Mark memindahkan Y/n ke kamar tamu, dia tidak mungkin membangunkan kekasihnya itu saat lelah sehabis menangis.
Langkahnya teranyun menunju kamarnya lalu berjalan ke arah meja kerja miliknya yang disana masih ada bunga yang sudah layu itu, Mark mengambil bunga itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Dia sudah tau pengirim bunga ini sehari setelah kejadian.
Pagi itu Mark menghubungi Johnny temannya dia tahu bahwa Sabrina istri Johnny sangat menyukai bunga dan berkat Sabrina Mark jadi tahu bunga itu di antar dari Florist mana setelah menemukan nama florist dia meminta data yang mengirim bunga ke Y/n hari itu dan nama Dave tertera.
Hari itu yang ada dipikiran Mark mungkin ini salah satu teman lama Y/n, tapi malam ini dia tahu bahwa lelaki itu lebih dari sekedar teman dan setelah mendapatkan mengakuan dari Y/n membuat Mark sedikit kesal.
Dia tidak tahu kenapa menjelang kepernikahannya ini harus ada seseoarang yang muncul dari masalalu kekasihnya itu. Apalagi bisa membuat Y/n trauma pada masalalunya.
***
Sekitar jam 8 pagi Mark terbangun dari tidurnya walaupun semalam tidurnya terasa tidak nyenyak dan selalu terjaga.
Dengan langkah lugai Mark turun kelantai bawah lalu berjalan mendekati meja bar untuk menuangkan air putih dan meminumnya.
Lalu dia berjalan mendekati kamar tamu, membuka pintunya pelan dan menghembuskan nafas lega saat melihat Y/n masih tidur disana. Semalam dia selalu takut bahwa jika pagi ini tidak menemukan Y/n dikamar tamu dia harus bagaimana.
Mark kembali berjalan mendekati Pantry, menuangkan susu dalam mangkuk disusul dengan sereal, dia tidak akan berinisiatif memasak untuk kekasihnya itu karena dia tahu keterampilannya dalam memasak itu sangat buruk.
Jadi dia akan menyajikan sereal saja.
Mark membawa mangkuk itu kedalam kamar Y/n dan terkejut saat kekasih itu sudah bangun.
"Udah bangun?" Tanya Mark melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.
Y/n mengangguk sebagai jawaban, matanya masih terasa menganjal berkat menangis semalam.
"Sarapan." Mark menaruh mangkuk itu di meja samping tempat tidur.
Y/n hanya diam memeperhatian pergerakan Mark. Sementara yang di perhatikan menjadi salah tingkah walaupun ini bukan waktu yang tepat untuk mengeluarkan ekpresi seperti itu.
Mark mengulurkan lengannya mengelus kepala Y/n pelan. "Sarapan, habis itu kita siap-siap ke bandara."
Sedangkan Y/n hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu setelah melihat respon Y/n seperti itu Mark keluar untuk ikut bersiap-siap juga.
Setengah jam siap-siap Y/n keluar kamar lalu berjalan mendekati Mark yang sudah menunggunya diruang tengah.
"Ayo." Mark tersenyum saat melihat Y/n menghampirinya lengannya pun diulurkan, sedangkan Y/n hanya diam berjalan melewati Mark menuju pintu depan.
Pikirnya bagaimana bisa Mark tetap besikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa semalam, padahal semalam dia sudah mengakui semuanya.
Selama perjalanan menuju bandara terasa hening, Y/n terus menatap kearah luar jendela tanpa mau menolehkan sedikitpun menatap Mark yang duduk disampingnya.
***
Selama didalam perjalan menuju New York, Y/n benar-benar bungkam. Sepenglihatan Mark dia terus diam seperti sedang berpikir, dan Mark tidak bisa menerka apa yang Y/n pikirkan.
Kenapa Y/n harus terus berpikir disaat Mark sudah siap menerima masalalu Y/n dengan baik.
Selama hampir 25 jam dalam perjalanan Y/n pakai untuk tertidur, dia terlalu lelah dengan semua pikiran yang berputar-putar pada kepalanya.
Walapun sesekali dia merasakan tangan Mark yang menggengamnya erat lalu membenarkan uraian rambut yang menutupin wajah, mengelus pipinya. Y/n bisa merasakan itu, tapi dia terlalu lelah hanya untuk membuka mata saja.
