FS || 40

694 72 0
                                        

Satu lantai ruangan tempat Y/n bekerja terasa sepi dan sunyi tidak seperti biasanya, hari ini sepertinya karyawan memang sedang di sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, termasuk Nina satu rekan Y/n yang desk mereka bersebelahan.

"Laporannya bulan maret udah kak?" tanya Nina yang namun matanya masih fokus pada selembar kertas di depannya yang bergantian melihat layar komputer didepannya.

Nina tiga tahun lebih muda dari Y/n, yang baru saja bergabung dengan perusahaan ini beberapa bulan lalu.

"Udah." Y/n mengangguk. "Gue kirim ke email lo ya." Ujarnya.

"Okey, thanks kak."

Y/n baru saja ingin menanyakan hal lain pada Nina tapi suara yang memanggil namanya membuat Y/n mengurungkan niatnya lalu menoleh ke sumber suara, itu Doyoung atasannya.

"Iya pak?" jawab Y/n menoleh pada Doy yang berdiri didepan desknya.

"Keruangan saya sebentar." Ujarnya setelah itu melangkah pergi tanpa mengatakan apapun.

Nina yang tadi fokus pada layar komputernya menoleh kearah Y/n sambil menyergitkan dahi. Y/n hanya menaikan kedua bahunya lalu berjalan menuju ruangan Doy yang kebetulan satu lantai dengan dirinya.

Sebelum masuk Y/n sempat menyapa Stella sekretaris atasannya itu, lalu melangkah masuk ketika suara ketukan darinya direspon dari dalam sana.

"Ada apa ya pak?" tanya Y/n saat sudah berhadapan dengan Doy.

Tidak menjawab Doy menyerahkan ponselnya kepada Y/n, membuat dirinya yan diberikan ponsel atasannya itu menyergit bingung. Lalu suara yang amat dia kenali terdengar dari balik telpon.

"Udah belum Doy?" tanya seseorang dari balik sana.

"Mark?" Gumam Y/n menatap Doy.

Doy mengangguk samar. "Dia bilang lo enggak bisa di hubungin dari tadi, jadi minta tolong ke gue." Jelasnya karena daritadi pun Y/n tidak menerim ponsel milik Doy.

"Astaga." Desis Y/n pelan tapi suaranya mampu didengar oleh Doy, lalu mengambil ponsel atasannya itu.

Saat Y/n sudah meletakan ponsel itu ke depan telinganya, entah gimana dengan cepat dia tidak menemukan posisi Doy lagi disekitarnya.

"Halo." Ucapnya pelan.

Dari balik sana terdengar suara helaan nafas lega. "hai... akhirnya," itu kalimat pertama yang Y/n dengar. Lalu baru saja ingin berbicara Mark kembali melanjutkan kalimatnya. "sori, pasti kamu mau marahkan." Gumamnya. "aku minta maaf sayang udah kekanakan kaya gini, tapi kamu dari semalem engga bisa di hubungin."

Y/n menggelengkan kepalanya pelan merasa tidak heran dengan kelakukan Mark seperti ini, karena dia tahu Mark akan melakukan apa saja untuk dapat menghubunginya. Terlebih lagi dia tahu trust issues yang Mark miliki.

"You mad a me?" suara Mark terdenger lagi saat Y/n daritadi hanya diam.

"No." Y/n menggelengkan kepalanya. "kerjaan aku banyak banget enggak sempet pegang ponsel." Jelas Y/n. "aku enggak marah sama sekali sama kamu." Lanjutnya lagi.

"Aku khawatir soal percakapan kita kemarin malam."

"Enggak Mark, tenang aja."

"Aku enggak akan pulang sekarang." Ujarnya memberitahu. "tapi aku mohon sama kamu harus lebih hati-hati lagi."

"Iya pasti, kamu juga—eh aku tutup ya, enggak enak sama Doy."

"Kabarin kalau udah enggak sibuk."

Y/n hanya berdeham saja, lalu sambungan telpon dia putuskan. Bertepatan dengan itu Doyoung kembali masuk ke dalam ruangannya dengan satu cangkir kopi yang ada di genggamannya.

First Sight || Mark Lee NCTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang