⸻
Keheningan mendera ke duanya. Kini Mingi maupun Yunho sudah keluar dari kolam.
Mingi melirik ke arah Yunho yang sejak tadi diam saja, dapat ia lihat jika tubuh pria itu sedikit bergetar⸺kedinginan.
Puk!
Yunho langsung menoleh saat sebuah handuk kecil mendarat diatas kepalanya, tentu saja itu ulah Mingi. Pria itu tengah membersihkan badannya.
"Jangan pernah melepaskan kacamatamu di depan banyak orang." Yunho mengerutkan dahinya. Ia sedikit menengadah, menatap pria itu yang berdiri di depannya.
Kegiatan Mingi yang tengah membersihkan tubuhnya terhenti, ia membalas tatapan kebingungan dari pria manis itu ke arahnya.
"Hanya aku yang boleh melihatmu tanpa kacamata tua itu..." Mingi menurunkan badannya, ia setengah berjongkok di depan kaki Yunho.
Mingi kemudian meraih handuk putih itu dan mulai mengusap rambut basah Yunho. Yunho hanya membiarkannya saja. Toh itu juga ulahnya yang membuat seluruh tubuhnya basah.
"Apa kau sedang mabuk?" Yunho menelisik wajah Mingi. Pria itu sedang di landa kebingungan besar.
Pertama, dia sama sekali tidak terlalu mengenal pria ini jika bukan karena sahabatnya, Jung Wooyoung.
Kedua, kepala mendadak pusing mendengar intonasi bicara pria ini seakan-akan dia adalah miliknya.
Mingi hanya terkekeh gemas, lihatlah ekspresi wajah pria ini. Sangat mirip dengan salah satu anjing yang cukup di sukainya, retrover.
"Aku tidak mabuk alkohol, melainkan mabuk tentangmu." Mingi masih mengusap kepala Yunho hingga satu gerakan Yunho membuat Mingi menahan napasnya.
Pria itu menarik tengkuknya, entah bagaimana pria itu bisa bangkit dari duduknya dengan gerakan cepat dan berdiri tepat dihadapannya.
Jemari panjangnya masih menahan tengkuknya, mata bulat yang menatapnya dengan polos kini berubah menjadi tatapan tajam, cukup membuat Mingi terpesona.
"Tetap seperti ini..." Ujar Yunho tanpa melepaskan tatapannya pada Mingi.
"Jangan perlihatkan wajahmu. Jangan melihat ke arah dinding kaca." Mingi yang ingin menoleh ke arah yang Yunho sebutkan ditahan oleh jemari Yunho, pria manis itu mengapit jari telunjuk dan ibu jarinya pada dagu Mingi.
Keduanya terdiam dalam posisi yang cukup intens dan akan membuat siapa saja menjadi salah paham jika menyaksikan langsung posisi mereka.
"Bisa merepotkan jika mereka memotretnya..." Batin Yunho.
Pikirannya sibuk berkelana tanpa menyadari bahwa Mingi menatapnya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa terbaca. Iris mata Mingi terfokus pada bibir berwarna pink soft tersebut.
Tanpa sadar ia meneguk kasar ludahnya. Sejak tadi sebenarnya dirinya sangat ingin merasakan benda kenyal itu namun di urungkannya.
Atensi Yunho tertuju pada Mingi saat merasakan sapuan lembut pada wajahnya, ibu jari pria itu bergerak menyapu sudut bibirnya. Yunho ingin menghantam pria ini karena telah lancang menyentuhnya sembarangan namun ia urungkan karena dirinya harus menghalangi pria ini supaya tidak terlalu menarik perhatian orang-orang yang mengawasinya dari jauh.
Ya, Yunho sangat sadar jika ada beberapa orang yang selalu mengamatinya dari jauh, meski dia tidak tahu rupa mereka tapi dia sangat yakin akan hal itu.
Siapa lagi jika bukan para suruhan kakaknya. Terutama kakak pertamanya. Ia tidak ingin jika orang disekitarnya akan terkena masalah jika tertangkap basah berbuat hal buruk padanya.