Semuanya terlalu sulit untuk diterimanya saat ini, seketika dia bimbang dan ragu untuk melanjutkan semuanya. Bisakah dia membuat Mark senang atau malah sebaliknya.
Setelah perjalan yang panjang akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, Mark langsung menarik lengan Y/n tanpa persetujuan terlebih dahulu dari pemiliknya dia berjalan mendekati mobil jemputan yang disediakan oleh orang tuanya.
Y/n pikir Mark akan mengantarnya kehotel langsung tapi rupahnya tidak dia membawa dirinya kerumah orang tuanya.
Saat turun dari mobil Y/n dan Mark sudah disambut oleh kedua orang tua Mark, ini ada pertemuan pertama setelah acara lamaran itu.
Y/n langsung di peluk oleh Sofia ibunda Mark, dan membawanya masuk kedalam rumah. Makan siang pun sudah di sediakan dengan begitu banyak padahal mereka hanya berempat dirumah ini.
"Lama ya di pesawat, cukup melelahkan Y/n?" Kata Om Henry, ayah Mark.
Y/n tersenyum. "Lumayan, Om."
"Loh kok panggil Om sih, panggil Papa aja." Balasnya lagi membuat Y/n terkejut dan melirik kearah Mark sedangkan Mark hanya mengangguk pelan.
"Iya Sayang, mulai sekarang panggil kami Mama sama Papa." Tambah Tante Sofia dengan senyum manis.
Y/n tersenyum lalu mengangguk.
"Habis ini Mark antar kamu ke hotel ya, Mama sudah pilih hotelnya dekat sama rumah kita." Ujar Sofia lagi.
Y/n bergumam berkata terima kasih.
Setelah makan siang selesai, Mark benar mengantar Y/n menuju hotel yang benar tidak jauh dari perumahan mereka hanya keluar dari area perumahan sudah terlihat gedung-gedung tinggi.
Rumah kedua orang tua Mark benar-benar dekat dengan jalan utama New York, jadi bisa dibayangkan berapa harga rumah itu ketika dijual. Dan sebenarnya Y/n sudah tidak kaget saat Mark menjadi kekasihnya seberapa kaya keluarga mereka.
"Besok jam 10 pagi, aku jemput kita mulai fitting. Nanti aku jemput saat makan malam." Ujar Mark saat menaruh koper didekat kursi.
Y/n mengangguk. "Makasih."
"Mau aku temenin disini?" Tawarnya.
Y/n menggeleng. "Aku butuh istirahat."
Mark menatap Y/n sesaat lalu mengangguk ragu, dia mendekatkan dirinya pada tubuh kekasih itu dan memeluknya. Setelah itu Mark menjauhkan kembali tubuhnya, "Kalo ada apa-apa kabarin ya." Dia mulai melangkah menuju pintu.
Saat Mark sudah pergi Y/n berjalan menuju kamar yang pemandangannya langsung kearah jalan New York, dilihat dari atas semuanya terasa indah dan nyaman tidak heran semua orang memang selalu ini ke kota ini.
Y/n tersadar dari lamunannya saat deringan dari balik ponselnya, dia menyergit bingung saat ada nomor yang tidak dia kenali sebelumnya.
Tanpa ragu Y/n mengeser icon telpon itu lalu sambungan terhubung.
"Halo."
"Hai." Sapa seseorang diseberang sana.
Y/n sempat tertegun beberapa saat. "Dave..."
"Iya, it's me."
Y/n langsung mematikan sambungan telponnya tanpa seseorang diseberang sana berkata lebih banyak. Dia menatap layar ponselnya yang kini mulai redup tapi satu notifikasi pesan muncul.
0812 xxx
Aku perlu jelasin kekamu, Y/n.
Engga perlu
Tapi kamu harus tau yang sebenarnya.
Aku engga mau tau
Aku mohon, setelah ini aku engga akan ganggu kamu.
Aku engga di Jakarta
Aku dilobi hotel kamu
New York, pacific hotel
I'll wait
Y/n menatap kearah pintu kamar, haruskan dia bertemu dengan Dave? Atau biarkan lelaki itu terus menunggunya.
Kebimbangan menghantui dirinya, dia saja masih bisa berpikir untuk ragu melanjutkan pernikahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
First Sight || Mark Lee NCT
FanfictionKisah tentang Mark Lee yang sudah empat tahun menyukai (Yourname), hanya dengan senyum manis perempuan itu mampu membuat hatinya kembali merasakan cinta. Akankah Mark dan (Yourname) bersama?
