⸻
Malam telah tiba, sang surya kini diganti dengan sang rembulan yang memancarkan sinarnya menyinari langit malam. Begitu pula dengan lampu-lampu yang berjejeran di pinggir jalan mulai menyala untuk menyinari sepanjang jalan hingga menambah keindahan yang memanjakan mata.
para muda mudi terlihat berseliweran di pinggir jalan untuk sekedar mencari hiburan atau pun saling berkumpul di suatu tempat bersama teman-teman merek, namun sangat berbeda dengan seorang Jung Yunho.
Pria itu lebih memilih tinggal di apartemennya, berkutat dengan laptop serta kamera kesayangannya dibandingkan menghabiskan waktu malamnya berada di luar. Setelah ucapan Sunwoo sore tadi, Yunho langsung menghubungi sang kakak dan membuat janji bahwa mereka akan bertemu keesokan harinya.
Bisa-bisanya dia melupakan bagaimana perangai kakak sulungnya jika terlalu lama diabaikan.
Jika Jaehyun diabaikan, kakaknya satu itu tidak akan berbuat macam-macam, bisa Yunho katakan jika Jaehyun agak mirip dengan ayah mereka.
"Hah..." Desah Yunho sambil fokus menyiapkan makan malamnya meski sebenarnya sudah agak telat.
Itu semua gara-gara Subin. Pria itu benar-benar mengutarakan kekesalannya pada Yunho karena si bungsu itu terlihat lebih fokus pada Mingi.
Makhluk asing menurut Subin dan Jaehyun.
Triing
Triing
Triing
Telinga Yunho sedikit berkedut mendengar suara notifikasi dari ponselnya berbunyi tanpa henti, ia sengaja menaruh ponselnya di sofa supaya tidak menganggu aktifitasnya di dapur.
Entah siapa lagi yang mengiriminya pesan sebanyak itu, karena beberapa hari belakangan ini mau tak mau Yunho harus terus bersama ponselnya. Bisa jadi masalah jika kakak sulungnya langsung mendatanginya di kampus. Untungnya Sunwoo cepat menyadarkannya.
"Kenapa sih Subin hyungie tidak mencari pendamping saja? Dengan begitu hyung tidak akan merasa kesepian jika aku tidak ada didekatnya.." Monolog Yunho mengerucutkan bibirnya.
Pada dasarnya pikiran Yunho yang sangat polos, jadinya dia berpikir alasan kesepian kakaknya karena tidak adanya pendamping. Memang aneh, diusianya yang sudah seharusnya memiliki seorang pendamping, jangankan pendamping, seorang yang dekat dengan kakaknya pun tidak ada, pria itu hanya dikelilingi oleh pengawal dan berkas-berkas yang berisi tentang kondisi kantor diatas mejanya.
Selama ini, Yunho terus mengamati kakaknya, pria itu tidak pernah terlihat terkena gosip atau pun skandal dengan wanita lain ataukah seorang pria.
Terkadang Yunho ingin mencarikan kandidat calon untuk kakaknya, pernah sewaktu dia di Amerika, pertemuan mereka dengan putri ketua Song, kakak Mingi- awalnya Yunho pikir wanita cantik itu adalah kekasih sang kakak, ternyata mereka tidak ada hubungan sama sekali. Bahkan Yunho berpikir jika ayah mereka akan melakukan perjodohan tapi setelah mengingat bagaimana perangai Subin, hal itu sangat mustahil terjadi.
Ibarat unta pun akan ikut berbicara jika ayahnya mampu membuat sebuah perjodohan untuk si sulung.
"Hm enak..." Gumam Yunho setelah mencicipi sup sederhana yang ia buat.
Dengan telaten, jemarinya bergerak menyiapkan mangkuk, piring, dan hal lainnya kemudian menatanya diatas meja makan. Tak lupa ia menyiapkan potongan-potongan buah sebagai makanan penutupnya nanti.
Jangan pernah membayangkan bagaimana reaksi para pelayan keluarga Jung jika melihat Yunho berkutat di dapur, apalagi jika sudah berkutat dengan pisau dan benda tajam lainnya, rasanya jantung mereka akan lepas saat itu juga.
