FS || 46

593 57 6
                                        

Y/n tahu bahwa ini sangat salah bertemu dengan pria lain yang bahkan tanpa memberitahu Mark terlebih dahulu, tapi dengan rasa penasaraannya dia tidak bisa diam saja dia hanya ingin memberi Dave kesempatan untuk menjelaskan walaupun dia sediri tidak yakin akan menerima penjelasan itu dengan baik atau tidak. Dan sebelum melangkahkan kakinya menuju elevator Y/n selalu bergumam sepanjang perjalanannya meminta maaf pada Mark.

Sudah tiga menit saat Y/n tiba dan duduk di depan Dave keduanya masih sama-sama bungkam, Y/n menatap pria didepannya dalam diam sedangkan yang ditatap hanya menundukan kepalanya.

"Aku engga punya banyak waktu, jam tujuh nanti Mark akan kesini." Y/n memulai berbicara, tidak membiarkan keheningan memakan mereka berdua.

Setelah dirinya berbicara seperti itu Dave mendongkakan kepalanya menatap Y/n, lalu bergumam. "Maaf... maaf Y/n."

"Aku menyesal sekarang, aku baru sadar setelah kehilangan kamu." Y/n hanya diam terus mendengarkan apa yang akan di ucapkan Dave.

Dave menatap Y/n. "Aku nyesel karena ninggalin kamu gitu aja, tapi aku nggak punya pilihan saat itu." Ia menjeda ucapannya. "Ini klasik banget, tapi waktu itu bundaku sakit dan harus dirawat di Aussie, kita cuman hidup berdua kamu tau kan." Memori Y/n pada Dave beputar, dia tahu memang Dave hanya tinggal berdua dengan bundanya saat tinggal di Jakarta setelah kepergian Ayahnya, Dave yang terlahir anak tunggal hanya mempunyai bundanya saat itu dan begitupun sebaliknya.

"Aku engga ada pilihan, aku engga mungkin membiarkan bunda dirawat disana seorang diri, jadi mau engga mau aku harus ikut kesana."

"Tapi kepergian aku mungkin menjadi kesalahan yang besar saat itu, aku tahu aku salah tapi aku engga ada waktu lagi."

"Kamu pasti mikir aku mencampakan kamu setelah kita melewati hari itu, tapi jujur aku juga engga mau kaya gitu." Dave menggelengkan kepalanya. "Kamu benci aku saat aku pergi gitu aja tanpa pamit dan hilang begitu saja. Tapi hari itu hari tersulit aku."

"Selama disana aku cari kabar kamu, tapi aku engga menemukan kabar kamu sejak saat itu." Benar, Y/n memblok semua tentang dirinya yang bersinggungan dengan Dave. "hari itu saat aku melihat kamu di bandara, aku bersyukur banget akhirnya aku bisa menemukan kamu."

"Tapi... aku sadar bahwa aku sudah terlambat." Dave melirik kearah cincin yang melingkar di jari manis Y/n. "Kamu udah jadi milik orang lain, dan bahkan sebentar lagi akan menjadi isteri orang lain."

"Dan Aku menyesal." Ia menundukan kepalanya.

Selama mendengar penjelasan Y/n hanya diam menyerapi semua perkadaan Dave, dan saat tahu Dave sudah menyelesaikan penjelasannya. Y/n berucap, "Ibu kamu apa kabar?"

Dave menatap kearah Y/n tidak percaya, lalu ia tersenyum tipis. "Bunda udah engga ada satu tahun lalu."

"Sorry." Gumamnya merasa tidak enak.

Dave menggelengkan kepalanya. "Engga apa-apa." Lalu dia melirik jam yang di pergelangan tangannya yang sekarang sudah menunjukan pukul enam sore. "Makasih udah mau dengerin penjelasan aku, aku jadi bisa menjalanin hidup tanpa rasa bersalah sama kamu."

Y/n mengangguk sebagai jawaban.

"Kamu senang, how about mark? Dia kelihatan sangat mencintai kamu."

"Iya, dia sangat baik."

"Aku harus pergi, sebentar lagi Mark juga akan kesini."

"Kamu tinggal dimana sekarang?"

"Aku menetap di Sydney sekarang."

Y/n menyergitkan dahinya lalu untuk apa dia datang kesini, seperti tahu apa yang di pikirkan Y/n Dave tersenyum. "Aku ada urusan disini dan kebetulan kamu disini juga." Padahal kemarin malam mereka berdua baru bertemu di bar.

First Sight || Mark Lee NCTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang