Dua jam berlalu Y/n hanya diam sambil menatap Mark yang sudah tertidur pulas, tangan pria itu masih menggenggam erat tanganya. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menatap Mark sudah tertidur, Y/n tersadar bahwa kepergiannya ini membawa dampak buruk untuk Mark, Awalnya Y/n pikir Mark akan bahagia saat bersama Momo karena mereka berdua adalah sahabat dari kecil tapi saat bertemu Mark kali ini semuanya berubah.
Y/n merasa lapar karena belum makan apapun dari siang tadi dan sekarang sudah menunjukan pukul 9 malam, di kamar Mark banyak sekali makanan tapi Y/n ingin mencari makanan yang lain. Jadi dia mencoba melepas tangannya dari tangan Mark secara perlahan saat tautannya sudah selesai Y/n menatap Mark sekilas memastikan bahwa Mark akan tetap tertidur sampai dia kembali lagi kesini.
Y/n berjalan menuju kantin rumah sakit dan memesan kwetiau goreng saat tiba disana, dia sebenarnya ingin memakan di tempat tapi itu akan memakan waktu yang lama jadi Y/n membungkus makanan itu dan akan memakannya saat sudah tiba di kamar Mark nanti.
Saat keluar dari elevator di lantai 5, Y/n berjalan melewati lorong rumah sakit yang sudah lumayan sepi karena sekarang juga sudah malam jadi jarang orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit terlebih lagi kamar rawat inap Mark dengan kelas VVIP yang makin membuat lorong kelihatan sepi.
Saat membuka pintu kamar Mark, Y/n sudah di kagetkan dengan seseorang yang berdiri didepannya. Untungnya dia tidak mempunyai penyakit jantung bisa-bisa dia mati di tempat.
Mark berdiri didepannya masih dengan selang infus yang melingkar di tangannya.
"Astaga, kamu mau ngapain?" tanya Y/n kaget sekaligus heran.
Mark hanya diam menatap Y/n lalu berjalan memeluk dirinya. "Kenapa?" tanyanya lagi.
"Aku takut." Gumam Mark. "Aku takut kamu pergi."
"Mark." Y/n mendorong tubuh Mark. "Aku hanya ke kantin beli makan. Enggak usah berlebihan gitulah." Lalu melangkahkan kakinya menuju sofa meninggalkan Mark yang masih diam di tempat.
"Kamu harusnya bangunin aku, biar aku temanin kesana." Ujarnya saat sudah duduk di depan Y/n.
Y/n tidak menjawab pertanyaan Mark, dia membuka makanannya. "Mau?" Tawarnya.
Mark menggeleng.
Y/n melanjutkan makanannya tanpa memperdulikan bahwa dia sedang di tatap dengan pria itu, setelah makanannya selesai Y/n membereskan sisanya lalu menatap ikut menatap Mark.
"Kamu segitu takutnya aku pergi?" Y/n berucap saat mata mereka bertemu.
"Iya." Jawab Mark.
"Lalu kenapa saat itu berani main di belakangku." Gumamnya, karena setelah bertemu Mark yang pria itu ucapkan hanya takut, takut dan takut dan itu membuat Y/n muak dengan kata itu. "Bukannya aku sudah pernah bilang, aku enggak suka pria yang berselingkuh?"
"Aku juga enggak suka pria yang tidak menghargai wanita. Dan kamu sudah melanggar semua yang aku enggak suka." Dia menggelengkan kepalanya.
"Lalu saat aku bilang, aku akan pergi jika kamu ketahuan mengkhianatiku. Bukankah itu ucapan tersirat dengan ancaman?" Y/n menaikan sebelah alisnya.
Y/n tidak ingin mendapatkan jawaban apapun dari Mark, karena dia mengatakan itu hanya ingin mengungkapan kekesalannya pada Mark. Lalu dia berdiri menghampiri pria itu memegang punggung Mark.
"Yaudah yuk, sekarang waktunya tidur."
Mark hanya diam mengikuti Y/n. setelah mendengar semua yang di ucapkan Y/n tiba-tiba saja bibir Mark terasa kelu. Saat Mark sudah tidur di ranjangnya, Y/n mengelus dahi Mark lalu berkata. "Aku harap setelah ini keadaanmu semakin membaik."
