FS || 35

633 66 0
                                        

Satu jam yang lalu entah benar atau tidak keputusan yang diambil Mark untuk membiarkan Y/n pulang sendiri tanpa dirinya antar, tidak lama setelah Y/n pergi makanan yang dia pesan datang dan sekarang semua terasa tidak tertarik dimatanya.

Mark hanya diam duduk diruang keluarga dengan tangan yang di letakan di kepala, rasa bersalah tentu ada. Dia telah membohongi Y/n, sekarang ketika keadaanya baik-baik saja semuanya menjadi hancur seketika.

Yang dia khawatirkan saat ini adalah bukan hanya keadaan Y/n yang sudah tiba dirumah atau belum, tapi yang di khawatirkan adalah hal apa yang akan di lakukan perempuan itu. Bahkan sampai sekarang Mark tidak bisa membaca pikiran perempuan itu.

Waktu terus berjalan, Mark bahkan masih betah dengan posisinya. Kepalanya hampir pening dan ketakutan menggerogoti tubuhnya.

Lalu tidak lama setelah itu getaran panjang dari ponselnya membuat pandangan Mark teralihkan, Mark menatap layar ponselnya nama Jaehyun tertera jelas disana. Mark enggan menjawab sampai panggilan itu muncul lagi di layar ponselnya.

Dengan gerakan sedikit enggan, dia mengeser tombol hijau.

Lalu mendengar suara bisik dari sebrang sana.

Mark menutup matanya sesaat sebelum setelah itu dia berlari keluar dari rumah menuju mobil miliknya, tanpa mengganti pakaian dia masuk kedalam mobil dan keluar dari halaman rumah.

Jalanan sudah sedikit sepi jadi dia bisa memacukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi, saat mendengar yang diucapkan Jaehyun bahwa ia melihat Y/n didalam club membuat pikirannya tidak bisa berpikir jernih.

Entah apa yang dipikirkan perempuan itu sampai berani menginjakan kakinya ketempat yang sama sekali tidak pernah ia datangi sebelumnya, tapi kenapa sekarang saat mereka baru saja bertengkar. Tempat seperti ini yang dijadikan sebagai pelarian untuk dirinya.

Mark masuk kedalam ruangan yang dipenuhi orang yang sedang berdansa ria ditengah sana, tempat dengan lampu remang ini dan aroma minuman alkohol yang sudah menyerbak dimana-mana, ditambah suara musik yang terus menyuruh mereka tetap semangat berada disana.

Dia berjalan menuju meja bartender yang tadi di infokan Jaehyun bahwa Y/n duduk disana, tepat sekali perempuan itu sedang terduduk dengan kepala yang dia tundukan disampingnya ada pria yang menatapnya dengan tatapan yang ingin.

Mark berjalan mendekat, menyelampirkan jaket yang tadi dia lihat didalam mobil kepundak Y/n. Lalu bergumam. "She's mine." pada pria itu.

Perkataanya barusan membuat Y/n menoleh padanya lalu tersenyum. Matanya sudah merah, rambutnya sudah berantakan.

Setelah mengatakan itu Mark membopong Y/n untuk berjalan keluar dari ruangan yang pengap itu, membawa Y/n masuk kedalam mobil dengan hati-hati.

"Kamu butuh waktu sendirikan, kenapa ketempat itu Sayang." Ujar Mark menarik tali seatbelt yang ada disamping Y/n lalu membenarkan rambut Y/n menutup wajahnya. Mark tahu ini pasti pertama kalinya bagi Y/n untuk datang ketempat itu dan minum disana.

Mesin mobil dia nyalahkan dan mobil yang dikendarain pun sudah berjalan meninggalkan parkiran club.

Sepanjang perjalanan Y/n terus bergumam entah apa yang dia katakan, karena tidak terlalu jelas. Dan yang Mark pikirkan saat ini adalah membawa perempuan itu untuk pulang, tapi tentu dengan berat hati Mark membawa Y/n menuju rumahnya karena tidak mungkin dia mengantar perempuan itu kekediamannya.

Mark mengendong tubuh Y/n untuk masuk kedalam kamar, menindurkannya di ranjang dengan sangat hati-hati lalu menarik selimut untuk menutup tubuh perempuan itu.

Saat Mark ingin pergi meninggalkan Y/n, tarikan di ujung kaosnya membuang Mark menoleh pada lengan Y/n yang menahan disana. Tentu tatapan Mark langsung beralih melihat wajah Y/n yang sedang menatapnya dengan mata yang sayu.

Mark hanya diam saat melihat Y/n bangun dari tidurnya, tubuhnya dia letakan pada headboard dengan keadaan tubuh yang sedikit linglung. Hampir terhuyung kedepan untung Mark segera menahannya.

Mata sayu itu berubah menjadi berair, lengannya memegang lengan Mark.

"I'm sorry," ucapnya dengan lirih membuat Mark menyergitkan dahinya. Dan setelah itu tangisnya pecah.

"Kamu enggak salah, hey. Aku yang salah, Y/n." Ujar Mark membawa perempuan itu kedalam dekapannya. Walaupun tidak tahu yang dirasakan perempuan itu sekarang tapi kenapa Mark bisa merasakannya juga.

Jemari Mark mengusap punggung Y/n secara berulang, tapi tagis perempuan itu semakin keras.

"Sayang." Panggil Mark pelan, dia tidak tahu apa yang membuat Y/n menangis sekeras ini. Apa terjadi sesuatu pada perempuan itu di club tadi?

"Please follow the therapy." Ujar Y/n disela-sela tagisnya, genggamannya pada lengan Mark semakin kencang, "because otherwise I feel guilty."

Mark bingung dengan ucapan yang di katakan kekasihnya ini, dia hanya akan diam sampai semua yang Y/n bicarakan selesai semua.

"Seharusnya hari itu aku enggak usah pergi, atau seharusnya pada saat kamu mau kenal dekat sama aku, aku enggak biarkan kamu masuk ke hidup aku." gumam Y/n tanpa sadar air matanya sudah membuat satu tanda besar pada bagian kaos dada Mark. "Jadi semuanya enggak akan kaya gini kan-kamu enggak akan terus hidup dalam bayang-bayang kehilangan."

Dari semua yang diucapkan Y/n membuat Mark sadar bahwa ia menyesali pertemuan mereka karena sampai membuat Mark jadi seperti ini, Mark menggelengkan kepalanya tidak setujuh lalu menundukan kepalanya untuk mencium puncuk kepala Y/n.

"Kamu enggak salah Sayang, enggak boleh ngomong gitu. Aku sedih dengernya." Ujarnya disela-sela ciumannya. "Kamu enggak salah, aku minta maaf." Tangannya terus menerus mengusap punggung Y/n sampai suara tagis Y/n memelan.

Mark sadar bahwa sekarang kekasihnya ini sudah tertidur didalam dekapannya terlihar dari suara nafas Y/n yang mulai teratur. Lalu dengan perlahan Mark menidurkan tubuhnya ke tempat tidur dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik Y/n.

Setelah sudah memposisikan tubuh Y/n dengar benar Mark menarik selimut untuk menutupi tubuh kekasihnya itu, dan duduk disamping tubuh itu Mark menatap Y/n dalam diam, telapak tangannya mencoba mengapus sisa air mata yang masih menempel disana.

Mark berlalu untuk menuju kamarnya dan sebelum itu dia mencium dahi Y/n. Dan benar meninggalkan perempuan itu dengan lelapnya.

First Sight || Mark Lee NCTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang