FS || 12

1K 85 6
                                        

Ini sudah satu bulan sejak menerima telpon dari Y/n, Mark semakin sulit focus untuk dirinya bahkan dia sudah tidak datang kekantornya selama dua minggu ini. Kata-kata Y/n selalu berputar-putar di benaknya.

Aku pastikan kamu tidak akan bisa menemuiku.

Ayo kita jalanin hidup ini masing-masing.

Tidak ada lagi yang harus aku ucapkan selain selamat tinggal.

Kata-kata itu selalu muncul di benak Mark, semakin hari semakin sering dan itu membuat Mark pening lalu yang dia lakukan untuk melupakan hal itu dengan memejamkan matanya karena selain kalimat itu tidak muncul lagi, bayangan Y/n selalu hadir didalam tidurnya.

Selama dua minggu ini Mark hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, menidurkan tubuhnya agar bisa bertemu dengan Y/n lagi dan lagi. Bahkan dia sudah tidak berkomunikasi lagi dengan teman-temannya ponselnya dia biarkan saja tergeletak di meja kerjanya.

Mark terbangun saat ada tangan yang membelai pipinya, tangan lembut yang Mark kenali. Lalu Mark membukakan mata yang dia lihat sekarang Y/n benar-benar ada didepannya dengan senyum manis seperti di foto ponsel miliknya.

"Sayang kamu disini?" Tanya Mark kaget dan langsung mendekap tubuh Y/n. "Aku kangen banget sama kamu."

Y/n hanya tersenyum membalas pelukan Mark. Mendengar suara pintu rumah terbuka, Mark membawa Y/n masuk kedalam kamar mandinya untuk bersembunyi lalu Mark berpura-pura untuk kembali tidur.

Lalu suara panggilan papa terdengar begitu keras di rumah yang besar ini, pria paruhbaya itu berjalan ke kamar Mark disusul dengan suara langkah Mama yang mengikuti.

Pintu kamar terbuka lebar, sosok Papa berdiri dengan gagah di depan pintu sambil menatap kearah tempat tidur Mark.

"Mark Lee!" panggil Papa langkahnya mendekati ranjang.

"Mark, bangun." Papa mengoyangkan lengan Mark, membuat si pemilik tubuh itu terbangun dengan mengucek matanya lalu menatap Mama dan Papa.

"Apa yang kau lakukan selama ini Mark? Kau meninggalkan kantor begitu saja." Ujar Papa begitu keras tapi Mark hanya diam menatap Papa sambil mencuri-curi pandangan kearah pintu kamar mandi.

Mark menggaruk lehernya. "Aku tidak enak badan, Pa."

"Kau sakit, Sayang?" Mama berjalan mendekat kearah Mark memegang dahi putranya itu untuk mengecek suhu tubuh Mark.

"Kalau kau sakit, kau harus telpon ke kantor jangan hilang begitu saja." Ujar Papa memperhatikan Mark yang daritadi terus mencuri pandang kearah kamar mandi.

Papa menyergitkan dahinya lalu melirik kamar mandi. "Apa yang kau sembunyikan disana?" Papa menunjuk kamar mandi Mark. Dan Mama ikut menoleh kearah kamar mandi.

"Tidak." Mark menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak ada."

Papa makin curiga dengan reaksi Mark, pria paruhbaya itu mendekat kearah kamar mandi. Loncatan Mark dari tempat tidur semakin membuat Papa curiga.

"Aku tidak menyembunyikan apapun." Mark mencegah Papa untuk membuka pintu kamar mandi.

Papa melipat kedua lengan menatap Mark. "Kalau tidak ada yang kau sembunyikan, buka pintu itu." Suruh Papa.

Mark kaget mendengar perkataan itu dari Papa, lalu melirik pintu kamar mandi.

"Atau biarkan Papa yang buka pintu ini." Papa sudah membuka handle pintu itu dan melihat ke sekeliling kamar mandi tidak ada siapaun disana.

Sementara Mark masuk ke dalam kamar mandi dengan keadaan cemas. "Y/n sayang, kamu enggak apa-apa kan?"

Papa dan Mama menatap Mark dengan tatapan bingung, melihat keadaan putra seperti itu.

First Sight || Mark Lee NCTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang