"Kalian pergilah duluan." Yunho berhenti berjalan, Wooyoung dan lainnya menoleh kearahnya dengan wajah bingung.
"Ada apa love?" Tanya Mingi tapi tidak ada jawaban.
Lagi-lagi pria itu diabaikan.
Eric melirik wajah Yunho beberapa detik kemudian melihat ke arah gerbang depan kampus, meski masih sangat jauh, pria berambut blonde itu bisa melihat siapa yang ada didepan sana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sebaiknya anda lewat belakang, fakultas tehnik. Biar saya yang menghampirinya." Tanpa menunggu reaksi dari Yunho, Eric berlalu begitu saja menuju arah gerbang utama.
Wooyoung yang sejak tadi mengamati keduanya hanya merasa gemas, ingin sekali dia menggeplak kepala pria kacamata itu, ah sekarang sudah tidak lagi.
"Love?" Yunho tanpa sadar menoleh ke arah Mingi. Pria itu sedikit terkejut karena si manis sangat jarang akan menengok kearahnya dengan panggilan itu.
"Apalagi? Huh aku sedang terburu-buru." Balas Yunho sedikit kesal. Mingi hanya terkekeh kecil dan meraih tangan pria manis itu kemudian menggenggamnya tapi dihempaskan dengan cepat oleh Yunho.
"Memangnya ada apa sih?" Tanya Wooyoung sambil melihat sekitar, tidak ada yang aneh.
San yang peka akhirnya menyeret Wooyoung menjauh dari mereka.
"Ya ya... kenapa kau menarikku!" Protes Wooyoung sedikit berontak, namun pegangan San lebih kuat.
"See later bro..." Seru San dan pergi meninggalkan Yunho dan Mingi.
Mingi menatap kembali ke arah Yunho, menelisik pria itu.
"Apa ada masalah?" Tanyanya lagi, Yunho menghembuskan napas pelan.
"Jeff hyung ada didepan sana." Jawab Yunho membalikkan tubuhnya dan bersiap berjalan keluar kampus lewat gerbang belakang.
Mingi mengeryit kecil.
Jeff hyung?
"Ah Jung Jaehyun..." Batin Mingi.
"Bagaimana bisa kau tahu itu dia?" Tentu saja Mingi tahu bagaimana dia mengatur ucapannya, si manis itu pasti akan langsung menghempaskanya jika mulutnya menyebut "kakak" di depan umum seperti ini.
Mingi memutuskan untuk mengikuti si manis menuju gerbang belakang, soalnya mobilnya nanti itu urusan lain.
"Firasat." Jawab Yunho Singkat. "Dan kenapa juga kau mengikutiku? Mirip penguntit." Mingi hanya menyegir dan berjalan di samping Yunho.
"Bisa begitu?" Pikir Mingi merasa aneh.
Apa sebegitu akuratnya firasat pria itu sampai-sampai dengan sangat yakin jika si putra kedua Jung itu ada disana?
Benar-benar keturunan yang mengesankan.
15 menit mereka berjalan, yang berbicara dan mengajukan pertanyaan hanyalah Mingi saja.