☰ Note
Sudah hampir menuju 100 chapter. Apa alurnya kupercepat sedikit atau tetap mempertahankan alurnya dan mengcakup semua tokoh di dalam book ini?
Aku pribadi merasa tidak enak hati pada tokoh yang kupinjam namanya, meskipun hanya pemeran pembantu, aku merasa mereka juga peru mengambil bagian meski hanya sedikit.
⸻
Untungnya hari ini adalah hari dimana seluruh mahasiswa tidak memiliki jadwal kuliah alias libur sehari.
Hari Minggu, biasanya yang datang ke kampus pada hari itu adalah beberapa senior mereka yang memiliki janji dengan dosen atau ada yang mereka urus di kampus.
Yunho menatap jengah sosok pria yang masih tidur di sofa besar miliknya. Pria itu melipat kedua tangannya di dada, irisnya menatap lurus pada sosok di depannya.
Dengan perdebatan yang panjang dan cukup sengit, akhirnya Mingi pun mengalah dan tidur di sofa ruang tamu.
Catat, Yunho tidak ingin kejadian di apartemennya tempo lalu terulang kembali. Dimana dirinya dengan nyaman tidur di pelukan pria tinggi itu, Song mingi.
Alasan Mingi yang akhirnya menginap di apartemen Yunho adalah efek samping foto yang Yunho kirimkan padanya.
Setelah mendapatkan balasan pesan Yunho, Mingi seperti orang gila yang berteriak bahagia dan tanpa basa basi, pria itu langsung melesat mengendarai mobilnya dan meninggalkan sahabatnya begitu saja, Choi San. Malam itu mereka memang sedang berkumpul bersama, meski hanya berdua, dengan iseng Mingi mengirim fotonya.
Foto pertama itu hasil jepretan San dan yang kedua, hasil selfienya yang entah kesekian kalinya.
"Mingi-ya, sudah pagi.." Ucap Yunho tanpa niat untuk menyentuh pria itu untuk membangunkannya.
Tidak ada tanggapan.
"Mingi-ya, okiro!" Lagi namun dengan sedikit menaikkan suaranya.
Masih tidak ada tanggapan.
Yunho mulai jengah dan merotasikan bola matanya.
Karena tidak ingin sesuatu terjadi, Yunho memutuskan untuk mencolek kaki pria itu menggunakan kakinya.
Dengan sedikit mengguncang kakinya Yunho berkata," Sudah pagi Mingi-ya, bangunlah jerapah pemalas."
"Uhm..." Mingi hanya melenguh pelan dan menarik selimut itu kemudian menempatkan sisi wajahnya pada selimut tersebut.
Wajah Yunho menekuk, lama-lama dia gemas juga dengan pria itu. Kenapa sulit sekali membangunkannya?
"Jika kau tidak bangun, ya sudahlah tidur saja sekalian." Yunho bukan tipikal yang suka mengulang dan mengulang ucapannya jadi dengan cepat ia menyerah saja, lagipula cepat atau lambat pria itu akan bangun juga.
Kecuali ruhnya masih suka berkelana ke banyak tempat.
Yunho yang awalnya sudah akan melangkah menjauh dari sofa tempat Mingi tidur, ia menoleh kecil saat pergelangan tangannya di cegat oleh tangan lainnya.
Siapa lagi jika bukan Mingi, pria itu sedikit mengerucutkan bibirnya meski kedua matanya belum terbuka sempurna.
"Jangan pergi dulu,love..."Gumamnya dengan suara serak, khas bangun tidur. Pria itu mengambil napas pelan, kelopak matanya terbuka perlahan.
Sebenarnya pria itu sudah menyadari kehadiran si manis saat Yunho membangunkannya kali kedua ditambah dengan aroma manis yang menguar dari tubuhnya.
Mingi yakin jika pria itu sudah mandi dan akan segera bersiap membuat sarapannya. Mengingat anak itu sangatlah menghargai tiap waktunya.