"Y/n?"
Y/n hanya bergumam sebagai jawaban.
"Kamu masih belum bisa maafin aku ya?"
Y/n terdiam beberapa saat tangannya masih terus menusap dahi Mark. "Kita selesaikan masalah ini setelah kamu keluar dari rumah sakit."
***
Matahari bersinar begitu terang sampai-sampai masuk ke ruang inap Mark, Y/n terbangun dari tidurnya semua tubuhnya terasa pegal akibat tidur di sofa. Saat kantuknya sudah benar-benar hilang Y/n berjalan menuju toilet untuk mencuci wajahnya sebelum itu dia melirik ke tempat tidur Mark, pria itu masih tertidur pulas di ranjangnya.
Y/n mengelap wajahnya dengan tisu yang ada di meja, lalu berjalan kearah tempat tidur Mark. Dia menatap wajah damai Mark saat tidur tapi saat sudah bangun nanti wajah damai itu berubah menjadi kekhawatiran. Sejujurnya melihat keadaan Mark yang seperti ini Y/n juga sedih tapi dia tidak juga bingung dengan hatinya sendiri apakah dia masih mencintai Mark atau karena rasa kasian aja.
Mark terbangun saat Y/n mengelus pipinya, lalu pria itu tersenyum saat ada Y/n di depan matanya.
"Bangun sejak kapan?" Tanya Mark.
"Baru aja kok." Gumamnya. "Temanmu akan kesini kan?"
"Aku enggak tahu." Mark menggeleng.
"Hari ini aku harus pulang, aku enggak bisa di sini terus nemenin kamu." Saat mendengar ucapan itu senyum di bibir Mark tiba-tiba luntur. "Aku harap kamu akan segera sembuh dan bertemu lagi denganku dirumah."
"Kamu mau bertemu denganku lagi?" Tanya Mark tidak percaya, Y/n mengangguk sebagai jawaban lalu senyum Mark kembali terukir kembali.
"Bahas masalah kita yang menurutmu belum selesai." Jelas Y/n.
***
Nyatanya sejak ucapan Y/n sebelum pulang dari rumah sakit itu membuat semangat Mark untuk bisa pulih lebih cepat itu terasa. Dalam dua hari tubuhnya benar-benar fit dan sekarang dia sudah boleh pulang kerumah.
Rasa tidak sabar ingin menjumpai Y/n terlalu mengebu-gebu, terbukti saat Doyoung menjemputnya, Mark langsung meminta lelaki itu untuk mengatarnya kerumah Y/n.
Jalan raya hari ini terasa padat dan Mark sampai rumah Y/n setelah hampir satu jam perjalanan.
Dengan rasa senang Mark berjalan memasuki pekarangan rumah Y/n, rumah yang sudah lama tidak dia kunjungi karena pemiliknya hilang seperti di telan bumi.
Pintu terbuka saat Mark mengetuk pintu itu sambil mencupkan salam.
"Loh Mark? Apa kabar?" Ujar Ibu saat melihat kehadiran Mark di depannya saat ini.
"Baik ibu." Balas Mark sambil terkekeh, bahkan senyumnya tidak luntur sedikitpun. Seperti tidak sabar menemui Y/n.
"Duduk." Ibu membawa Mark ke sofa ruang tamu. "Kamu sendiri kesini?"
Mark menggeleng. "Engga bu, sama temenku lagi nunggu di luar."
"Mau minum apa? Ibu ambilin dulu." Ibu baru saja ingin berdiri tapi ditahan oleh Mark.
"Aku mau ketemu Y/n bu."
Mendengar pernyataan Mark ibu sedikit terkejut. "Loh Y/n engga bilang ya sama kamu?" Tanya ibu yang membuat Mark menggerutkan dahinya.
"Kemaren pagi Y/n sudah pergi ke Bandung, ada urusan kampus katanya."
•••
Enaknya sad end or happy end ya? heheh
KAMU SEDANG MEMBACA
First Sight || Mark Lee NCT
FanfictionKisah tentang Mark Lee yang sudah empat tahun menyukai (Yourname), hanya dengan senyum manis perempuan itu mampu membuat hatinya kembali merasakan cinta. Akankah Mark dan (Yourname) bersama?
