FS || 67

566 51 6
                                        

Ternyata ucap Mark yang berkata semua akan baik-baik saja itu salah, salah besar. Karena  malam tadi dia mendaptkan kabar bahwa kedua orang tua Y/n tidak bisa di selamatkan.

Mark terus mendampingi Y/n yang kini hanya bisa menangis saat kedua jasad kedua orang tuanya di kebumikan, hal itu juga di lakukan oleh Sofia mamahnya yang terus merangkul Jisung untuk memberikannya kekuatan. 

Mark tahu dia sudah berbohong dengan apa yang diucapkan pada Y/n bahwa keadaan orang tuanya itu akan baik-baik saja tanpa memberitahu kesempatan mereka untuk selamat tidak sampai 20 persen, tapi yang sekarang di lakukan adalah menenangkan Y/n dan beberikannya kekuatan. 

Acara memakaman pun telah selesai mereka semua mulai meninggalkan pusaran yang masih basah itu, Mark terus merangkul Y/n menuntunnya untuk berjalan menuju parkiran. 

Saat tiba dirumah keadaan rumah sudah sangat ramai ada beberapa teman kerja Y/n yang Mark kenal tentunya ada sahabatnya juga Doyoung disana.

Y/n hanya berdiri saat semua teman-temannya memberikan ucapan dan kekuatan, tangisnya sudah reda saat diperjalanan tadi tapi kedua mata Y/n masih sangat bengkak. Bersamaan dengan itu Mark juga menyambut beberapa rekan kerja ayah mertuanya dulu yang datang untuk berbelasungkawan kerumahnya. 

Semakin hari semakin larut beberapa tamu juga sudah mulai berpamitan. Mark tidak menemukan Y/n di sekelilingnya jadi dia memutuskan untuk naik menuju kamarnya, dan benar aja dugaanya Y/n  sudah berada disana dengan tubuh yang meringkuk diatas tempat tidur. 

Mark berjalan mendekat, membenarkan posisi tidur Y/n dan menyelimutinya. Sebelum pergi dari kamar tidurnya Mark mencium dahi Y/n. 

***

Acara tujuh harian telah selesai Mark mengajak Y/n untuk pulang kerumah mereka, Jisung juga sudah kembali ke New York kemarin sore karena beberapa berkas yang dia urus untuk keperluan kuliahnya.

Selama seminggu ini Y/n banyak berubah menjadi lebih pendiam mungkin masih terasa sisa-sisa kesediannya, Jadi Mark memakluminya. 

"Kamu mau makan apa Sayang?" Mark berjalan mendekat kearah tempat tidur mereka yang melihat Y/n sudah menidurkan tubuhnya diatas sana.

Y/n hanya menatap Mark lalu menggelengkan kepalanya. 

Mark mengangguk pelan mengiyakan, lalu ikut naik keatas tempat tidur dan memeluk tubuh Y/n. 

Pagi hari Mark terbangun dan menemukan Y/n yang masih berada disisinya masih dengan terlelap dalam tidurnya. Mark membangunkan diri untuk bersiap-siap berangkat ke kantor karena sudah beberapa hari kantor dia tinggalkan begitu saja. 

Saat sudah selesai bersiap-siap Mark berjalan mendekat ke sisi tempat tidurnya dan sudah menemukan Y/n yang sudah terbangun. 

"Kita sarapan yuk." Ajak Y/n mengelus puncuk kepala Y/n.

"Kamu duluan aja." Balas Y/n dengan suara pelan, sangat pelan hampir berbisik. 

"Kamu masih ngantuk?" 

Y/n hanya mengangguk sebagai jawaban. 

Seakan mengerti Mark menganggukan kepalanya, "Aku sarapan habis itu berangkat ya." 

"Hati-hati." Gumam Y/n. 

Mark mengangguk sebelum itu mengecup puncuk kepala Y/n. "Kalau ada apa-apa hubungi aku ya." 

Y/n mengangguk dan menyuruh Mark untuk segera turun untuk sarapan agar tidak telat berangkat ke kantor. 

***

Ternyata hari-hari berikutnya pola makan Y/n tidak teratur, Mark semakin khawatir dengan keadaan Y/n yang sekarang, beberapa kali juga Mark harus memaksa Y/n untuk makan agar istrinya itu mau memakan makanan yang dia beli. 

