⸻
Keesokan harinya, Yunho berjalan di lorong kampus dengan langkah santai, hari ini jadwal kelasnya hanya ada satu jadi ada kemungkinan jika dia akan pulang lebih awal. Pria manis itu sudah mulai terbiasa menjadi pusat perhatian. Yunho menahan kekehannya, tiba-tiba saja dia mengingat wajah suram kakak keduanya. Seperti biasa, Jaehyun kalah lagi adu argumen dengan si bungsu.
Jaehyun ingin sekali datang bersama si bungsu ke kampus, biar pun hanya sekali saja. Lagipula hari ini ada kemungkinan dia akan sudah kembali ke mansion, untuk merayakan hari kelahirannya.
Tak banyak yang menghadiri pesta tersebut karena sejak dahulu, perayaan kelahiran si bungsu hanya di hadiri oleh keluarga besar saja. Tidak ada liputan dan sejenisnya karena memang identitasnya ditutup rapat untuk khalayak umum.
Bugh
"Pagi!..." Celetuk seseorang yang langsung merangkul pundak Yunho dari belakang, meski dia sedikit kesusahan untuk meraih pundak pria manis itu karena tinggi badan mereka jauh berbeda.
Langkah Yunho otomatis terhenti dan menoleh.
"Kau hampir saja membuatku jatuh Young-ah." Ucap Yunho, si pelaku hanya cengengesan kecil.
Tampaknya mood pria itu sedang baik, apa dia sudah tidak memikirkan isi berita yang memuat dirinya dengan kakaknya?
Apa dia tidak tahu jika akibat berita itu, Universitas Yonsei terguncang karena berita tentang mereka?
"Kau sepertinya tenang-tenang saja..." Ucap Yunho, keduanya kemudian berjalan bersama menuju kelas mereka.
Tanpa melepas rangkulannya, Wooyoung hanya terkikik kecil.
"Jika kupikirkan terus menerus, aku akan pusing sendiri, jadinya biarkan saja hal ini berlalu begitu saja, pasti juga akan hilang sendiri.."
Sudut bibir Yunho sedikit terangkat, benar dugaannya jika si konyol sahabatnya ini memiliki pemikiran dewasa tapi entah dia seperti orang idiot jika mengenai asmara dirinya sendiri.
Kadang Yunho merasa kasihan dengan kakaknya, giliran dia tertarik dengan orang lain dapatnya tipe seperti Wooyoung.
Bukan masalah status tapi anak itu sangat realitas tentang dirinya, seakan Yunho berpikir jika Wooyoung merendahkan dirinya untuk melindungi dirinya sendiri.
"Ah kau benar.." Sahut Yunho membiarkan Wooyoung terus merangkulnya, dia seperti membawa anak koala di sisi samping tubuhnya.
Yunho dan Wooyoung sedang asyik berbincang satu sama lain, di ujung lorong lainnya tepatnya sebelum area parkir Mingi dan kawan-kawannya sedang berjalan menuju kelas mereka, Mingi sebenarnya melihat Yunho tapi dia mengurungkan niatnya untuk menyapa si manis itu, mungkin nanti dia akan menemuinya.
Apalagi Mingi baru mengetahui bahwa pria itu akan merayakan hari kelahirannya lusa depan, dia agak kaget setelah mengetahuinya.
Bagaimana Mingi tahu mengenai hal itu?
Siapa lagi jika bukan dari ibunya sendiri, nyonya Song. Mingi lupa jika ibunya tahu hari kelahiran Yunho.
Awalnya Mingi merasa penasaran melihat ibunya sangat sibuk menyiapkan banyak hal, jadi dia iseng bertanya dan alangkah kagetnya dia mengetahui bahwa si manis itu sudah akan bertambah usianya.
Dia sedikit merasa tidak kompeten mengenai hal itu, pria yang sangat dicintainya, tapi dia seakan tidak mengetahui apapun tentangnya. Salahkan Yunho karena semua data profile anak itu sangat di rahasiakan, bahkan oleh pihak kampus sangat menutup rapat data-data mengenai Yunho.
Memang benar pekerjaan mereka tidak boleh membocorkan data pribadi semua mahasiswa, tapi tidak seketat dengan data Yunho.
"Hah..." Mingi menghela napas pelan.
