☷ 111

374 38 4
                                        

"Hng!"

Sosok wanita dalam keadaan terikat, mulutnya tersumpal, keadaannya terlihat cukup berantakan. Terlihat sebuah goresan agak panjang di wajah putihnya yang masih meneteskan darah segar, bekas air mata yang mengalir di wajahnya masih jelas terlihat dan sesekali setitik air mata terjatuh dari manik matanya yang menatap tiga sosok pria didepannya.

Satu pria yang berada di tengah itu duduk diam layaknya seorang bos dan dua lainnya berdiri tegak di belakangnya dengan raut wajah datar. Dirinya mengenal pria berambut perak itu.

Jung Subin.

Pria yang menjadi buah bibir di kalangan pebisnis, bahkan ayahnya sesekali membahas bagaimana ketegasan pria itu dengan para kolega-koleganya.

Tapi pertanyaannya.

Kenapa bisa pria itu menculiknya?

Apa kesalahannya?

Seingatnya dirinya tidak pernah mencari gara-gara atau dia tidak pernah mendengar bahwa ayahnya mencari gara-gara pada pria itu.

Bahkan salah satu pengawalnya langsung menyerangnya dan menggores wajahnya, ia tidak berani meneriakinya karena mata biru yang menatapnya sangatlah dingin, membuat nyalinya langsung menciut dan dia yakin jika dia melawan, pria itu tidak akan tanggung-tanggung membunuhnya.

"Ngh! Ngh!" Ia mencoba menjerit namun tidak sanggup karena mulutnya masih tersumpal. Rasa sakit di tubuhnya makin terasa, akibat guncangan di mobil sebelumnya karena mengerem mendadak.

Kejadiannya begitu cepat, di perjalanan pulang menuju rumahnya tiba-tiba mobilnya di hadang oleh mobil hitam dan menculiknya dalam sekejap.

"Sudah kau kirimkan pada tuan Lee? Katakan pada tua bangka itu untuk lebih mendidik putrinya dengan baik atau biarkan aku saja yang mendidiknya dengan benar."

Tubuh sosok wanita itu langsung menegang, tubuhnya gemetaran mendengar suara berat nan dingin itu.

Tidak.

Dia yakin jika maksud ucapan pria didepannya memiliki makna kebalikannya.

Manik matanya langsung menunduk,menatap lantai kala manik tajam itu menatap ke arahnya.

"Apa kau tahu dimana letak kesalahanmu?" Tajam dan dingin.

Sosok yang terikat itu menggeleng perlahan, air matanya menetes lagi mengakibatkan pandangannya sedikit buram.

Click

"Angkat kepalamu dan lihat perbuatanmu." Sekuat tenaga Subin menahan dirinya untuk tidak melenyapkan sosok wanita di depannya.

Dengan perlahan, ia mendongak dan menatap layar yang tengah memutar sebuah video singkat dimana dirinya tengah menyiram seorang pria, kejadiannya tadi pagi.

Kedua matanya membulat, tiba-tiba saja ia dilanda kebingungan.

"Lepaskan penyumpal mulutnya." Perintah Subin.

"Baik tuan." Bukan pria bermata biru itu yang menyahut tapi pria satunya yang wajahnya lebih terlihat lebih manusiawi.

Pria berambut merah menyala itu menghampirinya dan dengan kasar menarik benda yang menyumpal mulutnya.

Dia bernapas lega, rahangnya langsung terasa lebih baik.

Pandangannya langsung menatap kembali pada layar. Amarahnya tiba-tiba mencuat kembali kala sebuah wajah terpampang di layar tersebut.

"Bukankah harusnya anda berterima kasih padaku karena sudah memberikan pelajaran pada pria murahan itu? Pria itu bahkan merayu adik anda dan salah satu pria lagi di fakultas kami cih.."

Ateez - A LITTLE JUNGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang