Pagi-pagi sekali Y/n sudah bangun berkat suara Jisung yang terus memanggil ibu, memang apa yang sedang di lakukan adiknya itu sampai pagi-pagi seperti ini sudah ribut,
Dengan kepala berat dan mata yang bengkak Y/n bangun lalu keluar dari kamar, melihat Jisung dan ibu yang sudah rapih di bawah sana.
"Mau kemana bu?" tanya Y/n serak, berkat menangis semalam suaranya menjadi seperti ini.
Ibu menoleh menatap dirinya. "Mau nengok ayah. Kamu mau ikut?"
Y/n baru sadar bahwa sekarang ayahnya sedang dinas di luar kota,
"Gimana kak?" Tanya Jisung saat melhat kakaknya hanya diam di tempat.
Y/n tersadar. "Boleh deh, tungguin aku ya." Jawabnya lalu masuk kedalam kamar.
Mungkin ini cara untuk membuat hatinya lebih baik, berlibur di tempat dinas ayahnya itu mungkin membuat hatinya akan lebih baik lagi, lagi pula Y/n tidak mau bertemu dengan Mark kalau dia ada dirumah pria itu pasti akan kesini.
Mobil sudah berjalan meninggalkan halaman rumah, ini masih pagi sekali jalanan komplek pun masih sepi tapi berangkat lebih pagi akan lebih baik bagi Y/n karena dia bisa pastikan Mark tidak akan kerumahnya pagi-pagi sekali.
Y/n melihat ke belakang mobil ada dua tas disana, lalu melirik Jisung yang masih memainkan ponsel.
Dia melirik Ibu yang sedang menyetir. "Kenapa bawa tas banyak banget bu?"
"Iya, sekalian liburan sekolah disana." Ibu mengangguk menatap Y/n sekilas lalu kembali melihat kearah jalan.
"Lho aku enggak siapin apa-apa lho?" Jelas Y/n kaget dia saja tidak sempat menganti tasnya dan dia masih membawa tas yang isinya berkas-berkas kuliah.
Ibu tersenyum menoleh kearah Y/n. "Ibu udah siapin pas kamu lagi mandi."
Y/n mengangguk. "Makasih bu." Ujarnya.
Liburan sekolah itu pasti bisa memakan waktu sampai dua minggu dan itu benar-benar hal yang beruntung buat Y/n dengan keputusannya ini dia bisa menghindari Mark. Saat sampai kamarnya semalam Y/n langsung mematikan ponselnya, dia ingin menangisi semua kekesalannya dahulu.
Tentang Mark yang tidak pernah berkata kasar pada selama ini, tentang Mark yang tidak akan mudah membuat hatinya terluka tapi semalam benar-benar bukan Mark yang Y/n kenal selama ini, ia benar-benar berubah.
Y/n hanya melamun sepanjang perjalanan, memandangi pepohonan yang rindang indah dan sejuk, kenapa ayahnya selama ini tidak memberitahu bahwa dia tinggal ditempat yang benar-benar nyaman seperti ini.
Saat memasuki komplek dinas ayahnya, Y/n baru sadar bahwa tidak semua tempat indah dan rindang pepohonan itu pedesaan. Buktinya tempat tinggal ayahnya walaupun di tengah kota masih memiliki pepohonan yang rindang dan hijau.
Ayah menyambut kami saat mobil ibu sudah terparkir di carpot, sepertinya beliau juga tidak menyangka bahwa Y/n akan ikut.
"Ayah tidak tahu bahwa kamu akan ikut." Ujarnya pada Y/n dan membawa kami masuk kedalam rumah.
Y/n tersenyum lalu berkata. "Ini kejutan."
"Apa yang akan kamu lakukan disini saat kamu sedang sibuk dengan mengurus pendidikan mastermu?"
Senyum di bibir Y/n pudar, dia memang sudah menyelesaikan semua urusan untuk melanjutkan pendidikannya. Salah satu kampus yang dia pilih juga sudah meloloskan namanya tinggal menunggu waktu perkuliahannya tiba. Tapi rasanya dia tidak mau tinggal dirumahnya lagi, alasan yang lebih tepat adalah dia tidak mau bertemu Mark untuk selama-lamanya dan mewujudkan keinganannya itu dia yang harus pergi, bukan?
KAMU SEDANG MEMBACA
First Sight || Mark Lee NCT
FanfictionKisah tentang Mark Lee yang sudah empat tahun menyukai (Yourname), hanya dengan senyum manis perempuan itu mampu membuat hatinya kembali merasakan cinta. Akankah Mark dan (Yourname) bersama?
