FS || 31

760 70 0
                                        

Saat terbangun tanpa sengaja Mark sudah tersenyum dengan senyum yang menggembang menghiasi bibirnya, beberapa bulan kebelakang ini hidupnya terasa begitu menyenangkan dari biasanya. Satu bulan lalu Y/n sudah menyelesaikan pendidikan keduanya. Tentu Mark ada disana mendampingi perempuan itu, tidak mungkin Mark lalai dengan kesempatan kedua yang sudah diberikan. Dan melewat moment itu seperti dulu.

Bukan senang karena Y/n lulus dan jarak diantara mereka menipis, melainkan Mark senang karena dia sudah berhasil memberikan satu buah benda yang bisa mengikat Y/n untuk dirinya.

Sebuah benda logam yang melingkar sekarang sudah memiliki rumahnya, hari itu setelah acara kelulusan selesai. Mark dengan mantap meletakan benda logam itu ke jari manis Y/n. Tentu tidak maksud untuk apa-apa, melainkan Mark memang sengaja membeli benda itu untuk hadiah kelulusan Y/n dan dengan maksud lagi agar laki-laki diluar sana bisa berjalan mundur sebelum mencoba mendekati Y/n.

Setelah di pikir lagi satu goals Y/n sudah tercapai dan berarti Mark tinggal menunggu satu step lagi lalu setelah itu dia bisa membawa Y/n benar-benar akan menjadi miliknya.

Mark duduk menghadap balkon kamarnya, senyumnya masih terus melekat terlebih lagi saat melihat satu figura baru yang beberapa minggu ini terpajang di salah satu desk samping tempat tidurnya, figura berukuran 4R itu diisi oleh dirinya dan Y/n disana, hari dimana dia menghadiri acara kelulusan Y/n.

Cuaca pagi ini benar-benar terasa cerah, Mark mengangkat bokongnya menjauh dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke kantor. Seperti biasa sebelum menuju kantornya Mark akan lebih dahulu menjemput Y/n dan mengantarkan perempuan itu untuk sampai di kantornya dengan selamat.

Y/n memang sudah diterima kerja di salah satu perusahaan ternama di Jakarta yang mana membuat Mark agak sedikit kesal saat tahu bahwa Y/n bekerja dimana; Ia bekerja di kantor yang di urus oleh Doyoung teman kampusnya itu padahal Mark sudah sangat membujuk Y/n untuk masuk ke kantornya saja, tapi perempuan itu menolak dengan tegas bahwa dia akan memulai karir dengan dirinya sendiri. Tanpa bantuan Mark sedikitpun dan di terima di perusahaan Doyoung itu juga Y/n benar-benar tidak tahu bahwa yang di lamar adalah perusahaan dari teman kekasihnya itu.

Mark menatap dirinya dari balik cermin, tangannya masih sibuk membenarkan simpul dasi yang akan dia kenakan. "Aku sebentar lagi berangkat ke tempat kamu. Kamu udah sarapan?" ponselnya dibiarkan tergeletak diatas meja dengan speaker yang dia aktifkan agar bisa mendengar jawaban Y/n dari sebrang sana.

"Udah kok, kamu belum ya?" 

"Hm. Aku sengaja mau ajak kamu sarapan bareng."

"Maaf aku enggak tahu kalau kamu mau ajak aku sarapan bareng, tapi aku udah buatin sarapan buat kamu kok." 

"Engga apa-apa Sayang." Mark tersenyum. "Makasih ya, aku udah selesai nih, langsung jalan kerumah kamu." 

"Oke, hati-hati." Lalu sambungan terputus dari sana, Mark memasukan ponselnya kedalam saku celananya dengan satu tangan yang menenteng jas dan tas kerjanya.

***

Mobil hitam yang di kendarai Mark sudah berhenti tepat di depan perkarangan rumah Y/n, baru saja ingin melepas sabuk pengamannya suara ketukan pada jendela mobilnya membuat Mark menghentikan pergerakan tangannya.

Senyumnya muncul saat melihat Y/n dibalik jendela, Mark menekan tombol yang ada di samping kanannya setelah itu pintu sampingnya terbuka.

"Aku baru aja mau turun." Ujar Mark yang baru saja melihat Y/n masuk kedalam mobilnya dan duduk persis disampingnya. "Kamu nunggu diteras ya?"

