☷ 115

375 43 2
                                        

Klik "✩" to this "★"

Yunho berjalan seorang diri di lorong kampus, meski berita mengenai tentang dirinya sudah tersebar dan mulai mereda, tetapi masih ada beberapa pasang mata yang melirik kearahnya dengan berbagai macam pandangan tapi Yunho memaklumi hal itu.

Sepanjang langkahnya, ia terkadang terkekeh kecil kala mengingat bagaimana masamnya wajah Wooyoung saat ini. Pria itu dimintai tolong oleh Mr.Park gara-gara kejadian sewaktu di ruang kelas ia membuat kegaduhan, well- meski itu bukan salahnya sepenuhnya.

"Hah anak itu pasti tengah menahan emosinya..." Gumam Yunho.

Sebenarnya Mingi ingin sekali mengantar Yunho pulang ke mansion tapi mengingat dirinya harus menghadiri pertemuan di klub basket, maka dengan berat hati ia membiarkan si manis itu pulang tanpa kehadirannya. Begitu pula dengan Jaehyun, mengingat waktunya sebagai mahasiswa pertukaran sudah semakin sedikit dan banyaknya tugas, maka dirinya pun tidak bisa mengantar si bungsu pulang, meski harus ada drama lagi karena hal itu.

"Lama tidak melihat anda, tuan muda."

Langkah Yunho terhenti kala melihat satu sosok familiar di depan gerbang kampus. Hari ini ia memang berencana untuk langsung pulang, siapa tahu sang kakak, Subin- ada disana. Yunho merasakan sesuatu yang tidak beres dengan kakaknya satu itu. Apalagi setelah berita keluarnya Sae rom dari kampus.

"Eric? Sedang apa kau disini?"

Yunho berjalan menghampiri Eric yang tengah tersenyum lebar ke arahnya hingga kedua matanya melengkung seperti bulan sabit. Yunho tidak tahu bahwa pria itu sekarang merasa sangat bahagia hanya karena melihat dirinya.

"Saya ditugaskan untuk menjemput anda, tuan Subin ingin bertemu dengan anda."

Eric masih mempertahankan senyum lebarnya, beberapa orang disekitar mereka, apalagi wanita,memekik kaget kala melihat sosok Eric yang sudah sangat lama mereka tidak lihat.

"Bukan itu-"

Yunho berdiri di depan Eric dan menelisik pria itu.

"- Bagaimana dengan kuliahmu? Bukannya ini masih jam kuliah?"

Tanpa sadar Yunho menggembungkan pipinya hingga memperlihatkan wajah bersemu, seperti buah peach yang membuat Eric mati-matian menahan dirinya untuk tidak mengunyel pipi putih itu.

Mirip dengan anjing retriever.

"Anda tidak perlu khawatir mengenai hal itu tuan, mari..."

Eric berdiri menyamping, menunjuk ke arah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Yunho menghela napas pelan, ini pasti pekerjaan sang kakak, kenapa pula dia menyuruh Eric untuk menjemputnya? Bukankah dia memiliki banyak pengawal yang usinya lebih tua dari Eric?

"Baiklah, tapi ingat, aku tidak akan menerima jemputanmu jika kau menjemputku dimasa jam pelajaran, aku ingin kalian fokus pada pendidikan.."

"Baik tuan muda.." Jawab Eric dengan senyuman.

Yunho pun bergerak, menuju arah mobil, diikuti oleh Eric dari belakang. Sudut mata Eric menangkap satu sosok yang tengah berdiri di parkiran, seperti tengah mengawasi mereka tapi memang itulah yang terjadi, sontak Eric menyunggingkan seringai ke arahnya sebelum ia masuk ke dalam mobil dan membawa Yunho ke tempat tujuan.

Subin apartemen...

Yunho merajuk.

Subin meringis melihat reaksi si bungsu setelah mengetahui cerita lengkap mengenai kejadian tempo hari. Awalnya ia tidak ingin membahasnya tapi karena Yunho, tepatnya tatapan berbinarnya dan raut wajahnya yang sangat ingin tahu, makanya Subin dengan berat hati menceritakan semua karena jika Yunho tahu dari orang lain, itu artinya dirinya akan diabaikan untuk beberapa hari sebagai hukuman.

"Itu sudah seharusnya yang dia dapatkan baby, kau tahu bagaimana aku menahan diri untuk tidak bertindak lebih jauh..."

Yunho menyenderkan punggungnya, mempoutkan bibirnya dan menatap tajam pada Subin. Mungkin bagi yang lain, raut wajah Yunho saat ini sangatlah menggemaskan tapi bagi Subin, itu seperti mimpi buruk karena jika sudah seperti ini, dia harus bisa meluruskan masalah yang terjadi atau dia akan memakan getah pahit akibat ulahnya.

"Tapi tidak perlu sejauh itu hyungie~ Dia hanya tidak tahu, emosinya tidak stabil dan hyung melibatkan bisnis ayahnya, bukankah itu bukanlah tindakan profesional, hyung?"

Skatmat.

Subin terdiam, jemarinya saling bertautan. Manik tajamnya menatap kearah lantai dan memikirkan ucapan si bungsu.

Itu memang merupakan hal dasar dan simpel, namun impactnya terlalu besar. Tapi bagi Subin, itu tidak ada artinya jika mereka menyakiti adiknya. Yunho menelisik reaksi sang kakak, ia menghela napas pelan kemudian bergerak menghampiri Subin.

"Kali ini akan kumaafkan, aku juga minta maaf karena mengabaikan hyung malam itu."

Subin langsung mendongak, mata mereka langsung saling bertatapan dan tanpa diduga, Yunho merengkuh tubuh sang kaka ke dalam sebuah pelukan hangat, Subin tertegun beberapa detik hingga senyum manis merekah di wajahnya dan membalas pelukan Yunho.

"Kau ini menggemaskan sekali.." Gumam Subin, ia menepuk pelan dan mengusap punggung lebar Yunho dengan lembut.

Yunho sendiri tengah tersenyum manis, dia tidak bisa langsung menyalahkan kakaknya lebih dari ini atau tanpa sadar lagi dia akan menyakiti hati si sulung.

"Setelah ini ayo makan bersama, hyung pasti belum makan.." Yunho melepas pelukannya, Subin mengangguk kecil kemudian berdiri.

"Masak bersama?" Tawar Yunho dengan wajah polos.

"Can i?" Ucap Subin sedikit ragu.

Yunho menepuk dahinya pelan, dia lupa jika kakaknya satu ini sangat payah dalam urusan memasak dan dapur. Meski dia ahli senjata, jika sudah membahas tentang pisau dan sejenisnya, maka tidak ada jaminan bahwa kondisi dapur akan selamat dari kekacauan dan ledakan.

 Meski dia ahli senjata, jika sudah membahas tentang pisau dan sejenisnya, maka tidak ada jaminan bahwa kondisi dapur akan selamat dari kekacauan dan ledakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ateez - A LITTLE JUNGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang