FS || 49

606 64 10
                                        

Saat keluar dari kamar mandi Mark melihat keseliling kamarnya yang kosong, tidak ada tanda-tanda Y/n di kamar. Jadi dengan handuk yang masih dia sampirkan di tengkuknya Mark membuka pintu kamar melihat lorong hotel yang terasa sepi.

Mark berjalan ke samping tempat tidurnya untuk mencari ponsel yang semalam dia taruh disana sebelum tidur, dia mencoba menghubungi Y/n tapi tapi panggilannya selalu berakhir tak terjawab begitu terus sampai setengah jam kemudian pintu kamarnya terbuka.

Kaki jenjang milik Y/n masuk bersama dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Udah selesai?" Y/n berjalan menuju meja menaruh satu kantung makanan cepat saji yang sepertinya dia beli.

Mark tidak menjawab dia mendekat kearah Y/n memeluk pinggang wanita itu dari belakang. "Habis dari mana, aku cariin kamu tau."

Y/n membalik tubuhnya menghadap Mark lalu tersenyum. "Aku abis anterin mama sama papa ke bandara. Kok kamu engga bilang mereka berangkat pagi-pagi gini?" mark menarik Y/n kedalam pelukannya mulai hari ini hal yang menyenangkan baginya adalah memeluk Y/n. "Kenapa engga tungguin aku."

"Mereka bisa ketinggalan pesawat." Protes Y/n, "Kamu juga mandinya lama banget." Tambahnya lagi.

Mark terkekeh. "Kenapa mama sama papa engga berangkat bareng kita aja sih,Cuma beda beberapa jam doang kan." Tanya Y/n pada Mark, karena nanti malam mereka berdua juga akan terbang ke New York untuk resepsi pernikahan kedua mereka.

"Mama mau cek dulu keadaan disana, jadi berangkat pagi-pagi."

Y/n mengangguk mengerti. "Yaudah sarapan dulu yuk, aku udah beli burger." Dia menarik lengan Mark untuk duduk di sofa panjang.

"Ayah, ibu udanh pulang?" tanya Mark karena dia benar-benar tidak menemui sanak keluarga manapun karena keluar kamar saat keadaan sudah sangat sepi.

"Udah, sebelum mama sama papa mereka sempet sarapan bareng dulu." Jawab Y/n menjelaskan. "kita bakal lama disana?"

"Kamu bilang mau ke Toronto kan? Kita di Nwe York dua hari aja."

"Lalu di Toronto?"

Mark mengambil minum dan memberikannya pada Y/n. "Aku belum pesen tiket pulang sih, jadi terserah kamu mau sampai kapan disana."

"Tapi aku engga enak cuti lama-lama sama Doyoung."

"Resign aja Sayang, kamu kan udah jadi isteri aku."

"Mark." Y/n menatap suaminya itu.

Mark mengangkat tangannya. "Oke, kamu masih boleh kerja," putus Mark karena dia tahu Y/n tidak akan meninggalkan pekerjaannya, dan mereka juga sudah sempat mebahas hal ini dan Mark memutuskan untuk memperbolehkan Y/n tetap bekerja.

***

Sebelum berangkat ke bandara Mark dan Y/n pamit terlebih dahulu kerumah orang tua Y/n setelah berpamitan mereka berdua memutuskan untuk langsung menuju ke bandara. Resepsi di New York ini tidak dihadiri dari keluarga Y/n padahal keluarga Mark tetap mengajak mereka semua tapi Ibu dan Ayah memutuskan untuk tidak ikut, sebenarnya mereka juga pasti merasa tidak enak karena tidak ada satupun seseorang yang mereka kenal.

Setelah 21 jam perjalan mereka berdua sudah sampai di bandara JFK-John F. Kennedy Intl, Y/n pikir Mark akan membawanya menuju rumah Mark tapi lelaki itu malah membawanya ke hotel yang kemarin Y/n tempati.

"Loh kok ke hotel sih?" Y/n mengerutkan dahinya bingung saat Mark membawanya melewati lorong kamar.

Mark berhenti disalah satu pintu kamar hotel, mempersilakan Y/n masuk terlebih dahulu lalu ikut berjalan mengekor Y/n yang sekarang sudah duduk di atas ranjang yang sudahh di hias rapih layaknya tipe kamar untuk honemoon. Sebelum itu Mark menaruh koper mereka berdua di depan meja rias.

Kamar ini lebih luar dari kamar yang kemarin Y/n tempati walaupun yang kemarin juga sudah di bilang cukup luas tapi kamar ini dua kali lipat lebih luas,

"Papa suruh aku bawa kamu kesini."

Y/n tetap menyergitkan bingung. "Kenapa?"

"Dia bilang mau kasih hadiah, mungkin kamar ini." Mark melihat sekeliling. "Keren juga." Gumamnya.

"Lagian acaranya disini juga kan, mungkin biar kamu engga capek bolak balik."

"Ini terlalu berlebihan engga sih? Aku ngga enak deh sama orang tua kamu."

Mark menysejajarkan tubuhnya dengan Y/n. Mengusap pelan wajahnya. "Enggak Sayang. Kamu engga usah merasa engga enak ya, mereka juga seneng ngelakuin ini semua."

Y/n terdiam beberapa saat dia benar-benar tidak menyangka bisa tread dengan spesial di dalam keluarga Mark padahal setelah di tarik ke masa lalu Y/n dulu dengan sengaja meninggalkan Mark tanpa sepatah kata pun lalu berakhir dengan mental Mark.

Mark memperhatikan ekpresi wajah Y/n tepat di depannya yang makin lama terlihat murung, Y/n juga memainkan jari-jarinya yang terlihat sangat gelisah.

"Sayang?" Mark duduk di samping Y/n menggeser lutut agar menghadap kearahnya. "Kenapa?"

Air mata milik Y/n terjun bebas dari kelopak matanya membuat Mark menarik tubuh itu kedalam pelukannya. "Aku ada buat salah ya hmm?"

Tagis Y/n semakin kecnang, bahunya bergetar hebat. Mark teus mengelus punggung itu.

"Aku jahat banget ya." Di sela-sela tagisnya yang semakin reda Y/n mengantakan hal tersebut yang membuat Mark menyergitkan dahinya. "Aku bikin kamu sampai masuk rumah sakit saat itu, terus aku juga bikin mental kamu terganggu." Setelah mengatakan itu tagis Y/n kembali terdengar. "Terus sekarang keluarga kamu baik banget sama aku. Aku malu."

Mark semakin mengeratkan pelukannya, mengelus kepala belakang Y/n. "Engga apa-apa Sayang." Hal itu yang terus Mark ucapkan pada isterinya ini. "Aku udah baik-baik aja kan sekarang, engga usah merasa bersalah gitu."

Pelukan semakin mengerat. "Kamu kecapean kan, jadi ngelantur kaya gini?" ujar Mark. Tapi Y/n masih saja diam. "Engga apa-apa Sayang, jangan pikirin hal itu udah lama juga kan."

"Mark?" suara serak milik Y/n mengalihkan perhatian Mark dia menjauhkan wajahnya untuk melihat wajah Y/n. "hm." Balas Mark.

Y/n mengangkat wajahnya menatap Mark yang sekarang sudah menatapnya. "Kenapa kamu nikahin aku, padahal aku engga pernah ungkapin perasaan aku sama kamu."

Mark tertegun dia menatap Y/n, benar selama ini Mark tidak pernah mendapatkan mengakuan apapun mengenai perasaan Y/n pada dirinya. Tapi itu semua tidak pernah menganggu dirinya yang terpenying rasa sayanganya pada Y/n tidak pernah pudar dan yang lebih penting Y/n berada dekat dengan dirinya karena hal itu semuanya tidak butuh.

Senyum dibibir Mark melengkung lengannya mengusap pipi Y/n, "Aku cuman butuh kamu, maaf aku egois. Tapi melihat semua yang aku lakuin dan kamu menerima dengan baik. Aku rasa semua rasa bimbang pada diriku menghilang gitu saja."

Y/n tidak menyangka dia bisa mendapatkan suami yang seperti Mark, "Mark."

"Hm."

"Te amo."

Dua kata itu membuat kedua bola mata Mark membulat lalu dia tersenyum, akhirnya setelah sekian lama kata itu terucap dari bibir Y/n.

Mark memajukan wajahnya mengikis jarak yang dia punya, lalu mengecup bibir Y/n. Mark pikir ciuman itu berakhir cepat, tapi saat lengan milik di letakan di belakang kepalanya membuat Mark menahan tengkuk Y/n dan memperdalam ciuman mereka. 

•••

Halo happy weekeed!

Ayo kasih saran hal gemas apa yang harus mereka lakukan berdua? heheh

: aku lupa-lupa inget, kayanya emang Y/n gaperna bilang cinta ke Mark kan? iya ngga sih?

First Sight || Mark Lee NCTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang