Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jaehyun menatap ke arah sang kakak, ia membuka maskernya.
"Suaranya serak dan berat, dia sakit." Mata elang Subin menatap tajam pada gedung yang menjulang tinggi di hadapan mereka.
Ia mendengus kesal karena tidak bisa berbuat banyak.
Jaehyun menyisir helai rambutnya dengan jemarinya. Rasanya dia ingin langsung menghampiri adiknya itu dan menyeretnya pulang ke mansion.
Tapi apa boleh buat, itu semua demi adik tercinta mereka.
Subin kembali menatap layar ponselnya,dahinya mengernyit heran.
"Anak nakal itu mematikan ponselnya..." Jaehyun pun terbahak kemudian menatap kembali ke arah sang kakak. Dia jadi tidak bisa melacak posisinya.
Jaehyun sudah sangat terbiasa mengenai kebiasaan buruk sang adik, itu masih lebih baik menurutnya.
Bagaimana dengannya?
Belum sedetik panggilannya masuk, anak nakal itu sudah langsung menolak panggilannya.
" Hyung, kau masih cukup beruntung karena panggilanmu di angkat oleh my bear, bagaimana denganku?" Jaehyun menunjuk dirinya sendiri. Subin menatapnya.
"Bahkan baru sedetik panggilanku masuk, anak nakal itu langsung menolaknya tanpa menelponku setelah itu. Pesanku pun tidak di balasnya." Curhat Jaehyun menggelengkan kepalanya. Subin hanya mendengus mengejek.
Tak habis pikir dengan adiknya itu.
Sifat keras kepala sang adik benar-benar mirip dengan mendiang sang ibu. Subin menerawan sejenak.
Jika dirinya dan Jaehyun tipe ambisius, adiknya itu sebaliknya.
Dia bahkan tidak tanggung-tanggung memutuskan untuk berlari keluar dari mansion dan tidak ingin dirinya di kenal dengan titel Jung yang orang banyak kenal.
Memang sejak dilahirkan, adiknya itu di sembunyikan dari khalayak umum karena permintaan sang ibu, Subin tidak menduga bahwa adiknya itu justru sangat menikmatinya, bahkan dia bisa leluasa bermain di luar sana tanpa di buru oleh para pemburu berita sialan itu.
Sebagian dirinya merasa bersyukur soal itu tapi sebagian tidak, kenapa?
Karena waktunya bersama sang adik menjadi sangat sedikit, bahkan sekarang mereka sangat sulit untuk berkumpul bersama. Apalagi dia jarang pulang ke mansion, hanya Jaehyun yang tinggal disana menemani ayah mereka.
Kalian bisa bayangkan sendiri, betapa kesepiannya seorang Uknow di mansion sebesar itu?
"Posisi terakhirnya berada di lokasi rumah keluarga Song."
Jaehyun menoleh dengan cepat, ia memiringkan kepalanya dengan raut wajah bingung. Menatap ke arah kakaknya menuntut sebuah jawaban.
"Orang-orangku sedang mencari tahu." Subin berjalan menuju pembatas atap, berdiri di samping Jaehyun yang masih menatapnya dengan penuh tanya.