Mark benar-benar bergerak cepat setelah acara lamaran malam itu, dia langsung menghubungi orang tuanya lalu membuat pertemuan secara resmi dengan keluarga Y/n.
Semalam tepat pertemuan itu berlangsung, semua berjalan dengan lancar sebagaimana semestinya, kedua orang tua Mark meminta ijin untuk mengadakan resepsi di dua tempat, yaitu di Jakarta dan di New York. Tentu keluarga Y/n tidak keberatan dengan itu terlebih mereka tahu bahwa bukan hanya kerabat bisnis keluarga Mark saja yang ada disini tapi diluar negeri juga banyak.
Ini berjalan dengan sangat lancar dan satu step lagi berjalan Mark akan berakhir Bahagia, semoga.
Tanggal pernikahan pun sudah disepakati, perjalanan menuju hari H hanya memakan waktu tiga bulan saja, dan itu pasti akan membuat Y/n dan Mark sangat sibuk untuk mengurus keperluan pernikahaan mereka.
Kedua pihak orang tua membebaskan Mark dan Y/n untuk mengatur semuanya sendiri, tidak dengan yang di New York karena itu akan diurus full oleh Sofia—ibunda Mark.
Sedangkan ibu Y/n dia akan mengantur seragam untuk keluarga yang ada disini.
Hari ini Mark akan menemani Y/n untuk pergi melihat-lihat undangan dan beberapa dekor untuk pernikahan mereka.
"Aku udah di bawah Sayang." Mark memberitahu Y/n bahwa dia sudah ada di depan kantor kekasihnya itu untuk bertemu dengan orang WO.
Setelah mendapatkan jawaban dari Y/n, Mark menutup sambungan telponnya. Setiap hari mereka selalu pergi bersama untuk bertemu dengan beberapa orang yang akan berpartisipasi dalam pernikahan mereka.
"Sori, lama." Saat Y/n sudah masuk kedalam mobil kekasihnya itu, lalu segera menarik seatbelt untuk digunakan.
Mark tersenyum lalu menggeleng samar. "Enggak kok." Dia memberikan satu cup minuman yang sempat dia beli didepan kantornya.
"Makasih." Y/n menerima itu dan mulai meminumnya. "Kamu udah pikirin mau kaya gimana konsepnya?" Tanya Y/n saat mobil Mark sudah melaju jauh dari halaman kantor.
Mark melirik Y/n sekilas. "Belum kepikiran sih, aku mau liat-liat referensi dulu. Kamu udah ada?" saat membahas tentang pernikahan ini Mark selalu menghindari kata 'terserah' dia berusaha untuk membalas pertanyaan Y/n dengan hati-hati, karena dia tahu hal ini sangat sensitive untuk para wanita.
"Aku udah kepikiran sih."
"Apa?"
"Konsep shabby chic, gimana menurut kamu?"
Mark sempat berpikir sebentar lalu mengangguk. "Boleh kok, bagus itu."
"Nanti warna bisa diganti ke white-cream atau apa gitu sesuai warna kesukaan kamu." Jelas Y/n.
Ini yang selalu Mark suka dari Y/n, ia tidak akan memutuskan semuanya hanya dengan keinginannya saja ia selalu mau Mark terlibat semua dari apapun itu.
"Warnanya nanti bisa kita pikirin lagi setelah liat konsepnya ya." Mark mengulurkan lengannya hanya untuk mengusap pipi kekasihnya itu.
***
Sekitar jam satu siang pertemuan dengan orang WO dan undangan sudah selesai, mereka juga sudah memilih yang akan di pakai saat pernikahan nanti. Selanjutnya gaun dan tuxedo yang akan Mark datangin dengan Y/n setelah sepulang kerja nanti, bagian ini pasti cukup sulit karena harus ada pengukuran terus berulang sampai hari H pernikahan dan pakaian yang digunakan sudah sempurna.
Mark sudah kembali mengantar Y/n kembali ke kantornya karena ia hanya akan mendapatkan waktu 1 jam sebelum istirahat setelah itu istirahat dan mereka mengejar waktu dua jam itu untuk bertemu beberapa orang, beda dengan Mark dia akan bebas kembali ke kantor jam berapa.
Masalah karting di urus sepenuhnya dengan ibu, Y/n dan Mark hanya akan datang untuk mencicipi saja.
Dan yang hampir ketinggalan adalah souvenir, hal ini tentunya sudah masuk list Y/n tapi sepertinya wanita itu belum mengatakannya pada Mark.
Kalau bisa di prediksi semua persiapan ini akan lebih cepat dari dugaannya. Mungkin bisa kurang dari satu bulan atau satu bulan lebih dikit.
"Siang pak, meeting bulanan sudah siap pak." Sapa Bella sekaligus memberitahu Mark tentang jadwalnya hari ini.
"Ohiya, nanti saya kesana." Dia berjalan ke ruangannya terlebih dahulu.
Selang beberapa menit Mark keluar setelah mengabari Y/n bahwa dia sudah berada di kantor.
Saat masuk kedalam ruang meeting suasana ruangan sudah sangat ramai, ada beberapa manajer yang hadir.
Mark duduk lalu mempersilahkan meeting sudah bisa di mulai.
Hampir dua jam berlalu meetingpun akhirnya berakhir, Mark berjalan keluar terlebih dahulu sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan setengah empat sore. Dia akan menghabiskan waktu setengah jam untuk bekerja di ruangannya dan kembali menjemput Y/n.
***
Y/n dan Nina turun ke lobi bersama saat jam bekerja sudah berakhir, mereka berdua berjalan sejajar untuk sampai di depan gedung walaupun ia tahu bahwa Mark masih di dalam perjalanan tapi menunggunya di depan gedung tidak terlalu buruk.
Dipertengah lobi suara Tasya memanggil namanya membuat Y/n dan Nina menoleh bersama kesumber suara, lalu dengan langkah cepat Tasya meninggalkan meja resepsionis menghampiri mereka berdua.
"Ini ada titipan atas nama lo mbak." Jelas Tasya memberikan bucket bunga mawar yang sudah di susun rapih dari florist.
Y/n menerima itu walaupun dengan wajah kebingungan. "Buat gue? Dari siapa?"
"Pacar lo mungkin." Sahut Nina yang daritadi hanya diam memperhatikan, sementara Tasya hanya mengangguk ragu.
"Itu tadi yang anter kurir sih." Ujar Tasya memberitahu.
Y/n mengangguk sebagai jawaban, dia tidak ambil pusing lagian sehabis ini dia akan bertemu dengan Mark dan nanti dia akan tanyakan langsung.
Tepat saat percakapan mereka usai mobil Mark sudah tiba di depan pintu lobi dan itu membuat Y/n berburu pamit meninggalkan Nina dan Tasya.
"Maaf banget lama, tadi macet di depan kantorku." Ujar Mark saat melihta Y/n sudah duduk di sebelahnya.
"Enggak apa-apa, aku tadi di temenin Nina sama Tasya."
Mark tersenyum lalu mengangguk, lengannya terulur memegang pipi Y/n. "Bunga dari siapa?" Tanyanya saat melihat di pangkuan Y/n ada bucket bunga.
Y/n membulat matanya menatap Mark tidak percaya, lalu ia diam beberapa saat kalau ini bukan dari Mark terus dari siapa tanyanya dalam hati.
"Pake seatbeltnya dulu." Gumam Mark masih dengan melihat wajah kebingungan Y/n.
Y/n menaruh bucket bunga itu di jok belakang, lalu menarik tali seatbeltnya.
"Hari ini aku sibuk banget jadi enggak mungkin kirim bunga ke kamu." Jelas Mark memberitahu kebingungan Y/n.
"Aku enggak tahu, itu di titip di resepsionis." Ujarnya.
Mark mengangguk singkat lalu melajukan mobilnya keluar dari pelataran kantor Y/n bergabung dengan mobil lain. Perjalanan menuju butik memakan waktu 30 menit dari kantor Y/n, hal ini akan memakan waktu yang lama jadi Mark berinsiatif membelokan mobilnya untuk mendrive thru direstoran cepat saji.
Setelah sudah selesai mendapatkan makanan yang mereka mau, Mark kembali melajukan mobilnya.
"Kamu marah?" Tanya Y/n saat sudah membuka satu bungkus burger dari dalam bungkusnya dan memberikannya pada Mark untuk di makan lelaki itu.
Mark menoleh sekilas. "Aku marah kenapa Sayang?" tangannya menerima burger itu.
"Masalah bunga." Dia sedikit menyesal membawa bunga itu kehadapan Mark saat tahu bukan lelaki itu yang memberikannya.
Mark mengelus rambut Y/n. "Enggak apa-apa, kamu juga enggak tahu kan dari siapa." Padahal di dalam buluk hatinya dia hampir penasaran siapa yang berani-berani mengirim bunga ke kekasihnya itu.
•••
Ada yang bisa tebak Y/n dapat bunga dari siapa?
KAMU SEDANG MEMBACA
First Sight || Mark Lee NCT
FanfictionKisah tentang Mark Lee yang sudah empat tahun menyukai (Yourname), hanya dengan senyum manis perempuan itu mampu membuat hatinya kembali merasakan cinta. Akankah Mark dan (Yourname) bersama?