Sebagai gantinya saat Y/n tidak memakan makanan pokok sama sekali Mark memberikannya buah potong yang dia beli sendiri. 

Pagi tadi Mark tidak sempat membangun Y/n terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor tapi dia sudah menyiapkan sarapan untuk Y/n disisi tempat tidur mereka.

Pagi ini jadwal yang dia miliki cukup padat, karena harus menghadiri beberapa meeting yang sempat tertunda beberapa waktu lalu. 

Mark baru masuk kedalam ruang meeting utama untuk meeting evaluasi pekerjaan karyawannya beberapa bulan terakhir ini, meeting baru saja berjalan 10 menit tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka membuat semua orang yang berada diruang meeting menoleh kearah sana. 

"Bella," tegur Mark saat tahu orang di balik tersebut adalah sekretarisnya.

Bella menundukan kepala dua kali tanda meminta maaf lalu berjalan mendekat kearah tengah ruangan tempat Mark duduk. 

"Ibu, Pak." Bella menyerahkan ponsel miliknya kearah Mark. 

Mark hanya menyergit dahinya lalu dia tersadar bahwa ponselnya dalam keadaan silent. 

"Iya Y/n." ucapnya saat menerima panggilan tersebut. 

Tidak berselang beberapa detik Mark langsung memberikan ponsel Bella dan pergi berlari meninggalkan ruang meeting tanpa menjelaskan apa-apa. 

Mark membawa mobil yang dia kendarai dengan kecepatan tinggi saat mendengar suara Y/n menahan sakit di telpon tadi. 

Tentu dia sudah panik luar biasa saat mendengar suara Y/n meminta tolong padanya. 

Saat sampai dirumah Mark memarkirkan mobilnya dengan asal, kakinya melangkah dengan buru-buru menuju kamar mereka sambil memanggil-manggil nama Y/n. 

"Sayang..." 

"Sayang..." 

Mark membuka pintu kamarnya dan tidak menemukan ada Y/n diatas tempat tidur tapi yang dia lihat ada darah diatas sana lalu darah yang dilihat itu berjalan menuju kamar mandi. 

Langkah kakinya bergerak cepat menuju kamar mandi dan betapa terkejutnya menemukan Y/n disana bersadar pada dinding kamar mandi. 

"Sayang, hei." Panggil Mark melangkah mendekat kearah Y/n yang menemukan darah yang dilihat tadi berasal dari paha dalam istrinya itu.

Mark menggendong tubuh Y/n untuk di bawanya kerumah sakit. 

Tentu saja ada perasaan takut saat melihat keadaan Y/n seperti sekarang, Mark benar-benar mengendari mobilnya dengan sangat cepat beberapa kali mobil yang menghalangi jalannya selalu dia berikan klakson. 

Maka dari itu sekarang Y/n sudah bisa ditangani oleh dokter, Mark hanya bisa menunggu didepan ruangan UGD belum lama ini dia ke tempat ini dan hari ini pun juga dia menginjakan kakinya ketempat ini lagi. 

Mark terduduk didepan pintu UGD masih dengan kemeja noda darah saat menggendong Y/n tadi. 

Pintu ruangan terbuka dengan reflek tubuh Mark berdiri menghampiri sang dokter, setelah mendengar kondisi yang Y/n alami betapa hancurnya hati Mark. 

Mark sudah tidak bisa menahan air matanya untuk tidak membasahi kedua pipinya, dia merasa benar-benar menjadi suami yang tidak bisa apa-apa tentang kondisi Y/n. 

Y/n beberapa bulan terakhir sedang mengandung tapi baik Mark dan Y/n tidak tahu hal tersebut yang mana sekarang membuat kandungannya itu harus gugur. 

Y/n keguguran dan darah yang tadi Mark lihat adalah janin yang berada di perut Y/n. 

Dengan langkah lugai Mark mengikuti brankar Y/n yang didorong oleh perawat rumah sakit untuk di pindahkan keruang inap, Mark duduk dikursi samping ranjang Y/n. Menatap pucat  wajah istrinya itu. 

Mark mengumamkan kata maaf berkali-kali sambil terus memegangi tangan Y/n. 

•••

Happy Weekend semuaaaa!

First Sight || Mark Lee NCTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang