Berita tentang Jaehyun yang tengah berkencan dengan salah satu mahasiswa di Universitas Korea melesat dengan cepat di Universitas Yosei bagaikan badai yang secara mendadak muncul dan melulu lantakkan tempat yang ia datangi, tak ayal itu membuat penggemar Jaehyun langsung heboh dengan berbagai reaksi.
Sosok Eric yang baru saja memasuki gerbang kampus pun menghentikan langkahnya dan melihat sekitarnya yang bagi mata Eric mereka terlihat sangat menyedihkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kalian hanya sekumpulan penggemar dengan segudang khayalan yang menjadi boomerang untuk diri sendiri. Apa manusia memang semudah ini untuk membodohi dirinya sendiri?" Ucap Eric dalam hati.
Dia tidak terlalu mengerti tentang perasaan suka manusia atau hal merepotkan lainnya. Apalagi melihat segelintir wanita yang sangat menggilai tuan muda mereka, terutama putra kedua.
Eric sudah mengetahui berita mengenai Jung Jaehyun. Cepat atau lambat berita seperti ini pasti akan tersebar.
Sejak awal dia mengamati tingkah Jaehyun setelah bertemu dengan sahabat si bungsu, dia menyadari bahwa memang ada sesuatu yang aneh dengan perubahan tatapannya ketika melihat pria bertubuh bongsor itu.
Dia hanya saja tidak menyangka jika pergerakan tuannya begitu cepat.
Lain lagi jika berita itu mengenai si bungsu keluarga Jung. Eric sebenarnya sangat tidak peduli dengan kehidupan asmara Jaehyun karena pria itu bisa saja bebas memilih pasangannya di luar sana, yang dia pedulikan hanyalah kehidupan seorang Jung Yunho.
Si bungsu Jung.
Jika ada kabar serupa mengenai Yunho, Eric tidak akan tahu harus beraksi seperti apa. Memang benar, setengah dirinya berharap sosok putra ketua Song mampu menarik si bungsu itu lepas dari sangkar emasnya, disisi lain dia tetap ingin melihat Yunho seperti ini.
Kalian pasti penasaran kenapa bisa sosok berdarah dingin seperti Eric bisa menaruh banyak perhatian pada Yunho?
Semua itu gara-gara kejadian di masa lalu, dimana semua orang menjauhinya tapi saat itu dengan polosnya datanglah sosok anak kecil yang hampir seumuran dengannya, sosok kecil itu menatapnya dengan sepasang mata bulatnya dengan pandangan yang membuat Eric tertegun. Tatapan polos dan tidak ada sinar mata yang menghakiminya. Bahkan sosok wanita yang melahirkannya tidak pernah melihatnya seperti itu.
Jika orang lain menatapnya dengan tatapan penuh penilaian dan curiga, berbeda dengan sosok itu. Saat kondisinya berada di bawah, tubuhnya penuh dengan luka dan darah segar yang masih mengalir, sosok itu tanpa banyak berpikir berlari menghampirinya, mengulurkan tangan mungilnya menawarkan sebuah bantuan untuknya.
Kepolosannya.
Senyum lebarnya yang seakan tidak memperdulikan kondisi sekitarnya saat itu.
Bahkan suara cemprengnya masih teringat dengan jelas dalam ingatan Eric saat menawarinya untuk meraih uluran tangannya supaya dia bisa berdiri kembali.