Sinar matahari yang masuk dari sela-sela ventilasi jendela membangunkan perempuan yang sedang terlelap lelah, matanya terbuka secara berlahan guna menetralkan penglihatannya.
Ketika sudah sepenuhnya sadar Y/n menarik selimut untuk menutup dirinya sambil melihat sekeliling kamar yang terasa begitu asing baginya, lalu semua pikiran aneh masuk kedalam otaknya.
Y/n membuka selimutnya dengan terburu memastikan sesuatu, dan helaan nafas kasar membuatnya lega karena pakaian yang semalam dia gunakan masih lengkap.
Dia tidak ingat apapun tentang semalam, dia hanya mengingat semalam dia pulang dari rumah Mark dengan perasaan kecewa pada dirinya sendiri lalu dia mencoba untuk minum untuk melupakan sejenak masalahnya. Hanya itu, karena setelahnya dia tidak ingat apapun.
Kepalanya masih pening tapi dia mencoba bangun dari tidurnya, berjalan keluar kamar dengan perlahan dan melihat sekeliling rumah membuatnya lega karena dia tahu sekarang ada dimana.
Rumah Mark.
Y/n berjalan menuju pantry tapi saat melewati ruang keluarga dia melihat pintu kamar Mark masih tertutup rapat, mungkin pria itu masih terlelap dalam tidurnya.
Saat di pantry dia menuangkan air untuk diminumnya, lalu matanya fokus pada satu kotak box makanan yang ada di atas meja makan. Y/n berjalan mendekat dan melihat kotak itu, didalamnya terisi beberapa makanan jenis seafood yang seharusnya semalam mereka makan tapi tidak jadi dan dibiarkan begitu saja, berarti semalam Mark tidak memakan pesanannya itu.
Dengan rasa bersalahnya Y/n mulai membuka isi kulkas dan melihat ada bahan masakan apa saja disana, tapi yang dia lihat hanya ada beberapa bahan masakan yang tersisa tidak banyak jadi dia berpikir akan menghemat bahan itu untuk mengelola makanan yang layak.
Y/n kembali berjalan menuju meja makan, membawa box makanan itu dan membuangnya. Dan dia mulai memasak.
Setelah hampir satu jam Y/n menyelesaikan masaknya, dan mulai menata makanan yang dia masak. Dan jadi sop Ayam dan telur dadar, karena hanya ada itu yang ada di dalam kulkas Mark.
Y/n melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sekarang sudah pukul 7 jadi memutuskan untuk segera pulang, karena bisa jadi semalam orang tuanya khawatir pada dirinya.
Setelah keluar dari kamar tadi mengambil tas miliknya, Y/n diam beberapa saat menatap kamar Mark yang masih tertutup rapat. Ada perasaan bersalah pada pria itu, tapi dia juga sepertinya butuh waktu untuk menenangkan dirinya juga.
***
Gerakan gelisah pada tubuhnya membuat dirinya membuka mata secara perlahan, dia melirik sekilas kamarnya dan saat melihat matahari sudah naik diatas rumahnya membuat Mark menyibakan selimutnya.
Dengan langkah terburu Mark berjalan menuruni anak tangga lalu melangkahkan kakinya menuju kamar tamu.
Saat tida dikamar tamu Mark mengatur nafasnya sesaat, dengan hati-hati dia mengetuk pintu itu tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Jadi Mark memutuskan untuk membuka pintu itu secara perlahan. Kepalanya sudah dia timbulkan setengah dan melihat sekeliling kamar yang sudah rapih membuat Mark membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Mark berjalan masuk lebih dalam dan melirik kearah kamar mandi, tidak menunjukan ada tanda-tanda seorang disana.
Helaan nafas kasar dia buang begitu saja dengan perasaan kecewa dan berjalan mendekat kearah tempat tidur, lalu dia menyipitkan matanya saat melihat ada secarik kertas disana.
Mark mengambilnya lalu mendudukin dirinya pinggir tempat tidur. Dan membaca tulisan yang ada di secarik kertas itu.
"Aku enggak tahu semalam kenapa aku bisa sama kamu lagi, tapi aku bersyukur kamu orangnya. Mark maaf, rasanya terlalu sulit. Mungkin kita butuh waktu, jaga kesehatan ya."
Tulisan itu terlihat jelas bahwa memang benar Y/n akan menghidari Mark lagi, tapi semoga waktu dua tahun lalu tidak terulang lagi.
Dengan langkah lugai Mark berjalan keluar kamar, langkahnya berjalan menuju pantry tapi saat di meja makan. Dia melihat ada makanan yang sudah disediakan, Mark melewati meja makan, berjalan mendekat kearah meja bar menuangkan air putih untuk dia minum, matanya menyelisik setiap sudut rumah.
Lalu dengan suara khas bangun tidur, Mark memanggil seseorang. "Budeh." Panggilnya pada asisten rumah tangganya. "Budeh." Panggilnya sekali lagi, tapi tidak ada jawaban apapun dan terasa hening.
Mark kembali mendekat kearah meja makan dengan rasa penasaran, semakin mendekat di balik piring ada secarik kertas. Dan Mark menariknya dengan perlahan.
"Maaf semalam menggacaukan acara makan malam kita, ini penebusan dosa. Jangan lewatkan makan Mark, selamat makan."
Walaupun masih ada sisa rasa kecewa, Mark mampu menyingungkan senyumnya berkat makanan yang Y/n masak untuknya.
Selama makan tadi Mark hanya diam sambil memikirkan hubungan dengan Y/n, apa yang selanjutnya yang dia akan alami lagi? Walaupun sudah bersama setelah dua tahun lalu atau walaupun Mark sudah mengenal Y/n sejak pertama kali mereka berkencan sampai sekarang Mark tidak bisa membaca pikiran kekasihya itu, ia masih terlihat misterius dimata Mark. Ditambah lagi setelah perpisahan mereka, Mark sadar bahwa semua yang ada diri Y/n berubah, bahkan sampai saat ini dia tidak pernah mendengar pernyataan sayang yang keluar dari bibir Y/n.
Mark berjalan mondar mandir di kamarnya dengan ponsel yang dia genggam dan setelah ini dia harus merelakan hari-harinya yang tidak akan mendengarkan kabar Y/n.
Tapi semua ini memang salah dirinya juga.
Kenapa dari awal tidak mendengarkan kata Y/n untuk tetap melanjutkan terapinya, tapi kenapa dia malah membohongi Y/n dengan membuat report palsu.
Mark mengacak-acak rambutnya kesal, rasanya menyesal akan terus menyelimutinya.
***
Suara roda besi dari balik pagar membuang Y/n membalikan badannya melihat kearah sana, muncul Jisung disana dengan pakaian santai sambil berusaha memasuki motornya ke dalam carport.
"Habis darimana kamu?" Tanya Y/n yang tadi niatnya ingin masuk kedalam rumah dia urungkan untuk menunggu Jisung memarkirkan motor.
"Abis dari taman." Jisung menarik standar besi untuk menyangga kendaraan roda dua itu. "Kakak baru balik?" ujarnya sambil berjalan kearah Y/n berdiri.
Y/n mengangguk dan membuka pintu utama rumah mereka disusul dengan Jisung dibelakangnya.
"Kok tumben sampe lembur gitu." Ucap Jisung yang sekarang sudah berdiri dibelakang meja bar untuk mengambil air dingin.
Dahi Y/n menyergit dalam saat mendengar kata lembur pada bibir Jisung, seingatnya semalam dia tidak mengabari apapun pada orang rumah. Jadi siapa yang menelpon kerumahnya dan mengatakan bahwa dirinya lembur, Y/n menggelengkan kepalanya karena tidak mungkin Mark yang menelpon kerumahnya karena hampir semua orang didalam rumahnya sudah mengenali suara Mark ketika di balik telpon.
"Kak?" panggil Jisung, tanpa sadar sekarang Jisung sudah berdiri di depan dirinya dengan wajah bingung.
"Eh, iya. Kemarin ada laporan yang harus diselesai." Jelas Y/n, "Ayah sama ibu kemana?" Tanya Y/n mengalihkan topik pembicaraan.
"Pergi, tapi aku enggak tahu kemana." Jisung menaikan kedua bahunya, "aku ke kamar dulu ya kak, capek banget nih."
Y/n mengangguk setelah Jisung sudah berlalu menuju kamarnya, dia juga berjalan menuju kamarnya juga. Saat tiba dikamar dia lempaskan tubuhnya disana, tapi dia masih bingung siapa yang menelepon kerumahnya semalam.
•••
ini kentang bgt sih, tapi janji bakal cepet update.
selamat hari libur~
KAMU SEDANG MEMBACA
First Sight || Mark Lee NCT
FanfictionKisah tentang Mark Lee yang sudah empat tahun menyukai (Yourname), hanya dengan senyum manis perempuan itu mampu membuat hatinya kembali merasakan cinta. Akankah Mark dan (Yourname) bersama?