"Hm." Y/n hanya bergumam, tangannya masih sibuk menaruh tas miliknya ke kursi belakang dan satu paparbag yang kini sudah ada di pangkuannya. "Sarapan." Y/n mengeluarkan satu kota makanan dari dalam paperbag lalu menyerahkannya pada Mark.

Mark tersenyum menerimanya dengan senang. "Makasih ya sayang." tangannya mengelus pipi Y/n. "Aku akan makan ini di kantor." 

Y/n mengangguk masih dengan senyum di bibirnya lalu mobil yang dikendarai Mark bergerak menjauh dari rumah Y/n. 

Seperti pagi pada umumnya di Jakarta kalau tidak macet agak aneh, saat ini mobil yang mereka tumpangi sedang berhenti di area jalan kantor Y/n, padahal tinggal satu lampu merah lagi tapi tetap saja padatnya kendaraan melalulalang di jalanan.

Mobil milik Mark sudah berhasil masuk kedalam halaman kantor Y/n, tentu Mark hanya akan mendrop Y/n di depan lobi.

"Nanti aku jemput ya." Seru Mark ketika Y/n sedang bersiap untuk turun.

"Aku kayanya harus lembur nanti, kamu langsung pulang aja." 

Mark menggelengkan kepalanya tanda tidak setujuh dengan ucapan Y/n. "Aku tetep akan nunggu kamu, oke! engga ada penolakan." 

"Terserah kamu deh." Y/n terkekeh. "Aku turun ya, hati-hati dijalan. Jangan lupa sarapannya." 

"Siap Sayang."

Y/n berdiri di depan lobi sambil menunggu mobil Mark pergi dari hadapannya setelah itu dia baru masuk kedalam kantor. 

Mark tiba di kantor saat jam kerja sudah berjalan, dia berjalan melewati beberapa ruangan untuk sampai keruangannya, dengan kedua tangannya yang pernuh dengan bawaan paperbag  dan tas kantornya.

"Jadwal hari ini, Bella." Ujar Mark saat sebelum masuk kedalam ruangannya dia sempat ke tempat Bella terlebih dahulu.

"Sudah saya email pak dan di meja sudah ada berkas yang mesti bapak tanda tangani. Lalu mengenai meeting dengan perusahan bapak Jae, beliau meminta bapak untuk ke kantornya." 

"Loh bukannya kemarin sudah sepakat meeting di sini?" 

"Sekretaris beliau tadi memberitahu saya bahwa tempat meeting di pindahkan."

Mark mengangguk. "Oke, terima kasih Bella." Lalu kembali berjalan tanpa mendengar jawaban terakhir dari Bella. 

Sejak tahu bahwa Bella sudah menikah dan memiliki anak, Mark sedikit tidak khawatir untuk dekat dengan sekretarisnya itu. Dia sedikit tenang karena tidak mungkin dia merasa di godai atau semacamnya.

Tapi beruntung Papanya mengerti dengan kemauan Mark yang tidak mau berdekatan dengan perempuan yang masih sendiri setelah putus dengan Y/n.

"Apa-apaan nih tempat meeting main dipindahin gitu aja." Ujar Mark pada telpon yang dia selipkan di telingganya.

Terdengar suara bermintaan maaf dari  sana. "Gue enggak tahu bahwa istri gue mau kesini nanti siang, enggak mungkin gue tinggal."

"Loh tumben."

"Jangan bilang gitu dong lo." Kesal Jaehyun dari sebrang sana. 

Mark terkekeh. "Sori, lagian kan kenapa tumben banget gitu. Udah mulai dekat nih kayanya."

"Semogalah, udah ya nanti jangan lupa dikantor gue."

"Iya." Lalu sambungan telpon terputus. 

Mark menaruh ponselnya di samping laptop lalu tangannya mulai sibuk dengan berkas yang ada didepannya, mempelajari terlebih dahulu baru menandatanganinya.

Seperti ada yang kurang Mark baru saja melewatkan sarapan yang dibuat Y/n, maka dengan itu Mark segera berjalan keujung ruangan, duduk di meja yang hanya diisi dengan dua buah kursi untuk makan. Meja dan kursi ini menghuni baru di ruangan ini, Mark sengaja membelinya untuk dirinnya dan Y/n makan siang kalau mereka sedang malas makan diluar.

Sarapan dengan masakan Y/n di temani dengan memandang diluar sana memang paling terbaik untuk pagi Mark, dan semakin kesini Mark tidak sabar untuk menjadikan Y/n tujuan terakhirnya.

First Sight || Mark Lee NCTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang