapa menatapku begitu?" Tanya Ardan.

"Apa kepalamu terbentur sesuatu?"

"Hm?"

"Ardan, kita sedang diawasi dengan orang yang bahkan kita tidak tahu siapa dan aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada kita. Sementara kamu disini menyuruhku menghabiskan makananku?"

Ardan mengangguk. Dia mengulurkan tangannya mengusap pipi Maura dengan ibujarinya.

"Aku sudah bilang, kan? Aku akan menjagamu. Kamu makan saja dengan tenang dan aku akan menjagamu dengan sangat baik,"

"Aku tidak bisa Ardan," Maura menggelengkan kepalanya kecil.

Ardan melihat pria itu sedikit bergerak dan Ardan langsung mengangkat tangannya yang satu lagi untuk menggenggam sebelah tangan Maura yang hendak berdiri.

"Sayang..." Ardan memanggil Maura dengan sangat lembut.

"Dengarkan aku dulu," sambungnya.

"Tidak Ardan. Aku tidak bisa!"

Ardan menahan tangan Maura dan menggenggamnya erat.

"Aku mohon. Tetaplah disini dan jangan bergerak, sayang. Dia akan curiga jika kamu bergerak dan tiba-tiba pergi,"

Maura menatap Ardan. Mata hitamnya menatap mata cokelat Ardan dengan lekat.

"Sayang, kamu percaya padaku, kan?"

Maura menatap Ardan ragu. Namun, genggaman tangan besar Ardan yang erat di tangannya, membuat Maura tahu kalau pria di depannya ini tidak main-main dengan ucapan dan janjinya. Maura mengangguk.

"Tetap seperti ini. Makan makananmu, dengan begitu dia tidak akan curiga pada kita,"

"Tapi-"

Ardan berdiri dan mencondongkan badannya ke arah Maura. Dia mengecup kening Maura dengan cukup lama dan lembut.

"Aku janji. Jika dia melakukan sesuatu yang membahayakan kita, keselamatanmu adalah prioritas utamaku," ujar Ardan dengan bibir yang masih berada di dekat kening Maura.

Ardan melihat pria itu masih menatapi dan mengawasi gerakan dirinya dan Maura.

"Makanlah, sayang," ujar Ardan sembari duduk kembali di kursinya.

Ardan sendiri mengambil makanannya dan memasukannya ke dalam mulutnya. Dia melakukan semuanya dengan sangat tenang dan sedikit demi sedikit ketenangan Ardan menular pada Maura. Ardan tersenyum tipis saat melihat gadisnya mulai tenang.

"Makanannya lumayan enak," ujar Ardan.

"Hn. Aku sering kesini kalau sedang menginap. Biasanya kami akan duduk disana," Maura menunjuk sudut ruangan.

Ardan tersenyum dan mengangguk. Matanya masih mengawasi pria yang mengawasi mereka. Maura sudah selesai dengan makanannya. Dia meminum teh yang dia pesan. Beruntung memang, Maura memesan teh yang kini bisa membuatnya sedikit jauh lebih tenang.

Ardan masih tersenyum menatapi Maura yang mulai tenang itu. Kepala Ardan sudah berisi serangkaian rencana untuk melarikan diri. Mengingat Harry tidak juga sampai di restoran. Memperhitungkan segala hal yang mungkin terjadi, Ardan memanggil pelayan untuk meminta bill dari makanan mereka.

"Ayo keluar, sayang!" Ajak Ardan.

Maura hampir menolak tapi, Ardan keburu berdiri di sebelahnya dan menggenggam tangan Maura. Setelah dia meninggalkan uang tip di meja.

[DS #1] His PossessionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang